TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 256 (Rizal)


"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, Zal?" tanya Andini. Pelan tapi terdengar menusuk.


"Maksud, Mbak?" tanya Rizal dengan raut wajah terlihat bingung.


"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan terus menjalani hubungan terlarangmu atau segera mengakhirinya?"


Deg!


Rizal tertegun, mulutnya terbungkam. Hanya tatapan matanya saja yang kini beradu pandang dengan tatapan sang kakak.


"Mbak, aku ..."


"Oh ya sudah, lanjutkan saja hubungan terlarang kalian. Tidak apa apa, mungkin karena keluarga kamu miskin. Kamu lebih memilih hubungan terlarang kamu dari pada menjaga perasaan keluargamu. Baiklah, Zal. silakan berbuat sesuka hati kamu," ucap Andini terdengar penuh kekecewaan. Sang kakak segera beranjak meningggalkan sang adik yang sangat terkejut melihat sikap kakaknya.


"Mbak, dengerin aku dulu. Mbak?" rengek Rizal. Tapi kakaknya tidak peduli, dia tetap berjalan menuju kamarnya.


Wajar jika sang kakak dan keluarga yang lain kecewa. Dalam pandangan mereka, Rizal sungguh membuat kesalahan yang sangat melukai mereka. Menghancurkan rumah tangga orang, siapapun pasti sangat kecewa dan tidak menginginkan hal itu terjadi.


Apalagi dimata mereka, orang yang berselingkuh kebanyakan biasa berkaitan dengan hubungan ranjang, makin kecewalah keluarga Rizal. Pemuda itu memang belum menceritakan semuanya, tapi tetap saja, perselingkuhan bukankah hal yang sangat tidak dibenarkan.


Rizal hanya bisa menatap kosong ke arah pintu kamar kakak dan orang tuanya. Dia terdiam, hatinya begitu gundah. Dengan langkah gontai, dia beranjak ke kamarnya. Tidak ada yang berubah dari kamar kecil miliknya. Rizal memilih berbaring karena merasa lelah badan dan juga pikiran. Akhirnya dia terlelap akibat rasa lelah dan rasa kantuk yang semakin memberatkan matanya.


Waktu terus beranjak maju, hingga tak terasa, kini pagi telah menjelang. Rizal terbangun disaat matahari sudah terlihat lumayan tinggi. Dia mengambil alat mandi dan segera keluar kamar untuk membersihkan diri.


Rumah terlihat sangat sepi. Meski kecewa, Rizal hanya bisa memakluminya. Apalagi dia tahu, sudah siang, pasti keluarganya sudah berangkat menjalankan aktifitasnya kecuali sang ibu.


Rizal melangkah gontai ke arah kamar mandi. Matanya menangkap sosok yang melahirkan dirinya sedang duduk di bangku kecil dengan pakaian kotor yang sedang dia cuci di sebelah kamar mandi. Rizal pun mendekat.


"Bu," panggil Rizal lirih. Tapi sang ibu nampak acuh. Ibu terus melanjutkan acara mencucinya. Rizal menghembus kasar nafasnya.


Rizal terkesiap. Dia langsung mengejar Ibu dan menahan tangannya. "Bu, ampuni Rizal. Jangan diamkan Rizal seperti ini. Marahi Rizal bila perlu pukul sekalian. Jangan diamkan Rizal seperti ini, Bu," rengek Rizal dengan nada yang bergetar.


"Ibu harus ngomong apa? Kalau nasehat Ibu saja tidak ada gunanya buat kamu," jawab Ibu pelan tanpa menoleh ke arah sang anak. Lalu dia menarik tangannya hingga terlepas dan masuk ke dalam kamar.


Rizal hanya terbungkam dan terdiam melihat kemarahan Ibunya. Bahkan airmata Rizal sampai menetes karena rasa bersalahnya. Ini adalah untuk pertama kalinya Rizal mendapatkan kemarahan dari orang tua sejak dia beranjak dewasa.


Dimata orang tuanya, terutama sang ibu, Rizal adalah anak yang kalem dan penurut. Tidak pernah sekalipun Ibunya marah besar kepadanya. Ibu kalau marah memang lebih memilih diam daripada memaki dan meneriaki sang anak.


Mungkin inilah yang ibu takutkan saat anaknya minta ijin merantau ke kota. Anaknya berubah saat berada disana. Sang ibu kehilangan sosok anak yang penurut dan mau mendengar dan melaksanakan nasehat dengan baik. Kepercayaan yang Ibu berikan, dengan sukses Rizal merusaknya.


Rizal melanjutkan niatnya untuk membersihkan badan. Dengan langkah gontai dia menuju kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian, Rizal telah menyelesaikan ritual mandinya. Kembali Rizal mengedarkan pandangannya. Sang ibu tidak kelihatan.


Rizal duduk di kursi dimana ada meja yang biasaa digunakan buat menaruh makanan. Itu bukan meja makan, karena hanya ada kursi satu disana. Kursi itu biasa digunakan Bapak jika sedang makan bersama. Rizal dan yang lainnya memilih duduk dilantai sambil ngobrol atau menikmati acara televisi.


Rizal membuka tudung saji. Dia tersenyum getir. Semarah marahnya Ibu, dia masih perhatian dengan anaknya. Tak terasa air mata Rizal metetes sambil menatap hidangan kesukaan Rizal telah ibu disiapkan untuknya.


"Maafin Rizal Bu. Maafin Rizal."


Sementara di tempat lain, Miranda justru malah terlihat semangat hari ini. Meski Rizal belum memberi kabar, Miranda mencoba mengerti kalau Rizal pasti di kampung sedang berjuang menghadapi keluarganya.


"Kamu mau kemana, Mir. Udah rapi jam segini?" tanya Tomi saat dia hendak berangkat kerja.


"Mau ke kantor pengadilan agama, buat ngurusin perceraian kita."


Deg!


...@@@@@@...