
Tak tenang. Itulah yang dirasakan Iqbal saat ini. Di depan sana, beberapa meter dari jarak mobil yang Iqbal kemudikan. Karin berada dalam satu mobil dengan kedua kakaknya. Bukannya merasa senang karena melihat mereka akur dan akrab, tapi sikap Belinda dan Aleta yang mendadak berubah menjadi baik, sangat mencurigakan.
Kecurigaan Iqbal memang tidak salah. Belinda dan Aleta memang sedang merencanakan sesuatu. Bahkan mereka minta bantuan Rio dan Candra. Dua pria itu tentu saja mendapat imbalan yang menggiurkan dari kedua kakak Karin tersebut.
Entah sandiwara apa yang akan mereka lakukan, tapi nyatanya sungguh miris. Hanya karena terobsesi dengan Iqbal dan rasa iri yang berlebih pada Karin, membuat Belinda dan Aleta gelap mata dan akan melakukan apa saja asal Iqbal bisa bersama mereka.
Mereka bahkan sampai membohongi Martin dan Amanda sedemikian rupa, hingga mereka dapat ijin pergi bertiga tanpa seorang supir. Tentu saja, Karin menjadi penyebab orang tua mereka memberi ijin. Bahkan Amanda dan Martin merasa senang dengan rencana anaknya. Mereka pikir, dengan pergi bersama, anak anaknya sudah pada akur sehingga mereka tidak khawatir dan menaruh curiga apapun.
Di dalam mobil yang Karin naiki, wanita itu lebih banyak diam daripada membuka suara untuk sekedar basa basi ngobrol bersama kedua kakaknya. Meski Karin tahu Iqbal mengikutinya dari belakang, tapi tetap saja, rasa khawatir menyelimutinya.
Belinda tampak fokus dengan kemudi mobilnya dan matanya sekali kali melirik ke arah spion tengah memperhatikan gerak gerik Selin. Belinda hanya tersenyum sinis saat Karin sedang berpaling ke arah lain. Sedangkan Aleta. Dia sembunyi sembunyi menghubungi Ria dan Candra sesuai rencana yang disusun Belinda.
"Kamu nggak ingin mampir kemana gitu, Rin? Kali aja pengin ke minimarket beli sesuatu," tanya Belinda basa basi.
"Nggak usah," jawab Karin pelan.
"Ya udah."
Sementara itu, Candra dan Rio juga sedang dalam perjalanan menuju ke tempat yang Belinda tunjukan. Mereka janjian akan ketemu di suatu tempat dan pura pura tidak sengaja ketemu agar Karin tidak curiga.
"Gila! Kakak adik begini banget ya? Heran aku. Bukannya saling menyayangi, ini malah saling menghancurkan," ungkap Candra yang duduk di sebelah Rio.
"Hahaha ... yang lebih membagongkan, mereka itu berebut supir, gila nggak?" timpal Rio. "Padahal hanya supir loh. Kok bisa mereka sampai segitunya?"
"Pakek pelet kali itu supir, sampe di kerubutin kakak beradik gitu?"
"Bisa jadi tuh, karena mereka kan dari kampung. Bisa jadi dia pake kayak gituan."
"Eh Ri, tapi, ketiga cewek itu, bisa di pakai, kan?"
"Kalau Belinda sih, aku udah pernah pake, enak banget punya dia. Menjepit banget. Kalau dua adiknya aku nggak tahu."
"Wah! Aku harus nyoba juga nih, nanti di lokasi, ada kesempatan buat make nggak, Ri?"
"Nggak tahu nanti. Kalau mereka nggak ngajak kita main dikamar, ya udah kita pake cara kita sendiri. Makanya, kita bawa obat perangsang. Lumayan kan kita dapat tiga cewek sekaligus."
"Sip! Kita juga harus memiliki rencana cadangan."
Sementara itu di sisi jalan yang lain, Iqbal masih fokus memperhatikan mobil yang membawa Karin. Iqbal juga selalu mengecek ponselnya agar tidak kehilangan jejak. Dengan berbekal aplikasi petunjuk arah yang Karin aktifkan, membuat Iqbal mudah memantau dan mengatur jarak agar tidak ketahuan.
Tiba tiba mobil yang dikendarai Belinda menepi dan berhenti di depan sebuah rumah makan.
"Kita makan dulu, aku lapar," ucap Belinda. Kedua adiknya pun menurutinya. Mereka turun dan bergegas masuk. Iqbal pun turut berhenti, tapi dia tidak turun dari mobil.
Beberapa menit kemudian, Iqbal melihat mobil terparkir di sebelah mobil Belinda, dan dua pria turun dari mobil itu. Iqbal masih ingat salah satu pria yang turun dari mobil tersebut. Dia pria yang bermusuhan dengan Jamal, sahabatnya. Iqbal pun tidak menaruh curiga sama sekali kalau dua pria itu sudah kerja sama dengan Belinda.
"Belinda! Aleta!" seru Rio.
"Loh, Rio!" balas Belinda.
Tentu saja mereka hanya akting di depan Karin. Pura pura tidak sengaja ketemu dan Belinda menawari Rio dan Candra untuk duduk bersama. Tentu saja mereka tidak menolak. Sudah terencana dengan baik.
"Kalian, ngapain disini?" tanya Rio basa basi.
"Mau ke puncak, Rio. Kami lapar, jadi kita mampir dulu ke sini," ucap Belinda.
"Loh? Kok sama? Aku juga mau ke puncak nih?" ucap Rio pura pura terkejut.
"Benarkah, wah! Kok bisa kebetulan gini yak?"
"Hahaha ... iya."
"Kalian cuma berdua?" tanya Belinda.
"Iya."
"Gimana kalau kalian gabung kita aja, biar makin seru."
Sontak Karin terkejut mendengarnya.
...@@@@@@...