TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 176


Semakin siang, udara juga semakin panas. Tapi yang namanya kota besar, meski belum terlalu siang, udara sudah cukup terasa panas. Bahkan keringat juga mulai becucuran jika berada di luar gedung meski berteduh sekalipun.


Selain panas karena, seorang pemuda juga saat ini merasakan hawa panas, saat telinganya mendengar bisikan menggoda dari wanita cantik yang menempel di sampingnya. Bahkan dari lengan kekarnya, dia merasakan sebuah benda kenyal yang besar tersembunyi di balik baju ketat yang dipakai wanita itu.


Jiwa laki lakinya meronta, ingin menikmati godaan yang sudah sangat meresahkan. Tapi jiwa setianya selalu menahan sekuat hati agar perbuatannya tidak mengecewakan seorang wanita yang selalu bersamanya.


Dialah Iqbal, si supir tampan yang selalu mendapat godaan dari dua wanita yang menjadi anak majikannya. Kini dua wanita itu sedang bersama. Kebersamaan yang tidak disengaja karena dua wanita itu tiba tiba datang ke kampus menemui adiknya.


"Kamu munafik banget ya, Bal," bisik Belinda dengan jari yang merayap dan mengusap dada bidang Iqbal yang tebungkus kaos ketat. Iqbal diam saja. Dia sungguh tak merespon apapun yang Belinda katakan. Dadanya bergemuruh. Sentuhan jari Belinda telah membangkitkan seseuatu yang sedang terkulai lemas.


"Atau jangan jangan kamu menyimpang ya, Bal?" tanya Belinda lagi sembari tersenyum genit dengan tatapan tak pernah lepas dari wajah Iqbal yang berpaling. Jari Belinda terus bergerak. Dan kini arah jarinya menyusuri bagian perut.


"Bang, Es nya satu," teriak Iqbal sembari memberi kode kepada pedagang es keliling agar mendekat. Sontak saja, Belinda langsung menghentikan aksinya. Belinda mendengus kesal. Usahanya gagal dalam menggoda Iqbal. Belinda segera bergeser menjauhkan badannya dari sisi Iqbal.


Iqbal sedikit tersenyum. Setidaknya usahanya berhasil untuk membuat Belinda berhenti melakukan hal yang memalukan di tempat umum. Meski area parkir itu sepi, tapi tidak sepantasnya Belinda bertindak memalukan di tempat terbuka seperti ini.


Setelah membeli es, Iqbal sengaja pergi dan duduk di bawah pohon yang letaknya di seberang jalan tempat mobil terparkir. Tentu saja, tingkah Iqbal membuat Belinda semakin geram.


"Awas kamu, Bal! Sebentar lagi kamu akan aku buat bertekuk lutut di hadapanku," gumam Belinda bersumpah.


"Nggak kebayang jika aku menikah dengan Karin, godaan dari mereka pasti semakin menjadi. Tapi Belinda dan Aleta memang cantik dan bikin ngiler, huft," gumam Iqbal.


Tak lama kemudian, jam kampus Karin pun telah usai. Terlihat Karin melambaikan tangannya ke beberapa temannya sebagai tanda perpiasahan.


Karin melangkah menuju mobilnya terparkir. Keningnya berkerut karena melihat Iqbal yang juga sama sama melangkah dari arah lain menuju mobil.


"Udah pulang, Rin?" tanya Belinda sembari mendekati Karin dan bersikap lembut.


"Sudah," jawab Karin singkat. Dia masih curiga dengan sikap kakaknya yang mendadak manis dan baik.


"Kita makan dulu, yuk, di sana. Sekalian ngobrol," ajak Belinda sambil menunjuk ke deretan rumah makan di seberang jalan depan kampus.


"Iya, yuk. Kebetulan kita lagi lapar nih," sambung Aleta. Mau tak mau, Karin pun menurutinya. Dia menatap ke arah Iqbal.


"Nggak usah ngajak Iqbal," ucap Belinda yang memahami tatapan Karin dan Iqbal. Karin pun pasrah karena tangannya di tarik oleh Belinda dan Aleta. Lagian, dia juga penasaran dengan apa yang akan dibicarakan kedua kakaknya.


Sementara Iqbal memilih masuk ke dalam mobil. Dia tidak keberatan sama sekali tidak di ajak makan, tapi dia khawatir dengan Karin. Dia takut, Belinda dan Aleta hanya pura pura baik saja.


Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, terlihat Karin dan kedua kakaknya keluar dari salah satu rumah makan yang ada disana. Tapi saat itu juga mereka berpisah. Mobil yang membawa kedua kakaknya telah datang, dan Karin melangkah menuju mobilnya.


"Lama ya, Bal? Maaf ya? Nih aku bungkusin buat kamu," ucap Karin begitu masuk sambil menunjukan kantung plastik berisi dua kotak makanan.


"Nggak apa apa, kan sudah tugas aku nungguin Non Karin," balas Iqbal sambil menyalakan mesin mobil kemudian melajukannya.


"Mereka berdua ngapaian, Non? Kok mendadak jadu baik gitu?" tanya Iqbal yang sudah sangat penasaran dengan apa yang Karin bicarakan dengan kedua kakaknya.


"Entahlah, Bal. Aku merasa curiga dengan ajakan mereka."


...@@@@@...