TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 255 (Jamal)


Suatu malam di sebuah rumah sakit, di dalam satu ruang rawat inap yang terlihat sepi. Dua orang pria berbeda usia, nampak sedang santai dan bercengkrama sembari menemani seorang wanita paru baya, yang terbaring lemah di atas brangkar.


"Non Selin itu dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, Pak. Punya ibu, tapi bukan ibu kandungnya. Entah kenapa Ibunya itu seperti nggak suka Non Selin bahagia. Padahal yang salah bapaknya, tapi yang disakiti malah anaknya."


"Maksudnya itu gimana, Mal? Dia punya ibu tapi bukan ibu kandungnya? Lah terus dia anaknya siapa?"


"Dia anak selingkuhan dari Tuan Gustavo, Pak. majikan Jamal."


"Hah! Maksud kamu, Mal?" tanya Bapak dengan penuh keterkejutan.


Jamal sejenak menjeda ucapannya. Dilihatnya keadaan sang ibu yang sepertinya tertidur sangat pulas. Sedangkan sang adik, nampak tidak peduli dengan percakapan Jamal dan Bapaknya. Dia terlalu asyik dengan ponsel dan nasi gorengnya.


"Majikan Jamal itu menikah tapi tidak dikarunai anak, Pak," ucap Jamal mulai menceritakan keluarga majikannya. Sebenarnya Jamal tidak layak menceritakan masalah keluarga Gustavo, tapi Jamal hanya tidak mau nanti orang tuanya kecewa kembali jika mereka tahu tentang asal usul Selin. Jadi Jamal memilih mengungkap saja apa yang dia tahu.


"Astaga! Terus istrinya gimana?"


"Ya makin parah, Pak. Dia seperti punya kelainan. Dia bahkan ngajak Jamal untuk kerja sama dia. Dia sepertinya tidak rela melihat Non Selin bahagia, Pak."


Bapak nampak geleng geleng kepala. Dia heran dan merasa tidak percaya dengan cerit anaknya.


"Maka itu, Pak. Jamal ingin melindungi Non Selin. Apalagi setelah dia tahu masa lalunya, Non Selin menganggap dia anak haram yang tidak pantas untuk pria manapun. Dia sangat terguncang, Pak. Karena itu juga, dia jadi begitu dekat dengan Jamal."


"Tapi tidak harus dengan zina kan, Mal? Masih banyak cara yang bisa kamu lakukan. Kenapa kamu malah memilih jalan nista itu untuk melindunginya?"


"Jamal tahu, Pak. Jamal telah memilih jalan yang salah. Maka itu daripada Jamal terus berbuat salah, mending Jamal mengakuinya, bukan?"


"Ya terserah kamu aja lah, Mal. Tunggu saja keputusan Emak bagaimana. Dia yang paling terpukul dengan kelakuan kamu."


"Jadi Bapak merestui Jamal?"


"Ya tergantung Emak. Apa lagi perbedaan kalian sangat mencolok. Bapak cuma nggak mau, ada prasangka buruk nanti kedepannya."


Jamal hanya mengangguk beberapa saat sambil menatap sang Emak. Dia tahu perbedaan itu apa. Jamal hanya berharap semuanya lancar tanpa membuat orang tuanya kembali kecewa kepadanya.


Malam ini, Jamal memilih untuk menjaga Emak di rumah sakit. Bapak dan Akmal disuruh istirahat di rumah karena Akmal harus sekolah dan bapak biar biasa istirahat yang cukup.


Bapak setuju. Mereka beranjak pulang dengan ojek. Beruntung, di kota kecil itu, hampir tiap hari selalu ada orang yang mencari rejekinya dengan mengojek.


Sambil menunggu Emak, Jamal lantas berkirim pesan dengan Selin. Selain untuk mengusir jenuh, berkirim pesan dengan Selin adalah jalan Jamal untuk melepas rindu pada gadis itu. Gadis yang selalu bersikap manja kepada Jamal dimanapun mereka berada.


"Kelihatannya kamu sangat bahagia?" seketika Jamal yang sedang senyum senyum langsung tekejut saat mendengar suara yang sangat dia kenal.


"Emak!" pekik Jamal gelagapan. "Emak kok bangun? Apa Emak mau ke toilet? Atau emak mau minum?


Jamal semakin terkesiap mendengarnya. "Jadi Emak ..."


"Ya.Emak mendengar semuanya."


"Terus tanggapan Emak gimana?"


Alih alih menjawab pertanyaan anaknya, Emak meminta minum dan duduk. Dengan sigap, Jamal membantu sang Emak.


"Emak tidur lagi aja, ini sudah sangat malam," saran Jamal.


"Capek, Bal. Emak tidur dari jam berapa coba? Malah tambah pusing tidur terus."


Jamal menghempas kasar nafasnnya. "Ya udah, Emak nggak pengin makan sesuatu?"


"Nggak lah, Mal. Emak lagi nggak pengin apa apa."


Jamal pun pasrah, kemudian dia minta ijin Emak pergi ko toilet. Emak hanya mengangguk kemudian dia menatap kepergian Jamal masuk ke dalam toilet yang ada di ruangan yang sama.


Pikiran Emak berkelana. Dia memikirkan semua yang Jamal ceritakan kepada bapaknya. Entah apa yang sedang Emak pikirkan saat ini. Yang pasti, ada terbesit rasa bangga karena Jamal tidak lepas tanggung jawab begitu saja. Ini memang kesalahan terbesar Jamal, tapi Ini kesalahan besar pertama anak pertamanya. Emak memijat pelipisnya karena merasa pusing memikirkan tingkah anaknya.


"Emak kenapa?" Pusing?" tanya Jamal. Begitu dia keluar toilet, Jamal melihat Emaknya sedang memijat kepala.


"Pusing sesidikit," jawab Emak.


"Sini Jamal yang pijat aja, Mak."


"Nggak usah, orang cuma pusing sedikit. Ini juga udah mendingan."


Jamal kembali pasrah. Kemudian dia duduk di kursi dekat brangkar Emaknya.


"Mal."


"Hum? Apa, Mak?"


"Kapan kamu akan melamar anak majikanmu?"


Deg!


...@@@@@@...