
Bahagia. Itulah yang Rizal rasakan saat ini. Bagaimana dia tidak bahagia. Sekarang masa sulitnya telah dia lewati. Bahkan dia sekarang sudah mengantongi restu dari orang tua untuk lebih serius dan bertanggung jawab tentang hubungannya dengan Miranda. Bukankah sebuah hubungan akan terlihat sempurna jika sudah mendapat restu dari orang tua?
Rizal tidak menyangka, pertemuannya Andini dengan Jamal saat di pasar, menjadi jalan terang untuk Rizal memberi penjelasan sejujur jujurnya. Rasa syukur tentu saja langsung Rizal panjatkan. Dan Rizal juga harus berterima kasih pada sahabatnya, karena telah membantu berbicara dengan sang kakak sehingga restu itu terjalin.
Saat pagi menjelang setelah sarapan, Rizal langsung saja pergi ke rumah Jamal. Selain untuk bilang terima kasih, dia juga akan mengucapkan selamat. Dari Andini pula Rizal mendengar kabar kalau Jamal akan melamar kekasihnya.
Saat sudah berada di rumah sahabatnya, Jamal menyambutnya dengan ketus. Bahkan dia beberapa kali menggerutu. Tapi Rizal tidak peduli. Hanya Karena Rizal sedang merasa senang dan sangat berterima kasih, dia tidak mempedulikan cibiran sahabatnya.
Setelah perdebatan kecil usai, mereka akhirnya bisa ngobrol santai. Bahkan mereka teringat kalau satu sahabat mereka juga sedang ada masalah. Meski mereka tidak bisa membantu, mereka memutuskan mengunjungi sahabat mereka di rumahnya.
Dan disinilah Rizal dan Jamal berada. Di dalam kamar sahabatnya dengan perasaan terkejut setelah mendengar pengakuan Iqbal.
"Calon mertua? Calon mertua siapa?" tanya Rizal sembari duduk di tepi kasur. sedangkan Jamal memilih duduk di lantai.
Sebelum menjawab, Iqbal melanjutkan pekerjaannya yang memang sebentar lagi selesai. Setelelah selesai, Iqbal juga duduk di lantai menghadap kedua sahabatnya.
"Calon mertua aku, semalam dia kesini," jawab Iqbal. Kali ini wajahnya nampak lebih tenang. Tidak ada rasa frustasi, seperti hari kemarin.
"Majikan kamu? Wuihh, keren!" puji Jamal.
"Kamu disuruh kerja lagi sama mereka atau gimana, Bal?" tanya Rizal.
"Ya intinya hubungan aku sama Karin sudah di restui sama keluargaku dan keluarga Karin. Hari ini aku akan berangkat ke kota sama Maminya Karin," terang Iqbal.
"Lah terus orangnya sekarang dimana?" Jamal bertanya.
"Nyonya Amanda nginep di hotel kota lah, Mal. Nanti dia kesini jemput aku sekalian dia pulang. Lumayan kan, ngirit ongkos, hehehe ..."
"Dih! Bisa bisanya sampe mikir kesana," cibir Jamal.
"Berarti kamu juga akan segera menikah, Bal?" kini Rizal yang bertanya.
"Tuh si Jamal, mau lamaran," jawab Rizal mendadak ketus. Dia mendadak iri karena dua temannya akan segera meresmikan hubungan mereka, sementara dia harus menunggu proses perceraian Miranda dan Tomi terlebih dulu.
Sementara Jamal menyunggingkan senyum bangganya. "Gimana? Aku paling keren, kan? Diantara kalian?"
"Wuih, mantap!" seru Iqbal. "Tapi nggak perlu sombong juga kali, ih bikin enek."
"Hahaha ... sialan kamu, Bal. Tadi muji, sekarang menjatuhkan," umpat Jamal. "Tapi sepertinya ada yang nggak rela, kita akan segera menikah, Bal. Nggak ikhlas gitu."
Mendengar sindiran Jamal, Iqbal sontak melirik ke arah Rizal. Tawa Iqbal sontak menggema melihat wajah Rizal sudah berubah masam.
"Hahaha ...Sorry Bro, kita ambil start duluan. Salah sendiri, pacaran sama bini orang, udah pasti prosesnya akan sangat panjang," cibir Iqbal penuh ledekan. dia dan Jamal kompak terbahak, membuat Rizal semakin.
"Kalian aja, teman yang nggak ada akhlak," tuding Rizal bersungut singut. "Harusnya kalian tuh ingat. Kita tuh dari dulu apa apa bareng. Kemana mana bareng. Bahkan kerja pun mendapat masalah, bareng juga. Maka itu, bukankah lebih baik nikahnya juga bareng?"
"Hahaha... enak aja. Yang ada nanti, kamu yang senang, kita yang susah. Mending kita duluan aja, kamu harap sabar, hahaha ..." ucap Jamal. Dia merasa puas sekali meledek sahabatnya. Begitu juga dengan Iqbal, dia sampai tertawa terpingkal pingkal. Sedangkan Rizal hanya mampu mendengus sebal.
"Emang kamu kapan rencana lamarannya, Mal?" tanya Iqbal.
"Minggu depan. Lagian Emak juga baru sembuh, jadi sekalian saja sambil nunggu Emak pulih," jawab Jamal.
"Kamu sendiri gimana, Zal? Berangkat ke kota lagi nggak?"
"Kalau itu aku belum memutuskan. Soalnya Miranda katanya mau pindah rumah. Entah, orang tua ngijinin aku berangkat lagi apa enggak. Takut kebablasan lagi," jawab Rizal agak lesu.
"Ya udah, bicarakan aja dulu. Cari solusi yang terbaik. Yang enak sana sini," saran Jamal.
Hingga akhirnya obrolan mereka harus berhenti, karena orang yang menjemput Iqbal sudah datang. Setelah kedua belah pihak ngobrol sejenak, akhirnya Iqbal berangkat dengan mengantongi restu orang tuanya.
...@@@@@...