TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 220


Kaget. Itulah yang Miranda rasakan saat ini. Bagaimana bisa orang tuanya begitu saja memecat Rizal. Apa hak mereka? Miranda memandang semua orang yang ada disana dengan tatapan penuh benci dan kecewa. Terutama kepada Tomi. Dia tidak menyangka dia bisa selicik itu untuk menyelamatkan aibnya.


"Hahaha ..." Miranda tertawa keras hingga membuat semuanya terperangah melihat tingkah wanita itu?"


"Jadi Mami lebih percaya dengan apa yang Tomi katakan?" tanya Miranda tenang tapi penuh kekecewaan.


"Tentu, karena dia sudah jujur. Dia nggak pernah ngebohongin kita meskipun kita hanya mertuanya. Nggak kayak kamu, selingkuh sama supir, memalukan," Balas Mami penuh penekanan, sungguh terdengar tajam dan menyakitkan.


"Mami nggak tanya, alasan kami sampai sekarang belum dikarunia anak? Apa jawaban dia? Pasti jawabannya belum dikasih aja, gitu?"


"Apa maksud kamu? Kamu jangan berusaha mengkambing hitamkan Tomi untuk menutupi kesalahan kamu."


"Hahaha ... bagus, tomi memang hebat," puji Miranda dengan tawa mengejeknya. "Sekarang Mami tanya coba sama besan Mami, aib apa yang mereka tutupi sehingga mau menikahkan Tomi sama aku, dengan iming iming membantu perusahan Papi yang bobrok dan hampir bangkrut?"


Sontak semuanya terkesiap mendengar ucapan Miranda. Terutama orang tua Tomi. Mereka tidak percaya kalau Miranda ternyata mengetahui kelemahan anaknya. Mereka menatap Tomi tajam hingga Tomi tidak berani menatap balik orang tuanya.


"Jangan kurang ajar kamu, Miranda!" bentak Papi Miranda.


"Tanya!" Miranda balas membentak hingga semuanya kaget dibuatnya. "Tanya sama besan kalian, kenapa sejak malam pertama Tomi tidak penyentuhku, tanya!"


Deg!


Kembali semua orang tua terperangah mendengarnya, kecuali Tomi. Mereka menatap tajam dan penuh tanya. wanita yang sedang meluapkan amarahnya.


"Papi dan Mami mertua, kalian pasti tahu kan, kenapa kalian menikahkan Tomi?" ucap Miranda dengan pandangan yang sama sejak tadi. Penuh amarah dan kekecewaan.


"Yang sopan kamu, Miranda!" hardik Mami.


"Makanya tanya Tomi," balas Miranda penuh penekanan kepada orang tuanya. "Tanya sama menantu kesayangan Mami, kenapa sejak malam pertama sampai sekarang tidak pernah mau menyentuhku? Kenapa dia tidak pernah memberi nafkah batin sama aku? Kenapa kita tidur di kamar terpisah? Kenapa aku dan Tomi harus bersandiwara menjadi pasangan bahagia di depan mata kalian semua? Tanya! Tanya sama lelaki pengecut itu!"


Kemarahan Miranda sungguh mencapai leviel tertinggi. Dia sudah kehabisan rasa sabar karena ulah Tomi.


"Apa? Tomi tidak pernah menyentuhmu, Mir?" tanya Mami mertua dengan suara yang terbata.


"Iya," jawab Miranda lantang. "Tiga tahun menikah, dia sama sekali tidak tertarik sama saya. Mau aku buka baju dihadapan dia pun, dia sama sekali tidak berselera. Bahkan isi celananya sama sekali tidak berdiri saat aku menggodanya."


Deg!


"Maaf besan, apa memang ada yang kalian tutupi dari kami? Apa yang terjadi dengan Tomi besan? Apa Tomi punya penyakit?"


Pertanyaan beruntun ayahnya Miranda membuat orang tua Tomi kebingungan. Sedangkan Tomi, wajah penuh kemenangan yang pertama kali dia tunjukkan berubah menjadi wajah pucat dengan penuh kebisuan. Dia terus menunduk karena tidak berani menatap orang tuanya.


"Kenapa diam, Tom? Jelaskan sama mereka kenapa kamu tidak mau menyentuhku? Jelaskan juga, kenapa kamu menyuruh orang menculikku?"


"Apa!" pekik semuanya.


"Tomi menyuruh orang untuk menculik kamu?" tanya Ayah mertua. "Apa alasannya?"


"Tanya aja sama anak Papi. Dia lebih tahu jawabannya kenapa memakai drama penculikan demi memenuhi ambisinya," balas Miranda yang kini sudah bersikap santai meski rasa kecewa mendominasi.


"Apa maksud kamu melakukan hal gila itu, Tomi? Apa!" bentak Ayah mertua.


Tomi gelagapan. Dia semakin tidak berani memandang semua orang yang ada disana.


"Kamu yang jawab atau aku yang menceritakan semuanya Tom? Atau kamu ingin polisi yang bertindak? Oke kalau itu yang kamu mau," tantang Miranda.


"Polisi?" lagi lagi semuanya nampak terkejut dengan apa yang mereka dengar.


"Ini maksudnya ada apa, Tomi? Kenapa sampai berurusan sama polisi?" tanya Mami mertua. "Kamu sungguh ingin mencoreng nama baik keluarga?"


"Bukan begitu, Mi," jawab Tomi dengan nada terbata. Nampak sekali kalau dia sangat gusar dan panik.


"Terus maksud kamu apa? Hah! Kenapa sampai polisi terlibat?" tanya Papi mertua dengan suara yang sangat keras.


"Tom, bilang sama kita, apa yang sebenarnya terjadi? jujur saja sama kita," bujuk Mami Miranda dengan lembutnya.


Tomi mendongak, memandang semua orang yang ada dihadapannya. kemudian dia kembali menunduk.


"Aku ..."


...@@@@@...