
"Aku yakin sih, hubungan istri Mas Tomi bukan sekedar hubungan supir dan majikannya," ucap Rio sembari menyeringai menatap ke arah tiga pemuda yang masih duduk tak jauh dari dirinya. Terlihat di mata Rio, dua wanita yang duduk bersama Jamal dan kawan kawan pergi meninggalkan pemuda itu. Entah alasan apa kedua wanita itu pergi dan itu tidak penting. Yang penting bagi Rio dia punya sesuatu untuk membuat jera Jamal dan juga Selin.
"Maksud kamu?" tanya Tomi. Dia belum mencerna ucapan pemuda yang dia kenal sejak beberapa hari itu. Pemuda itu bernama Rio. Pemuda yang dia tolong saat sedang mabuk di dalam sebuah club. Karena ketampanan yang Rio miliki membuat Tomi mau bersusah payah menolongnya dan membawanya ke sebuah hotel.
Jika Rio dalam keadaan sadar, bisa saja Rio akan menolak apa yang Tomi lakukan malam itu. Tapi karena kondisi Rio yang sedang mabuk berat membuat Tomi mempunyai peluang besar untuk menyusuri setiap inci kulit tubuh Rio dan juga dengan mudahnya dia melepas semua pakaian pemuda itu.
Tentu saja begitu Rio sadar di pagi harinya, dia kaget karena sedang tidur berdua dengan Tomi tanpa busana. Awalnya dia marah dan hampir memukul Tomi. Tapi saat Tomi menunjukkan cek dengan nominal yang sangat menggiurkan, luluh lah Rio saat itu juga. Bahkan pagi itu juga, Tomi kembali menikmati senjata Rio dengan mulutnya. Awalnya Rio merasa jijik, tapi karena tergiur dengan bayaran tambahan yang akan dia terima, Rio pun akhirnya memilih pasrah juga. Dan hubungan mereka terjalin hingga detik ini.
"Harusnya Mas Tomi belajar dari pengalamanku, pacarku aja bisa selingkuh dengan supirnya, apa lagi istri Mas Tomi," Tomi terperangah mendengar ucapan Rio. Matanya beralih arah menatap ke tempat Rizal berada.
"Aku rasa itu tidak mungkin," sanggah Tomi meski hatinya ragu dengan ucapannya sendiri. Hati Tomi kini berkecamuk membayangkan hal yang baru saja Rio katakan. Apa benar Miranda bisa bermain api di belakangnya? Dan berbagai dugaan bermunculan di hati dan pikiran Tomi.
"Bagaimana itu tidak mungkin terjadi jika istri Mas Tomi mungkin tidak mendapat kepuasan dari Mas Tomi, apa selama dalam menjalani rumah tangga, Mas Tomi memberikan kepuasan batin juga pada istri kamu, Mas?"
Deg!
Ucapan Rio terdengar sangat menohok ulu hatinya. Bagaimana bisa Rio melontar pertanyaan seperti itu? Tapi kenyataannya Tomi memang tidak pernah memberi Miranda nafkah batin sejak mereka menikah. Bahkan tidur satu ranjang pun bisa di hitung dengan jari tangan dan jari kaki.
Miranda memang pernah menggodanya beberapa kali, tapi sungguh Tomi tidak bisa merasakan apapun meski Miranda berdiri di hadapannya tanpa memakai busana.
"Benarkan apa yang aku katakan, Mas? Istri kamu tidak mendapat kepuasan dari suaminya?" tanya Rio lagi untuk memastikan apa yang sedang dia pikirkan.
"Jangan bicara omong kosong kamu, Ri. Aku juga bisa memuaskan istriku sendiri, kalau nggak, mungkin pernikahan kami nggak akan bertahan sampai detik ini," kilah Tomi.
"Aku tahu, kamu sedang berbohong, Mas. Tapi ya oke deh aku akan percaya saja. Toh, itu kehidupan pribadi Mas Tomi. Tapi jangan salahkan aku jika suatu saat ucapanku terbukti benar, karena tidak menutup kemungkinan jika istri Mas Tomi tertarik dengan supir setampan dia, bukankah Mas Tomi juga tertarik sama supir itu? Apa lagi istri Mas Tomi yang tiap hari bersamanya," ucap Rio santai tapi terus meracuni pikiran Tomi.
Bahkan Tomi sekarang menjadi ragu dengan keyakinannya sendiri. Apa yang Rio ucapkan jelas saja mengusik pemikirannya. Selama ini memang Miranda tak pernah terlihat macam macam, itu karena saat supir yang menemani Miranda adalah supir pilihan Tomi, jadi Tomi bisa dengan mudah mendapat info kegiatan Miranda tiap hari dari mulut sang supir saat Tomi berduaan dengan supir tersebut. Tapi sejak Miranda memilih supirnya sendiri, Tomi memang tidak bisa memantau apa yang Miranda lakukan.
"Jangan ingkari kata hatimu, Mas Tomi, semua yang kelihatan baik baik saja, bisa jadi itu hanya topeng untuk menutupi kebusukan yang terjadi, seperti rumah tangga Mas Tomi yang digunakan sebagai senjata untuk menutupi kekurangan Mas Tomi sendiri."
Deg!
lagi lagi apa yang Rio katakan memang benar adanya.
...@@@@@@...