TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 173


"Belinda dan Aleta, ngapain pagi pagi ke kampus?"


"Kuliah kali."


"Cih! Kangen kamu kali, Bal. Lagi gatel."


"Hehehe ... bisa aja kamu, Non. Emang aku boleh garukin punya mereka?"


"Dih! Bilang aja pengin nyoba. Pake pamit segala."


Hehehe ..." cuma itu tanggapan Iqbal.


Heran. Tentu saja Karin dan Iqbal merasa heran, melihat dua wanita yang mereka kenal sedang berdiri di dekat pos satpam. Entah mereka sedang menunggu seseorang atau apa, tapi sepertinya Karin tak peduli. Dia segera keluar dari mobil setelah pamit kepada Iqbal dengan memberi kecupan di pipi. Pamit kepada supir, sudah seperti pamit kepada kekasih saja pakai cium pipi segala.


"Karin!" teriak Belinda dan Aleta begitu melihat seseorang yang dia tunggu melangkah ke arahnya. Tentu saja Karin terkejut dibuatnya. Bahkan langkah kaki Karin sekerika berhenti saat dua kakaknya bersikap tak seperti biasanya.


Di dalam mobil, Iqbal juga merasa terkejut dengan apa yang dia lihat. Di sana, di dekat pintu gerbang, terlihat Belinda dan Aleta berjalan cepat menghampiri Karin. Sontak saja timbul pertanyaan dalam benak Iqbal.


"Apa yang mereka lakukan? Apa mau mengganggu Karin lagi? Mending aku pantau dari sini dulu," gumam Iqbal.


"Kok kamu baru datang, Rin? Aku udah nungguin kamu dari tadi loh," rengek Belinda santai. Seakan dia tidak pernah punya dosa dengan sang adik. Sikap Belinda berbeda sekali saat ini. Dia terlihat hangat.


"Iya, Rin. Kita sengaja datang pagi pagi buat ketemu sama kamu loh," ucap Aleta. Dia juga bersikap sama persis dengan apa yang Belinda lakukan.


"Ketemu aku? Untuk apa?" tanya Karin. Terlihat jelas dari wajah Karin, kebingungan yang luar biasa dengan sikap kedua kakaknya yang sama sekali berbeda. Walaupun dulu Belinda dan Aleta juga biasa bersikap hangat seperti ini, tapi untuk beberapa bulan ini, sikap hangat yang terkesan mendadak, jelas terasa aneh bagi Karin.


"Aku ingin bicara sama kamu lah, kita kan udah lama nggak ngobrol bareng," jawab Belinda sambil merangkul pundak Karin.


"Iya, Rin. Kita sudah lama loh nggak seru seruan bareng," timpal Aleta.


dahi Karin semakin mengernyit. Ini sungguh sangat aneh. Rasa curiga tentu saja bergelayut di hati Karin saat ini, mengingat apa yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu, membuat Karin hampir kehilangan segalanya.


Sedangkan dari dalam mobil, Iqbal masih terus mengawasi tiga wanita itu. rasa penasaran tentu saja meronta ronta dalam hatinya. Tiga wanita cantik yang menginginkan dirinya saat ini terlihat akur.


"Tapi aku ada kuliah, bentar lagi masuk," tolak Karin secara halus. Dia merasa kedua kakaknya ada maksud tersembunyi kali ini. Wajar kan? Jika Karin menaruh curiga?


"Nggak tahu, ya udah yah, aku mau masuk dulu, takut telat," ucap Karin lalu dia segera saja pergi meninggalkan kedua kakaknya.


"Semangat belajarnya Karin! Aku tungguin loh," ucap Aleta setengah berteriak.


"Cih, pake nyemangatin segala," cibir Belinda begitu Karin telah hilang dari pandangannya.


"Biarin, biar Karin percaya kalau kita serius mau baikan sama dia," balas Aleta.


"Baguslah, kali ini rencana kita harus sukses, sampe Iqbal jatuh ke tangan aku atau kamu," balas Belinda.


Belinda dan Aleta memang sengaja bersikap manis kepada Karin demi melancarkan rencana yang Rio sarankan. Semua ini mereka lakukan demi obsesinya kepada Iqbal. Entah kenapa, mereka masih menginginkan supir itu, dan mereka yakin jika bukan karena Karin, Iqbal pasti sudah jatuh ke dalam pelukan mereka.


"Eh itu mobil Karin, kita kesana, yuk? Pasti Iqbal ada disana," tunjuk Aleta.


"Yuk," sambut Belinda, dan kedua wanita itu melangkah menuju ke tempat mobil yang biasa Karin gunakan.


"Waduh, mereka kesini," ucap Iqbal dengan wajah mendadak panik karena kedua kakak Karin berjalan ke arahnya. Iqbal sontak saja langsung keluar mobil begitu Belinda dan Aleta semakin mendekat.


"Kok keluar, Bal? Di dalam aja sih, adem," protes Belinda. Wajahnya terlihat kecewa karena dia sudah membayangkan menggoda Iqbal di dalam mobil.


"Aku memang biasa nunggu Non Karin di luar mobil kok, Non," balas Iqbal dusta. Biasanya dia asyik main game di dalam mobil.


"Di dalam aja yuk, di luar panas nih," rengek Belinda begiru berdiri di sebelah Iqbal yang sedang bersandar.


"Silakan Non Belinda di dalam, aku lebih suka di luar," tolak Iqbal.


Belinda merengut sedangkan Aleta sudah masuk ke dalam mobil. Tapi diluar dugaan Belinda mendekat dan berbisik di telinga iqbal.


"Masuk yuk, nanti aku bikin kamu enak deh."


"Waduh."


...@@@@@...