TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TODD 115 (Jamal)


Hari kini berganti lagi. Entah kenapa, sejak tumbuh menjadi dewasa, waktu berjalan dengan begitu cepatnya tanpa bisa dihentikan lajunya. Dan hari ternyata sudah pagi lagi.


Seperti hari hari yang dilalui seorang supir bernama Jamal. Belum genap satu bulan pergi merantau ke kota tapi malah sekarang sudah tidur satu ranjang dengan anak majikannya. Sungguh sesuatu yang tidak pernah dia sangka, tapi ini nyata.


Pagi ini mata Jamal terbuka lebih dahulu. Badannya masih tanpa busana, hanya saja ada selembar selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan tubuh wanita yang masih terlelap di sisinya.


Istri bukan, pacar bukan, tapi hubungan mereka sudah melebihi batas kewajaran. Mereka hanya supir dan majikan, tapi sejak kejadian malam kemarin, merubah hubungan mereka dalam sekejap.


Jamal memandangi wajah cantik yang masih terlelap disisinya. Terlihat begitu damai dan menenangkan. Disentuhnya pipi wanita itu dengan lembut. Senyum Jamal terkembang. Dirinya masih tidak menyangka, perkenalannya dengan wanita itu akan berakhir di ranjang seperti ini.


Ada rasa haru saat menatap wajah terlelap wanita itu. Dia sepertinya wanita yang kesepian dan sangat butuh dekapan seseorang. Entah ada masalah apa yang menerpanya, tapi Jamal merasakan kalau wanita itu tidak dalam keadaan baik baik saja.


"Non, bangun, Non," ucapnya lembut sambil terus mengusap pipi anak majikannya. Tapi wanita bernama Selin tak meresponnya. Jamal memajukan wajahnya dan mencium pipi Selin dengan penuh perasaan. Tiba tiba tubuh Selin bergerak bersama suara lenguhan.


"Bangun, Non, udah siang, kuliah nggak? hm?" ucap Jamal lagi. Tubuh Selin terus bergerak dan menggeliat hingga perlahan matanya terbuka. Senyum manis Jamal terpampang nyata dihadapannya. Selin pun berusaha menampilkan senyumnya diantara rasa kantuk yang masih tersisa.


"Bangun, kuliah nggak? Udah siang ini?" ucap Jamal lagi saat melihat mata Selin terbuka.


"Jam berapa?" tanya Selin dengan suara khas orang baru tidur.


"Udah setengah tujuh," jawab Jamal. Bukannya bangun, Selin malah meringsek kepalanya ke dalam dada Jamal dan memeluknya erat.


"Nanti agak siang berangkatnya," balas Selin. Matanya terpejam sembari mencari kedamaian di dalam dada Jamal.


"Jam berapa?" tanya Jamal sambil mengusap lembut kepala Selin.


"Sekitar jam sembilan, mau tes semester," Jamal hanya manggut manggut, kemudian mereka terdiam dalam kenyamanan yang mereka ciptakan.


Di bawah sana, Selin merasakan senjata Jamal telah menegang. Senyumnya pun tersungging. Salah satu tangannya bergerak dan jatuh menggenggam benda yang sudah sangat menegang.


"Non Selin!" pekik Jamal sedikit terkejut saat merasa tangan Selin menggenggam senjatanya dan bergerak naik turun.


"Enggak lah, Non. Kasihan Non Selin entar kecapean. Kan mau tes? Kemarin aja kita udah main berapa ronde itu?" tolak Jamal terpaksa. Kalau boleh jujur ya dia ingin main terus. Untuk saat ini bagi Jamal, berbagi keringat dengan wanita secantik Selin, tidak ada bosennya.


Selin bukannya setuju dengan ucapan Jamal, dia malah menurunkan posisi tubuhnya hingga wajahnya tepat berada di hadapan senjata Jamal.


"Non!" pelik Jamal agak menunduk menatap kelakun anak majikannya.


"Aku pengin sarapan ini, Jamal!" balas Selin kemudian langsung menciumi seluruh permukaan senjata Jamal dari lubang di ujung sampai ke bulu bulu gondrong.


"Itu kotor, Non, belum di cuci loh," ucap Jamal memperingati.


"Ya udah, cuci pake lidahku aja," jawab Selin enteng. Dia langsung menujurkan lidahnya dan menjilati milik Selin layaknya makan permen rasa susu.


Jamal pun tak bersuara lagi, dia pasrah dan nyatanya itu enak. Di bawahnya Selin menjilat dan melahap milik Jamal dengan rakusnya. Jamal pun mulai mengeluarkan rintihan nikmatnya.


Selang beberapa menit kemudian, Selin menghentikan aksinya, tapi dia bangkit dan merangkak di atas tubuh Jamal. Sekarang posisi Selin sudah seperti kayak.


"Kenapa?" tanya Jamal saat mata mereka saling tatap.


"Masukin?" pinta Selin dengan suara yang agak berat karena gejolaknya naik. Jamal mengulas senyum dan tangan kanannya memegang benda miliknya yang sudah basah oleh ludah wanita diatasnya.


"Turunin pinggang kamu," titah Jamal dan Selin langsung menurutinya. Mata mereka sama sama melihat kebawah. Perlahan tapi pasti, benda menegang milik Jamal, mulai masuk ke dalam lembah Selin yang masih sempit.


"Aakh!" rintih Selin kenikmatan.


Setelah semua milik Jamal masuk kedalam, mereka tidak langsung bergerak. Kaki Jamal di tekuk untuk menahan gerakan pinggang nanti. Setelah saling diam, pinggang Jamal mulai bergerak perlahan, maju dan mundur menyodok lembah nikmat milik Selin.


"Nikmatnya, bangun tidur langsung nyodok."


...@@@@@...