
"Aku ngancam Jamal agar mau meniduriku Pa."
"Apa!" pekik Gustavo. Matanya langsung menatap tajam mata anaknya. Berharap ada kebohongan dari balik mata itu. Tapi yang ada Gustavo kecewa. Di dalam manik mata sang anak, dia merasakan kejujuran pada anak perempuannya.
"Maafin Selin, Pa. Selin terlalu kecewa dengan kenyataan. Papa yang ternyata suka selingkuh dan aku yang ternyata anak selingkuhan, Mama juga sama, suka memelihara berondong, terus Selin harus mencontoh siapa? Agar Selin menjadi anak yang baik?" ucap Selin sambil tersedu.
Gustavo merasa tersayat dalam hatinya mendengar betapa anaknya merasa frustasi. Anak yang seharusnya bahagia, malah merasakan penderitaan dan luka yang cukup dalam akibat ulah orang tuanya.
"Hanya ada Jamal yang peduli sama Selin, tapi Selin malah merusak kepercayaan Jamal ke Papa. Ampuni Selin, Pa, ampuni Selin, hiks ... hiks ... hiks ..."
Gustavo tak sanggup menahan tangisnya. Diraihnya kepala Selin dan di benamkan ke dadanya. Untuk saat ini, Gustavo memilih diam. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Kenapa kamu merusak masa depan kamu sendiri, nak? Yang salah itu Papa, bukan kamu."
"Maafin Selin Pa. Papa tahu betapa Selin kecewa saat Selin tau kalua Selin adalah anak haram, anak hasil perselingkuhan Papa. Rasanya Selin ingin mati saat itu juga, Pa."
"Jangan! Jangan pernah berpikir sejauh itu, Nak! Bagaimana hidup Papa tanpa kamu? Kamu yang menjadi semangat Papa selama ini. Kamu kebangggaan Papa, Sayang."
"Tapi sekarang Selin sudah rusak, Pa. Nggak ada yang bisa dibanggakan lagi dari Selin."
"Jangan bicara seperti itu, Sayang."
Sejenak suasana berubah jadi hening. Hanya ada suara isak tangis Selin yang semakin meredup. Sedangkan di luar, Jamal nampak gelisah menunggu anak majikannya. Saat ini dia memang menunggu di luar kantor Tuan Gustavo.
Jamal duduk di bangku yang ada di balik meja sekretaris. Matanya menatap pria yang terlihat sedang sibuk menatap layar laptop dan mengetik beberapa angka dan huruf.
"Mas sudah lama kerja menjadi supir dari putri Tuan Gustavo," tanya sang sekretaris sambil sesakali menoleh ke Jamal.
"Ya hampir dua bulan sih, Masnya, udah lama kerja di sini?" jawab Jamal seraya melempar pertanyaan juga.
"Aku, udah hampir tiga tahun disini, cuma jadi sekretaris baru mau satu bulan."
"Oh," Jawab Jamal panjang sambil manggut manggut. "Bukankah sekretaris biasanya cewek ya, Mas. Kok ini cowok?"
"Hahaha ... awalnya emang cewek, tapi dia mengundurkan diri. Terus Tuan Gustavo minta ganti sekretaris tapi yang cowok."
Disaat Jamal manggut manggut, telfon khusus kantor pun berdering. Sang sekretaris segera mengangkatnya.
"Mas, kamu di suruh masuk ke ruangan Tuan," ucap Sekretaris setelah mendapat pesan dari telfon yang ternyata itu adalah Gustavo.
"Saya disuruh masuk?"
"Baik, makasih, Mas."
Jamal segera saja beranjak menuju tempat yang di tuju. Jantung Jamal berdegup kencan. Ini adalah pertama kalinya Jamal memasuki ruang kantor sebuah perusahaan besar, dan ruang kantor itu adalah milik peminpin tertinggi dari perusahaan besar tersebut.
Perlahan tangan Jamal tergerak membuka handle pintu. Setelah pintu dibuka, Jamal melangkah pelan dan mengedarkan pandangannya.
Kening Jamal berkerut. Di dalam ruang tersebut, Selin duduk diatas sofa. Dari tatapan matanya, Jamal tahu Selin habis menangis. Sedangkan Gustavo berdiri dan bersandar pada meja kerja. Jari jari tangannya, Gustavo masukkan ke dalam saku celananya. Matanya tajam menatap ke arah Jamal hingga membuat pemuda itu sedikit merasa ketakutan.
"Tuan memanggil saya?" sapa Jamal begitu langkah kakinya terhenti beberapa langkah tak jauh dari majikannya. Gustavo melangkah cepat ke arah Jamal.
Plak!
"Papa!"
"Tuan ..."
"Diam kamu! Berani beraninya kamu merusak kepercayaan saya!" bentak Gustavo. Jamal terbungkam. Dia belum sadar apa maksud ucapan Tuannya.
"Tapi ini semua salah Selin, Pa," bela Selin.
"Kalau cuma hilaf harusnya cuma satu kali, tapi kalian pasti sudah berkali kali melakukannya, bukan?" ucap Gustavo lantang.
Mata Jamal membelalak. Seketika dia sadar kenapa Tuan Gustavo menamparnya dan terlihat sangat marah. Jamal langsung bertekuk lutut dan menduduk.
"Maaf Tuan, saya ..."
"Apa! Kamu mau alasan apa, Hah! Saya percayakan Selin untuk di jaga, Jamal. Bukan untuk dirusak! Satu kali melakukan, Oke! Itu hilaf. Tapi berapa kali coba kalian melakukannya? Berapa!"
"Ampun, Tuan, maaf, Saya salah, saya tidak bisa mengontrol diri."
"Disaat sudah ketahuan baru minta maaf, kemarin kemarin kemana saja sebelum ketahuan?"
"Pa, tapi semua salah Selin. Selin yang sering memaksa."
"Tapi Kalau Jamal ingat tangggung jawabnya harusnya dia mampu menjaga diri!" bentak Gustavo. Lantas dia kembali menatap Jamal. "Sekarang kamu bilang sama orang tua kamu, kalau kamu telah merusak anak majikanmu, berani nggak?"
Degg!
...@@@@@...