
"Wanita yang mengaku pacarku, dia adalah majikanku," aku Rizal sambil cengengesan.
"Apa?" tanya Iqbal dan Jamal hampir bersamaan.
"Jadi? Cewek yang waktu kita ketemu di Mall itu, majikan kamu?" sambung Jamal masih dengan wajah terkejut.
"Nggak tahu sih sebenarnya kita pacaran atau tidak, tapi dia kalau sama aku, nempel terus gitu. Ya aku nyaman dong. Apa lagi dia kadang manggil aku sayang. Aku nggak tahu dia beneran sayang sama aku atau tidak?" ungkap Rizal kepada dua temannya yang masih terkejut.
"Tapi kan dia udah nikah, Zal? Kamu nggak takut di tuduh merebut istri orang? Mana dia majikan kamu lagi?" ucap Iqbal.
"Takut sih, tapi kan dia nggak cinta sama suaminya," ucap Rizal membela diri.
"Ngga cinta gimana? Orang mereka udah nikah?" ucap Iqbal semakin heran.
"Gini yah, aku ceritakan," ucap Rizal. Kemudian dia pun menceritakan segala yang dia tahu dan dia lewati. Kedua sahabatnya yang mendengar pun nampak terkejut. Bahkan sesekali mereka melempar tanya karena merasa terkejut dan penasaran.
"Astaga! Kasian amat istrinya. Tiga tahun nikah tapi belum malam pertama?" tanya Jamal memastikan, dan Rizal mengangguk sebagai jawabannya.
"Entar dulu, entar dulu," ucap Iqbal merasa ada yang janggal dan mengganjal pikirannya. "Kalau kamu sama majikanmu sudah sedekat orang pacaran, jangan bilang kalau kalian ..."
Seketika Rizal menunjukkan wajah paniknya dan berusaha menghindari tatapan tajam Iqbal. Kening Jamal pun mengernyit dan mencerna perkataan Iqbal. Hingga beberapa saat kemudian Jamal paham kenapa Iqbal menggantung ucapannya.
"Kamu sudah melakukan malam pertama dengan majikanmu, Zal?" tanya Jamal langsung ke intinya sampai Rizal terkesiap. Merasa kedua tatapan sahahatnya sangat tajam dan mengintimidasi, Rizal pun akhirnya mengangguk sambil cengengesan.
"Astaga! Gila kamu, Zal!" pekik Jamal tapi kedua sahabatnya malah terbahak.
"Ya gimana lagi, dia yang nawarin, aku tak kuasa nolak. Mana dia suka pake baju seksi banget kalau lagi bersamaku," ucap Rizal membela diri. "Apalagi dia masih rapet, masih segel. Ya aku minat lah."
"Hah! Serius masih tingting?" tanya Iqbal kembali terkejut. Begitu juga Jamal.
"Aku aja kaget. Aku tuh nggak curiga apa apa waktu dia ngajakin bulan madu ke Bali. Kirain becanda, eh nggak tahunya bulan madu beneran."
"Wuih, mantap! Kamu main terus dong?" terka Jamal.
"Tiga hari, gila! Aku hanya heran, kenapa aku jadi beringas banget," ucap Rizal. "Dan sampai sekarang tiap ada kesempatan, kita main."
"Tapi aku takut dengan suaminya. Bukan takut dia marah, tapi suaminya ngejar aku juga. Ibarat kata nih ya, suaminya tuh bersaing sama istrinya untuk mendapatkanku, apa nggak gila," ujar Iqbal.
"Ya udah, terima aja suaminya, kan lumayan tuh, suami istri tunduk dalam permainan ranjang kamu," ucap Iqbal asal.
"Amit amit deh, enakan istrinya kemana mana lah," sungut Rizal dan kedua sahabatnya terbahak bersama.
"Tapi kamu hati hati, Zal. Cowok seperti suaminya majikanmu bahaya loh," ucap Jamal memperingati.
"Pasti lah, yang penting aku jaga diri aja," balas Rizal. Dan sejenak mereka terdiam sembari menenggak minuman dalam kemasan botol yang sedari mereka genggam.
Semakin siang, suasana tempat wisata semakin ramai di penuhi pengunjung. Rizal, Iqbal dan Jamal masih duduk di kursi yang terbuat dari susunan batu bata yang dilapisi campuran semen dan pasir berbentuk melingkar dengan meja juga terbuat dari bahan yang sama di tengah tengahnya. Bangunan serupa juga terlihat berjejer di salah satu sudut dan banyak stand penjual makanan dan minuman di sebelahnya.
"Sekarang gantian dong yang cerita, masa aku doang. Terus kalian ketemu pacar pacar kalian dimana? Apa mereka dari kalangan orang kaya? Kalau aku perhatiin sih iya," ucap Rizal bertubi tubi.
Kedua sahabat Rizal saling pandang, kemudian salah satu diantara mereka membuka suara terlebih dahulu.
"Ya aku memang lagi deket sama cewek dan cewek yang kalian lihat emang anak orang kaya," ucap Jamal sambil menatap kedua sahabatnya.
"Kok bisa? Kenal dimana?" tanya Iqbal.
"Kenal di rumahnya lah, dia anak majikanku," ungkap Jamal.
"Loh? Kok bisa? Gimana ceritanya?" cecar Rizal.
"Namanya Selin, kasihan dia. Orang tuanya akan bercerai," jawab Jamal sembari pandangannya menerawang ke arah lain tapi pikirannya tertuju pada anak majikannya. Kedua sahabat Jamal pun terlihat tegang. "Ibunya parah sih."
"Parah gimana?" tanya Iqbal.
Jamal menatap lekat kedua sahabatnya dan menghembuskan nafasnya secara kasar. "Ibunya Selin juga suka denganku."
"Hah!"
...@@@@@...