
Malam kian semakin larut. Jam di dinding baru menunjukan pukul sepuluh malam lebih sedikit. Dan di dalam sebuah kamar terdapat dua anak manusia berbeda jenis, sedang berbaring di atas kasur yang tergeletak di lantai. Kasur busa yang lumayan tebal dan hanya bisa digunakan untuk satu orang. Namun saat ini ada dua orang yang menempatinya dengan tubuh yang saling menempel.
Awalnya sang pria menolak saat si wanita minta tidur di kamarnya. Namun karena rengekannya dan dia juga merasa tidak tega karena si wanita nampak lagi sedih, akhirnya si pria mengalah. Mereka hanya sebatas supir dan majikannya, tapi sikap dan kedekatan mereka seperti ada hubungan spesial yang mengalir begitu saja.
Sejak adanya sang supir beberapa hari yang lalu, kini hubungan mereka semakin dekat, anak majikan rumah itu seperti menemukan kenyamanan yang dia rindukan beberapa bulan terakhir ini. Akibat ulah kedua kakaknya hingga menyebabkan kedua orang tuanya hilang kepercayaan, si anak ketiga tidak menemukan kenyamanan lagi di rumah itu.
Sedangkan si supir, tentu dia merasa senang saat ini. Telah lama dia membayangkan ada wanita yang bisa dia peluk, dan sekarang keinginannya menjadi nyata. Bukan hanya pelukan yang dia dapat, tapi dia juga berkali kali mencicipi bibir wanita cantik yang sekarang memeluknya sambil berbaring di dada.
"Non?" panggil Iqbal pelan saambil mengusap pucuk kepala anak majikannya.
"Hum," sahut Karin tanpa merubah keadaannya.
"Non Karin kenapa? Kok kayak sedih gitu? Aku nggak boleh tahu?" tanya Iqbal sedikit merajuk. Pasalnya sedari tadi, Karin tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Habis bertengkar sama mamih, Bal," balas Karin pada akhirnya.
"Kenapa lagi? Menuduh yang bukan-bukan?" tanya Iqbal dan tangannya tak berhenti membelai halus kepala Karin.
"Ya begitulah, Bal," balas Karin lemah.
"Ya udah, sekarang Non Karin tidur, udah malam. Besok pagi-pagi banget aku bangunin sebelum Nyonya dan Tuan bangun," titah Iqbal.
Karin mendongak dan memajukan kepalanya ke arah Iqbal. ditempelnya bibir Iqbal dengan bibirnya dalam waktu yang cukup lama.
"Dalam sekejap kamu sudah pandai berciuaman, Bal," ucap Karin sambil mengusap lembut pipi Iqbal dan wajah mereka berhadapan sangat dekat.
"Gurunya cantik sih, jadi cepat pandai," gombal Iqbal. Dan Karin hanya berdecih kemudian tersenyum lebar terus kembali menempelkan bibirnya.
Setelah itu Karin merebahkan kepalanya di bantal yang sama dengan Iqbal dan mereka tidur miring dengan wajah berhadapan. Karin tak henti-hentinya membelai pipi Iqbal dengan lembut. Sedangkan Iqbal, lebih memilih melingkarkan tangannya di pinggang Karin agar mereka selalu menempel seperti kekasih.
"Aku tadi melihat Belinda dan Aleta ada disini," ucap Karin dengan tangan terus membelai pipi Iqbal. Bukan hanya pipi, kadang jari tangannya juga mengusap bibir Iqbal dan memainkannya.
"Mereka ingin berhubungan badan dengan kamu," balas Karin dan hal itu membuat Iqbal terperangah mendengarnya. Ternyata dugaannya tak melenceng.
"Masa sih, Non?" tanya Iqbal dengan wajah diliputi rasa terkejut.
Karin mengangguk, "Hidup lama di luar negeri membuat mereka terlalu bebas. Dan tinggal disini, mereka bingung nggak ada temen. Terutama teman pria. Melihat badan kamu bagus dan sekarang kamu terlihat tampan, pasti mereka semakin resah, Bal."
Iqbal semakin tercengang sembari menggelengkan kepala sejenak. Namuan dia tidak berkata apa-apa karena masih tidak menyangka mendengar niat Belinda dan Aleta.
"Kamu kan pria normal, Bal? Kamu ngggak ingin mencobanya sama mereka?"
iqbal tersenyum tipis, "Sebagai Pria normal ya pasti aku ingin mencobanya lah, Non. Apalagi aku seumur hidup belum pernah mencicipi wanita. Tapi kalau mereka sudah sering main, terus nanti ada penyakit gimana? Aku yang apes."
Kini giliran Karin yang tersenyum tipis mendengar jawaban Iqbal, "Ya pakai pengaman, Bal."
Iqbal mendengus, "Emang kamu ngijinin? Aku main sama kedua kakak kamu?"
"Aku ya nggak bisa melarang, Bal. Kamu pria dewasa yang udah bisa berpikir dan kamu juga normal. Kalau aku melarang, bisa saja kan kamu suatu saat nanti tergoda dan diam-diam melakukannya," balas Karin.
"Iya sih, kakak kamu menggoda banget. Semua pria juga pasti kalau melihat kedua kakak kamu, pikirannya pasti ke ranjang," Karin kembali mengulas senyum, karena merasa gemas, dia melayangkan bibirnya di pipi Iqbal dalam dalam.
"Bal?" Panggil Karin sambil terus mengusap lembut pipi Iqbal.
"Hum? Apa?"
"Kalau aku yang pengin, kamu mau nggak main sama aku?"
Deg!
...@@@@...