TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 40 (Iqbal)


Terpesona. Itulah kata yang pas, untuk menggambarkan tentang apa yang sedang dirasakan dua orang perempuan kakak beradik, Belinda dan Aleta. Mereka terpesona pada supirnya sendiri hanya gara gara melihat bentuk tubuh sang supir yang begitu atletis.


Sejak kepulangannya dari luar negeri, hidup mereka memang berubah. Mereka seperti terkekang, tak seliar saat berada di luar negeri. Mereka jarang berjumpa orang lain dan mungkin karena terlalu lama di luar negeri, mereka jadi seperti orang asing dan tidak memiliki teman. Apa lagi teman pria.


Sebenarnya Papih mereka sudah memberi saran, agar Aleta kembali kuliah dan Belinda kerja di kantor Papih atau membantu di restoran Mamih. Tapi mereka terlalu pemalas untuk melakukannya. Terbiasa dimanja sang nenek dan kakek membuat mereka sosok yang susah dikendalikan.


Di tambah masalah perjodohan yang orang tuanya lakukan, membuat hidup mereka semakin tak karuan. Bagaimana bisa ada perjodohan di jaman serba modern. Meski entah kapan perjodohan itu berlangsung, tetap saja hal itu membuat dua kakak Karin itu muak. Dan Karinlah tempat mereka melampiaskan amarahnya.


Jika diluar negeri, mereka bisa dengan mudah kenalan dengan pria dan jika cocok dan sama sama mau mereka bisa melakukan cinta satu malam, berbeda dengan di negara ini. Mereka tidak semudah itu mendapatkannya. Apalagi ada anggapan kalau punya orang lokal tidak segede punya orang bule, membuat mereka enggan mencari.


Tapi setelah melihat keindahan tubuh Iqbal, keduanya menjadi penasaran bagaimana rasanya punya produk lokal. Maka itu mereka secara tak sengaja bersaing menginginkan Iqbal.


"Pih, aku pengin keluar, boleh?" tanya Belinda saat mereka sedang menikmati sarapan.


"Mau kemana?" tanya Papih menoleh sedikit ke arah anaknya.


"Ya paling ke Mall atau ke tempat piknik," balas Belinda sembari memasukan makananya ke dalam mulutnya.


"Ya boleh, asal jangan sama laki laki." ucap Papih Martin memberi syarat.


"Sama Iqbal, Pih. Aku pengin Iqbal yang nyupir," balas Belinda.


"Nggak boleh, aku juga mau jalan sama Iqbal," tiba tiba Aleta ikut bersuara. Ternyata dari tadi dia diam sedang memikirkan cara bagaimana agar bisa berdua dengan Iqbal.


"Kenapa nggak boleh? Suka suka aku dong mau pake supir yang mana," bela Belinda kesal.


"Ya nggak bisa gitu dong, Bel. Orang aku duluan yang mau pake Iqbal." sungut Aleta tak mau kalah.


"Nggak bisa, aku yang akan memakai Iqbal." balas Belinda geram. Suasana sarapan di meja makan pun mendadak panas.


"Kenapa jadi pada rebutan Iqbal? Kan masih ada supir yang lain? Iqbal udah ada tugasnya sendiri," ucap Mamih yang sedari tadi diam memperhatikan sang anak berdebat rebutan supir.


Di saat perbedatan belum selesai, nampak Karin melengganng menuruni anak tangga dan mendekat ke arah meja makan.


"Rin, hari ini kamu pergi pakai supir lain, aku akan pakai Iqbal menemani belanja." titah Belinda saat melihat Karin mendekat ke meja makan.


"Nggak bisa." Balas Belinda.


Karin pun jengah menyaksikan kedua kakaknya berebut Iqbal. Sungguh dia mendadak tidak berselera sarapan hari ini. Melihat tingkah kakaknya membuat Karin merasa mual.


"Pih, Mih, Karin berangkat dulu." Pamit Karin dan dia pergi begitu saja.


"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Papih Martin, namun seperti biasa, Karin tidak menjawab dan itu membuat sang papih merasa sedih. Karin yang selalu hangat berubah jadi dingin karena hilangnya kepercayaan.


Amanda pun tak kalah sedih melihat sikap anak bungsunya. Sedangkan kedua kakaknya hanya berdecih dan tersenyum sinis kepada sang adik.


"Udah siap, Non?" tanya Iqbal begitu melihat Nona majikan keluar dari rumah berjalan ke arah Iqbal yang sedang berdiri bersandar mobil.


"Kalau belum siap ya mana mungkin aku ada disini, Bal?" balas Karin dan Iqbal pun tertawa lirih mendengar gurauan Nona majikannya.


Tak butuh waktu lama, Mobil pun telah meluncur meninggalkan kediaman Karin san sekarang melaju menuju kampus.


"Bal," panggil Karin.


"Iya, Non." balas Iqbal tanpa menoleh.


"Apa kamu pernah berbicara dengan kedua kakakku?" tanya Karin. Tentu saja keributan yang terjadi di meja makan mengundang rasa penasaran Karin, dan dia kaget ternyata kedu kakaknya ribut rebutan Iqbal.


"Enggak sih, Non. Cuma bertemu sekali, itu aja cuma sekilas, nggak sampe ngobrol. Kenapa? Ada masalah?" tanya Iqbal menjadi penasaran.


"Nggak sih, Bal. cuma aneh aja," balas Karin sambil terus menatap keluar mobil.


"Aneh apa, Non?"


"Mereka tadi rebutan kamu?"


"Hah!"


...@@@@@@...