TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 24 (Iqbal)


Mendengar ucapan Iqbal, Karin awalnya mencibir. Namun beberapa detik kemudian tawanya pecah. Meski tak terlalu keras, nyatanya suara tawa itu mampu menarik perhatian beberapa mata untuk menatap ke arahnya.


Karin tidak menyangka kalau sang supir itu percaya dirinya tinggi sekali. Dengan cueknya Iqbal mengatakan apa yang menururnya memang sedang terjadi. Padahal belum tentu juga wanita wanita itu memandang ke arah Iqbal karena kagum tapi lebih ke hal lain yang Iqbal sendiri tidak tahu.


Tak lama kemudian hidangan pun datang. Karena perut yang sudah sangat lapar, keduanya langsung saja menyantap makanan mereka. Dengan diringi beberapa obrolan, mereka menikmati makanan yang cukup lezat tersebut.


Rumah makan tersebut hampir sama dengan rumah makan yang ada di beberapa tempat. Selalu lama dalam penyajian, namun cepat habis ketika sudah siap di santap. Begitu juga Karin dan Iqbal. Hampir tiga puluh menit mereka menunggu pesanannya, namun tak sampai sepuluh menit hidangan itu telah habis dilahap keduanya.


Setelah selesai makan dan mengurus pembayaran, keduanya pun beranjak ke arah mobil dan pulang.


Hal yang paling males dan merasa berat bagi Karin adalah pulang. Setelah kedatangan kedua kakaknya ditambah hilangnya kepercayaan sang orang tua, membuat Karin selalu malas untuk pulang.


Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah kamar, dua perempuan terlihat sedang rebahan dengan malasnya. Dua wanita bernama Aleta dan Belinda itu, kesehariannya memang bermalas malasan di rumah. Kembalinya mereka ke negara ini, membuat kehidupan mereka merasa membosankan. Setidaknya itu bagi mereka.


Kehidupan bebas yang mereka jalani di negara sang nenek, membuat mereka merasa terpenjara di negara ini. Mereka jarang sekali keluar malam dan berkencan dengan laki laki. Apa lagi rencana perjodohan sang orang tua membuat mereka semakin muak dengan peraturan orang tuanya.


Melihat sang adik yang bebas pulang pergi kapan saja sepanjang waktu, justru membuat mereka iri. Mereka merasa ke dua orang tuanya pilih kasih. Mereka sudah pernah protes kepada orang tua, namun orant tua tak peduli. Malah semakin mengekang keduanya agar tak bertindak macam macam demi nama baik keluarga di muka umum ataupun di muka calon besan nanti.


Mereka akhirnya memutuskan untuk membuat sang adik agar tidak dipercaya oleh orang tuanya agar mereka bebas melakukan apa saja dan mendapat kepercayaan dari orang tua. Karena rasa iri dan merasa orang tua tidak adil makanya mereka melampiaskan kekecewaan mereka kepada sang adik.


"Bel, aku nggak sabar, Karin akan kena marah lagi oleh papih deh," ucap Aleta sembari mengoles mukanya dengan pelembab.


Belinda yang sedang berkirim pesan chat pun sejenak menghentikan berkirim pesannya. Dia menoleh ke arah sang Adik yang duduk di depan meja rias miliknya. "Ya kita tunggu saja, yang penting ingat, akting kita harus meyakinkan."


Aleta pun menyeringai. "Tentu dong. Bukankah itu sudah keahlianku."


"Bel, gimana kalau kita buat supir baru itu, memihak pada kita?" ucap Aleta tiba tiba. Lagi lagi Belinda pun menghentikan berkirim pesan chatnya.


"Memihak bagaimana?" tanya Belinda tak mengerti.


"Ya ampun, Bel. Masa nggak maksud?" ucap Aleta sembari beranjak dan mendekat ke arah ranjang dimana Belinda berada. "Maksudnya kita membuat supir baru itu menyukai kita dan terus kita bisa pengaruhi dia agar mendukung rencana kita agar Karin semakin tidak dipercaya Mamih Papih."


Belinda mencerna ucapan adiknya tersebut dan beberapa detik kemudian dia pun menyunggingkan senyumnya. "Benar juga katamu, Let. Lagian dia juga tidak mungkin bisa menolak pesona kita."


Mereka pun melakukan tos dan tertawa bersama. Hingga mereka mendengar ada mobil masuk. Keduanya yakin kalau itu adalah mobil yang kendarai Karin. Mereka pun segera keluar kamar.


Setelah keduanya berada di lantai bawah dan basa basi menyambut Karin, Aleta dan Belinda bergegas menuju ke tempat mobil yang baru saja di pakai Karin hendak memeriksa sesuatu.


"Kok nggak ada?" ucap Aleta nampak kebingungan.


"Kamu yakin sudah di taruh di dalam situ?" tanya Belinda memastikan.


"Yakin banget lah," jawab Aleta sembari tangannya terus menerus mencari benda yang dia taruh di dalam.kantung belakang jok mobil buat pengemudi. Belinda pun ikut mencari di sisi bagian lain namun tetap saja tidak ketemu.


Saat mereka sibuk mencari, tiba tiba secara bersamaan mereka memekik, "Atau jangan jangan benda itu sudah..."


...@@@@@...