
Setelah merubah rambut Iqbal, kini Karin membawa Iqbal ke pusat perbelanjaan. Karin membeli beberapa pakaian untuk supirnya tersebut. Sebagai bawahan, tentu saja Iqbal menolak, tapi seperti kebanyakan bawahan pada umumnya, sekuat apapun menolak tetap keputusan atasan harus dipatuhi dan itu yang membuat Iqbal pasrah saat Karin memaksanya mencoba beberapa baju dan membelikannya.
Dalam sisi yang lain, Iqbal tentunya sangat bersyukur mempunyai majikan yang baik. Padahal Iqbal sendiri belum lama berkerja di rumah tersebut, tapi anak majikannya malah bersikap seakan akan dia bukan supirnya. Apalagi sekarang Karin memilih duduk di kursi sebelah, bukan di belakang seperti biasanya dan hal itu makin membuat mereka seakan tidak ada jarak antara Majikan dan supirnya.
Setelah puas berbelanja, Karin mengajak Iqbal untuk nonton di bioskop. Dari dulu, nonton di bioskop dengan seorang wanita hanya sebatas impian bagi Iqbal. Selain tidak ada wanita, dia juga tidak memiliki dana lebih. Tapi kali ini, keinginnanya terwujud meski dia digratisin.
Karin memilih film romansa mafia. Iqbal pun cuma bisa menurutinya, karena dia juga tidak tahu film apa yang bagus saat ini. Setelah mendapat kursi di tengah dan paling belakang, mereka pun bersiap siap menyaksikan film yang sebentar lagi di tayangkan.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya film pun di mulai. Awalnya film terlihat biasa saja. Hanya ada adegan ngobrol dan saling todong senjata. Maklum namanya juga mafia. Tapi beberapa menit berikutnya, film di warnai dengan adegan ranjang yang sungguh menarik. Tentu saja, adegan ranjang yang lumayan panas itu membuat Karin dan Iqbal menelan salivanya beberapa kali. Mungkin saja penonton yang lain melalukannya juga.
Disaat adegan sedang panas panasnya, tak sengaja mata mereka juga memandang pasangan yang sedang berperang bibir yang begitu panas tepat di depan kursi mereka yang hanya selisih dua baris. Makin gelisahlah mereka berdua. Bahkan Karin tanpa sadar mencengkram bahu Iqbal.
Iqbal pun kaget dan dia menoleh, di saat bersamaan Karin juga menoleh dan mata mereka beradu hampir tak berkedip. Karin yang memang sudah terkesima dengan Iqbal yang berubah lebih tampan, entah dapat dorongan darimana tiba tiba memajukan kepalanya ke arah Iqbal.
Cup!
Mata Iqbal membelalak saat untuk pertama kalinya ada wanita yang menempelkan bibir di bibirnya. Karin mengecup bibir Iqbal sekian detik kemudian melepasnya. Mata mereka beradu dan wajah mereka juga terlalu dekat. Nafas mereka memburu dan lagi lagi Karin menempelkan bibirnya ke bibir Iqbal.
Iqbal terdiam dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa bibir Karin bergerak namun dia hanya diam karena dia memang belum berpengalaman. Karin yang merasakan tidak ada perlawanan akhirnya melepas bibirnya.
"Maaf, aku ..."
Iqbal yang sudah merasakan hawa lain di tubuhnya seperti tak terima Karin melepaskan bibirnya. Dan entah dapat dorongan darimana, kini Iqbal yang memajukan kepalanya dan meraih bibirnya. Dia mencoba menggerakan bibir yang sama seperti Karin lakukan.
Awalnya Karin kaget saat Iqbal memotong ucapannya dengan menyerang bibirnya, namun akhirnya ada perasaan senang saat Iqbal mulai menggerakan bibirnya dan dia pun membalas. Karin bahkan melingkarkan tangannya dan menahan kepala Iqbal bagian belakang.
"Apa yang sudah aku lakukan?" ucap mereka dalam hati.
Dan tak terasa film yang dipenuhi adegan ranjang dan romantis pun selesai. Masih dengan perasaan canggung mereka berjalan keluar gedung. Bahkan Iqbal memlih berjalan di belakang Karin. Meski malu, senyum Iqbal terus tersungging sambil menatapa perempuan yang berjalan di depannya hingga mereka sampai di tempat parkir mobil mereka.
Keduanya masuk ke dalam mobil masih dalam keadaan diam. hingga sebelum beranjak Iqbal memlih membuka suara.
"Non, maaf ya, aku tadi ... " ucap Iqbal ragu untuk melanjutkannya.
Karin yang mengerti Iqbal mau ngomong apa langsung membalas, "Nggak apa apa Iqbal. Justru aku yang minta maaf, karena aku yang menyerangmu duluan."
Iqbal pun mengulum senyum. "Non Karin nggak salah. justru aku berterima kasih tapi aku malah tidak tahu diri, menyerang Non karin balik. Maaf ya, Non."
"Nggak apa apa, Bal. Jangan merasa bersalah seperti itu. Aku menikmatinya kok." jawab Karin apa adanya.
Mereka pun saling tatap dan senyum mereka tersungging mengurai rasa canggung. Dan beberapa saat setelahnya.
"Apa kamu mau mengulanginya kembali disini?"
seketika Iqbal terperangah.
...@@@@@...