
Sejak keluar dari kantor polisi, Miranda lebih banyak diam. Banyak yang sedang dia pikirkan saat ini. Dia bahkan meminta Rizal kembali ke rumah karena masih ada sedikit rasa takut.
Siapapun orangnya pasti merasa takut jika mengalami kejadian buruk. Apalagi jika yang mengalami itu adalah seorang wanita. Dan hal itu yang kini terjadi pada Miranda. Rasa takutnya masih bergelayut di benaknnya, meski dia tahu pelaku kejahatan yang menyerangnya sudah tertangkap.
Miranda masih tidak menyangka Tomi akan melakukan hal segila itu kepadanya demi mendapatkan seorang supir. Yang Miranda tahu, Tomi tidak pernah melakukan kejahatan satupun hingga berurusan dengan hukum. Bahkan selama menikah, Tomi selalu bersikap baik kepada Miranda.
Miranda juga pernah mendengar cerita dari keluarga Tomi kalau pria itu adalah pria yang gigih, ulet dan tekun sehingga Tomi bisa sukses di usia mudanya. Sayang sekali, keluarga Tomi tidak pernah tahu, kegigihan Tomi di bidang lain, tentunya kegigihan dalam menaklukkan pria pria tampan dan normal menjadi teman tidurnya.
Uang memang bisa merubah segalanya. Maka itu, Tomi menggunakan uang untuk menaklukkan targetnya. Tapi untuk Rizal, Tomi merasa gagal. Rizal sangat sulit ditaklukan meski sudah dipancing dengan uang yang lumayan besar.
Berbagai cara Tomi lakukan hanya demi menaklukan Rizal. Tapi semua gagal hingga Tomi frustasi dan akhirnya melakukan drama penculikan ini.
Miranda meminta pihak polisi untuk menunda penyelidikan karena Miranda ingin menyelesaikan masalahnya dengan Tomi secara kekeluargaan terlebih dahulu.
"Non, sudah sampai," ucap Rizal sembari memegang pundak Miranda. Wanita itu agak kaget karena sedang melamun.
Rizal segera turun dan mengitari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Miranda. Wanita itu segera turun dan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Rizal. Mereka malangkah masuk ke rumah sewa.
"Mau duduk dulu, atu istirahat di kamar?" tawar Rizal begitu kaki mereka sudah berada di dalam rumah.
"Di kamar saja," jawab Miranda lirih.
"Baiklah, aku kunci pintu dulu."
Miranda melepas pelukannya dan dia beranjak ke kamar terlebih dahulu. Setelah mengunci pintu, Rizal pun bergegas menyusul ke kamar. Begitu sampai kamar, Rizal dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Kok nggak pake baju, Non?" tanya Rizal saat melihat Miranda sudah berbaring tapi tanpa sehelai kain pun menempel di tubuhnya. Padahal Rizal cuma menutup pintu tapi saat sampai kamar, disuguhi pemandangan yang sangat indah.
"Kamu juga bajunya lepas, Zal," titah Miranda. Tentu saja Rizal tidak menolaknya, karena satu ranjang bersama Miranda tanpa busana adalah salah satu keinginannya juga.
Begitu semua yang menempel di badan sudah terlepas, Rizal langsung saja naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Miranda. Wanita itu langsung menempel dan memeluk Rizal dengan erat.
"Kenapa?" tanya Miranda. Tangannya kini bergerak meraih batang milik Rizal dan memainkannya.
"Kan biasanya kalau orang ada masalah, suasana hati akan ikut berubah buruk, Non. Apalagi masalah ini masalah keluarga," jawab Rizal dengan tangan yang masih membelai rambut Miranda dan kini ditambah perasaan enak karena di bawah perutnya, tangan Miranda sedang bermain dengan juniornya.
"Maka itu, aku lebih baik begini, Zal. Berada dalam posisi seperti ini, membuatku nyaman dan tenang," aku Miranda jujur.
"Oh, pantes Non Miran langsung minta pulang. Aku senang mendengarnya. Aku berharap hubungan kita nggak ada masalah besar ke depannya, agar Non Miran tidak mencari tubuh lain buat menenangkan."
Miranda tersenyum kemudian dia mengecup dan menyesap dada Rizal hingga tercipta tanda merah.
"Astaga! Malah bikin tanda merah," ucap Rizal takjub kemudian dia terkekeh.
"Habis gemas mendengar ucapan kamu."
"Ya udah sini gantian."
Miranda menelantangkan badannya. Rizal beringsut hingga hingga bibirnya meraih dada Miranda. Lantas dia melakukan hal yang sama hingga beberapa kali. Miranda memandangi kepala Rizal saat pemuda itu membuat tanda merah yang lumayan banyak dan juga menyesap ujung bukit kembarnya.
"Katanya cuma bikin tanda merah? Kenapa malah jadi kayak bayi?" protes Miranda tapi membiarkan saja perbuatan Rizal di dadanya.
"Biar Non Miran makin tenang," jawab Rizal asal sambil cengengesan. Miranda hanya berdecih tapi dia juga menikmatinya.
Sementara itu di kota lain. Tepatnya di gedung sebuah kantor. Tomi duduk terdiam di kursi kebesarannya. Wajahnya kusut dan nampak frustasi setelah mendapat pesan dari Miranda. Sebuah pesan yang menandakan rencananya gagal. Dan pesan yang akan menjadi jalan perpisahan untuk dirinya dan juga istrinya. Ya, Miranda akan menggugat cerai dirinya.
"Sial!"
...@@@@@...