TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 189


"Selamat pagi, nona cantik."


"Dih! Pagi pagi udah gombal."


"Siapa yang gombal, orang cantik beneran."


"Iya, iya, percaya, ada apa?"


"Bangun, udah siang."


"Ciumnya mana?"


"Muach."


"Nggak terasa."


"Hahaha ... ya nanti di mobil, pas mau berangkat."


"Sama aja bohong. Dah ah, aku mau mandi."


Klik.


"Loh, gak sopan. Malah dimatiin," gerutu Jamal saat tiba tiba panggilan vidoenya berakhir. Jamal pun mengacak rambutnya. Nyatanya tidur sendirian rasanya hambar setelah beberapa hari sering tidur bareng anak majikannya.


Mungkin itu juga alasan Selin mengakhiri panggilan videonya. Dia juga merasa hambar karena tidur sendirian. Biasanya ada Jamal yang setia bangunin sambil membelai lembut rambut dan pipinya, bahkan kadang Jamal juga menciumnya. Tapi pagi ini, Jamal membangunkannya lewat panggian video. Tidak asyik banget.


Jamal bergegas bangkit dan kembali melakukan rutinitas pagi yaitu membantu pekerjaan Mbok Sum. Dengan semangat yang tidak ada surutnya, Jamal mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan hingga tuntas.


"Sudah selesai, Mal?" tanya Mbok Sum yang lagi asyik menggoreng ayam bumbu lengkuas.


"Sudah dong, Mbok," jawab Jamal sambil mendekat ke mbok Sum dan mencopot ceker yang sudah matang. Setelah itu, dia mengambil gelas kemudian mengisinya dengan gula, teh celup dan air panas.


"Waktu di apartemen, nggak bisa kayak gini ya, Mal?" tanya Mbok Sum.


"Nggak bisa, Mbok. Makanannya beli terus, bosen," jawab Jamal sambil menunggu tehnya jadi.


"Emang alasaannya apa, Mal? Kok Non Selin mau pulang?"


"Nggak tahu, Mbok. Waktu itu pas di Mall Tuan sama Non Selin entah ngomong apaan. Terus setelah pertamuan itu Non Selin ngasih tahu kalau dia akan pulang, gitu."


"Oh, kirain kamu tahu."


"Ngggak, Mbok."


Setelah pembicaraan singkat itu, Jamal membawa teh manisnya ke belakang rumah sekalian istirahat. Game adalah cara ampuh Jamal untuk menghabiskan waktu.


Sementara itu di lantai atas, Selin dan Gustavo tak sengaja keluar kamar bersama.


"Udah mau berangkat?" Suara bariton Gustavo sontak mengagetkan Selin yang baru mau nutup pintu kamarnya.


"Itu kamu bawa apa, sayang?" tanya Gustavo saat melihat tangan kiri sang anak menenteng godie bag. Kini bapak dan anak itu bersama menuruni anak tangga.


"Ini, beberapa ponsel. Katanya, adik Jamal lagi minta ponsel. Daripada beli mending ambil ponsel bekasku aja kan? Masih bagus dan layak digunakan ini."


"Oh, ya baguslah. Lagian sama kamu nggak di pake juga."


"Betul," balas Selin. "Eh Pa, kira kira anak papa yang satunya hidup layak enggak? Apa papa lepas tanggung jawab?" tanya Selin. Tiba-tiba dia jadi ingat kalau ayahnya juga mempunyai anak dari wanita lain lagi.


Gustavo tertegun sejenak mendengar pertanyaan anaknya. Tapi mau tidak mau dia memang harus menjawabnya. Dia tidak ingin anak gadisnya marah kembali karena dia masih merahasiakan hal yang seharusnya anaknya tahu.


"Papa tetap tanggung jawab dong, Nak. Apa lagi dia mau masuk SMP. Cuma ya itu, dia nggak mau ikut papa. Dia lebih betah tinggal di kampung bersama nenek dan kakeknya" jawab Gustavo apa adanya.


"Apa dia juga nasibnya sama kayak Ibu kandung Selin?"


"Nggak, adik kamu namanya Davi, ibu dia meninggal saat usia Davi tiga bulan. Padahal Papa hendak menikahinya, tapi dia nggak mau karena merasa bersalah kepada Sandra."


Meski terdengar perih dan menyakitkan, tapi itu lah kenyataan hidup yang harus Gustavo dan Selin jalani. Semua orang punya kisah hidupnya sendiri sendiri, termasuk mereka.


"Aku jadi penasaran. Apa dia tampan mirip Papa?" tanya Selin antusias.


"Sangat. Bahkan sekarang aja banyak cewek yang suka sama dia. Tapi Papa harap, sifat dia nggak kayak Papa," ucap Gustavo dengan wajah penuh penyesalan.


"Mbok, tolong panggilkan Jamal ya?" titah Gustavo begitu sampai meja makan.


"Baik, Tuan," balas Mbok Sum, kemudian dia berlalu menuju belakang setelah selesai menyiapkan hidangan untuk sarapan.


Tak lama kemudian, Jamal pun datang menghadap Tuannya.


"Tuan memanggil saya?" tanya Jamal.


"Iya," jawab Gustavo. "Kamu atur jadwal yang longgar dengan Selin, agar saat kamu belajar nanti, tidak mengganggu jadwal kuliahnya Selin. Jadi kamu bisa jalani dua duanya dengan baik."


"Baik, Tuan."


Sementara itu di sebuah caffe yang ada di wilayah apertemen mewah di ibu kota.


"Tolong kamu cari info orang dalam foto ini sedetail detailnya. Termasuk keluarga dan keadaannya."


"Cuma itu, nggak ada yang lain?"


"Nggak. Untuk sementara itu saja. Kalau cara ini nggak berhasil, aku akan memakai cara lain."


"Baiklah. Aku akan melaksanakan tugasku dengan baik," jawab orang itu sambil memperhatikan foto Jamal.


...@@@@@...