
"Jamal!" pekik seorang wanita paru baya saat tengah malam ada yang mengetuk pintu rumahnya. Wanita itu terkejut begitu tahu siapa tamu yang mengetuk pintu tengah malam ini.
Jamal sontak mengulas senyum serta memberi salam dan menjabat tangan wanita yang telah melahirkannya. Setelah itu, Jamal dan Ibunya masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.
"Kok pulang nggak ngasih kabar sih, Mal?" tanya wanita itu yang biasa dipanggil Emak oleh anak anaknya.
"Iya, Mak. mendadak pulangnya. Bapak sama Akmal mana? Udah pada tidur apa?" tanya Jamal.
"Udah, udah jam segini, mereka pasti udah pada nyenyak," balas Emak. "Kamu mau istirahat dulu apa gimana?"
"Makan dulu, Mak. Laper. Nih tadi beli nasi goreng waktu turun dari bis," sambil menunjuk kantung plastik hitam yang dia taruh di atas meja.
"Ya udah, Mak ambil kan piring dulu," ucap Emak. Lantas dia segera beranjak menuju dapur. Tak butuh waktu lama, Emak kembali sambil membawa sebuah piring, sendok dan segelas gede teh hangat, lalu menyerahkannya pada sang anak.
"Emak mau? Kita bagi dua. Porsinya banyak banget ini," tawar Jamal saat membuka bungkusan nasi goreng.
"Nggak usah, buat kamu aja. Emak mana enak bangun tidur langsung makan."
"Ya udah."
Jamal langsung melahap nasi gorengnya. Sedangkan Emak menatap anak pertamanya dengan heran dan penuh selidik.
Dua bulan tinggal di kota orang, membuat Emak pangling dengan penampilan anak pertamanya. Jamal lebih bersih, lebih putih dan rapi. Bahkan Jamal terlihat lebih gemuk. Hampir saja Emak tadi tidak mengenali sang anak.
"Emak kenapa? Ngliatinnya gitu amat?" tanya Jamal di sela sela menikmati hidangannya.
"Wajar lah, Emak lihatinnya kayak gini. Kamu kayak bukan anak Emak. Sejak kapan kamu mau merawat badanmu seperti ini? Rasanya aneh lihat kamu bersih kayak gini."
Jamal sontak terkekeh. Tapi dibalik suara tawa Jamal, pikirannya melayang pada sosok wanita yang mungkin saat ini sedang menunggunya. Wanita itulah yang berjasa besar atas perubahan penampilan Jamal saat ini.
"Orang bersih kok malah dibilang aneh sih, Mak? Harusnya kan Emak seneng, anaknya kelihatan ganteng," balas Jamal. Emak seketika mencebik bibirnya,namun tak lama kemudian dia terkekeh.
"Wuih! Mas Jamal!" pekik sang adik dari pintu kamarnya. Jamal dan Emak lantas menoleh.
"Loh, kamu belum tidur, Mal?" tanya Emak kepada Akmal, adiknya Jamal.
anak remaja itu lantas menghampiri sang kakak dan ibunya. "Kebangun ini, kayak dengar suara berisik. Eh nggak tahunya Mas Jamal balik."
Emak nampak manggut manggut, sedangkan Jamal nyimak sambil terus melahap nasi goreng yang tinggal separu.
"Wuih! Ponselnya bagus banget, Mas," seru Akmal sambil memungut ponsel kakaknya yang tergeletak di atas meja. "Ponsel mahal ini! Tukeran dong, Mas?"
Wajah Akmal langsung berbinar. "Beneran, Mas?" tanya Akmal antusias. Tanpa menunggu jawaban, remaja itu langsung saja memeriksa tas kakaknya.
"Wuih! Keren!" seru Akmal kegirangan.
"Jangan keras keras, Akmal! Bapak nanti bangun!" hardik Emak.
"Bagus banget, Mas. Buat game, mantap ini."
"Game aja pikiran kamu, bukannya belajar," sungut Emak tapi Akmal tak menanggapi. Dia terlalu bahagia dengan ponselnya.
"Emang Akmal susah belajar, Mak?" Jamal bertanya.
"Susah banget, main mulu bisanya," adu Emak.
"Ya udah, Jamal minta lagi aja ponselnya," ancam Jamal.
"Jangan! Iya, iya. Aku akan rajin belajar," ucap Akmal. Entah benar atau bohong.
"Awas aja kalau ketahuan bohong."
"Iya, Mas, iya," sungut Akmal tanpa memandang sang kakak. Matanya terlalu fokus dengan ponsel di tangannya.
"Emak mau beresin kamar kamu dulu," sambung Emak dan dia langsung beranjak meninggalkan dua anak lelakinya.
Beberapa lama kemudian, setelah semuanya selesai dan rasa kantuk mulai menghinggap, meereka memutuskan kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.
Jamal juga beranjak ke kamarnya. Setelah berganti pakaian, dia langsung berbaring di atas kasur yang sudah lama dia tinggalkan. Tak ada yang berubah dalam kamar Jamal.
Jamal menyalakan ponselnya. Senyumnya terkembang saat dia melihat ada pesan masuk dari wanita yang akan dia perjuangkan. Dia segera membalas pesan tersebut.
Ting
Ponsel Jamal berbunyi. Sebuh pesan balasan masuk. Ternyata wanitanya mengeluh, malam ini dia tidak bisa tidur. Jamal pun merasa iba.Tapi sebagai lelaki, Jamal harus bisa menghibur wanitanya. Jamal kembali membalas pesan itu, dan mereka larut dalam percakapan lewat chat hingga ngantuk menyerang.
Sebelum terlelap mereka berharap, ada kabar baik untuk hari esok, dan tidak ada kabar buruk lagi yang menimpa mereka dan keluarganya.
...@@@@@...