TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 82 (Rizal)


Ide dadakan yang Miranda rencanakan akhirnya terlaksana juga. Bahkan dia langsung memesan dua tiket pesawat untuk dirinya dan Rizal semalam setelah Miranda bicara dengan suaminya.


Rizal, sudah pasti dia sangat bahagia dan bersemangat diajak ke Bali. Dia tidak pernah menyangka akan di ajak pergi ke Pulau dewata tersebut meski dia masih bingung tujuannya Miranda kesana mau apa. Dulu dia hanya bisa membayangkannya saja bisa pergi ke Bali, tapi kini, bahkan dia sampai bisa naik pesawat segala.


Hari ini, Rizal maupun Miranda sedang bersiap diri di kamarnya masing-masing. Sesuai pesan Miranda, Rizal tidak membawa baju ganti terlalu banyak. Rencana cuma tiga hari Di Bali. Rizal juga sebenarnya penasaran, dengan kata bulan madu yang Miranda ucapan. Rizal hanya menata beberapa baju di atas kasurnya karena Miranda memberi tahu agar baju-baju yang Rizal bawa nanti dimasukan ke dalam kopernya saja biar tidak terlalu repot.


Miranda juga tak kalah sibuknya pagi itu. Di dalam kamarnya, Miranda sedang melipat beberapa lingerie yang akan dia pakai nanti dan juga beberapa baju ganti. Setelah merasa semuanya siap, Miranda segera menarik kopernya keluar dari kamar.


"Jadi ke Bali hari ini?" tanya Tomi begitu melihat Miranda keluar kamar dengan menarik kopernya. Saat itu Tomi juga baru keluar kamar untuk bersiap berangkat kerja.


"Jadi, dong." balas Miranda senang.


"Hati-hati, kalau ada apa apa kasih kabar," ucap Tomi penuh perhatian sambil mengambil alih koper yang dibawa Miranda dan membawanya turun ke bawah.


"Pasti," balas Miranda.


Setelah sampai di bawah, Miranda memanggil Rizal untuk memasukan baju yang dia bawa ke dalam kopernya. Miranda memilih sarapan dulu dengan Tomi sambil menunggu taksi yang akan mengantar Miranda dan Rizal ke bandara.


Tak terasa, waktu keberangkatan telah tiba. Kini Rizal dan Milanda sudah berada di dalam pesawat terbang dan duduk bersebelahan.


"Jangan panik," ucap Miranda saat melihat ketegangan di wajah supir tampannya. Rizal pun memaksakan diri untuk tersenyum, padahal hatinya panik luar biasa karena ini adalah pertama kalinya dia menaiki pesawat terbang.


Tak lama kemudian pesawat pun terlihat lepas landas meninggalkan ibu kota menuju pulau dewata. Miranda tersenyum senang melihat Rizal yang beberapa kali menunjukkan rasa kagumnya memandang pemandangan luar dari jendela pesawat di sisinya.


"Nanti, jika kamu lama kerja bersamaku, kita tiap bulan bisa loh pergi ke Bali, Zal." ucap Miranda.


"Tiap bulan? Ngapain aja, Non?" tanya Rizal.


"Beneran, Non?" tanya Rizal memastikan.


"Beneranlah, makanya kamu yang betah kerja ngikut sama aku," ujar Miran menasehati.


"Pasti betah lah, Non. Apalagi Non Miran baik banget, gimana nggak betah coba," puji Rizal.


Miranda pun hanya mengulas senyum. Dalam hati dia berkata, "Kamu pasti akan semakin betah kalau setelah kita pulang dari Bali, Bal."


Kurang dari dua jam, akhirnya mereka pun sampai di Bali. Sebelum ke tempat penginapan, Miranda langsung mengajak Rizal jalan-jalan dulu. Tentu saja pemuda dua puluh tiga tahun itu dengan senang menyetujui. Dengan menggunakan mobil sewaan yang memang sudah menjadi langganan Miranda, mereka mengunjungi beberapa tempat wisata yang se arah dengan tempat menginap mereka nantinya.


Sungguh sepanjang perjalanan mampir kesana kemari, Rizal dan Miranda lebih terlihat seperti pasangan kekasih daripada pasangan supir dan majikan. Apalagi, Miranda dengan santainya bergelayut di lengan Rizal. Awalnya sih Rizal risih dan malu, namun dia tetap laki-laki normal yang suka diperlakukan seperti itu oleh wanita. Dan dia pun akhirnya pasrah saja.


Hingga malam tiba, mereka baru memutuskan menuju ke penginapan setelah merasa lelah dan puas. Mereka menginap di Villa milik Tomi. Sesampainya di Villa, mereka memutuskan langsung istirahat di kamar masing-masing karena merasa sangat lelah.


Hingga hari pun berganti lagi. Rizal yang bangun lebih pagi, bingung mau melalukan pekerjaan apa. Dia pun memutuskan keluar kamar. Setelah berada di ruang tengah, Rizal melihat ada halaman di belakang Villa dengan pemandangan yang sangat indah dan ada kolam renang juga, Rizal akhirnya memilih ke luar dan menikmati pemandangan di depan matanya.


"Daripada bingung, mending aku olahraga aja. Latihan silat disini," gumam Rizal.


Pemuda itu langsung melepas kaosnya dan mulai melakukan pemanasan. Hingga beberapa menit lamanya dia berlatih bermacam macam gerakan sampai keringatnya bercucuran.


Saat dia sedang memasang gerakan kuda -kuda, Rizal dikejutkan dengan pinggang yang tiba-tiba di peluk seseorang dari balakang. Dia pun langsung menoleh.


"Non Miran!"


...@@@@@...