
Jamal pikir Selin akan marah. Jamal pikir Tuan Gustavo akan memecatnya. Jamal pikir Mbok Sum dan yang lainnya akan memandang rendah Jamal. Ternyata setelah mendengar apa yang Jamal jelaskan, membuat Jamal lega.
"Jadi itu foto yang pernah kamu ceritakan sama aku, Mal?" tanya Selin. Nyatanya Selin baru tahu, foto yang pernah diceritakan Jamal saat liburan bersama dua sahabatnya.
"Iya, Non. Makanya aku dulu langsung cerita sama Non Selin, aku takut Non Selin salah paham lagi, terus marah marah," jawaban Jamal tentu saja membuat tanda tanga pada semua orang ada di meja makan kecuali Selin.
"Salah paham gimana, Mal?" tanya Gustavo.
Jamal pun menceritakan tentang usaha Sandra yang meminta dia jadi supir pribadi wanita itu. Bahkan demi obsesinya kepada Jamal, Sandra sampai berbohong akan menjadikan Jamal model dan artis. Selin salah paham karena dia berpikir Jamal mau menerima tawaran Sandra. Apa lagi Jamal dan Sandra dua kali duduk bersama di caffe depan kampus.
"Astaga! Nyonya Sandra sampai berbuat seperti itu, Mal?" kini Mbok Sum yang bertanya dengan wajah hang sangat terkejut. Yang Mbok Sum tahu, Sandra adalah wanita yang baik.
Meski dulu sering meninggalkan Selin karena alasan pekerjaan, nyatanya selama menjadi majikannya, Mbok Sum tidak pernah melihat perangai buruk dari wanita itu. Dan Mbok Sum baru tahu sisi lain seorang Sandra saat dia ketahuan selingkuh dengan Rio, pacarnya Selin.
Jamal mengangguk. "Iya, Mbok. Mungkin jika bukan karena mengingat Non Selin, aku udah menerimanya, Mbok. Lumayan kan, gaji yang ditawarkan gede banget."
Semua yang ada di meja makan nampak tersenyum dan manggut manggut mendengar jawaban Jamal yang jujur dan apa adanya.
"Tuh, Pa. Jamal minta naik gaji," ucap Selin sambil cengengesan melirik ke arah Jamal.
Jamal pun terkejut mendengarnya. "Nggak Tuan. Bukan maksud aku begitu. Ih Non Selin apa apaan sih?"
"Aku kan cuma nyampein unek unek kamu, pengin gaji yang gede," balas Selin tak mau kalah.
"Udah udah, nanti ada waktunya Jamal naik gaji," ucap Gustavo menengahi. "Terus, kenapa kamu menolak demi Selin? Bukankah itu peluang buat kamu, Mal?"
"Iya saya tahu, Tuan, tapi saat itu kondisi Non Selin sedang tidak baik baik saja. Dia sendirian. Tidak ada keluarga dan teman. Cuma ada saya yang paling dekat. Mana saya mampu dan tega meninggalkan Non Selin saat rapuh begitu," dengan lancar dan tanpa ragu juga tidak bermaksud ingin mencari muka, Jamal menjawab pertanyaan Gustavo apa adanya.
Tentu saja Gustavo merasa terharu dengan kepedulian Jamal kepada anaknya. Jamal anak kemarin yang baru dia kenal, tapi dilihat dari gelagatnya, dia tulus kepada sang anak. Padahal yang Gustavo tahu, seluruh keluarganya tidak pernah sepeduli Jamal, mengingat masa lalu Selin.
Gustavo sadar betul, apa yang menimpa Selin adalah kesalahannya di masa lalu. Bahkan besar kemungkinan Selin akan susah mencari pendamping hidup karena masa lalunya juga. Penyesalan memang selalu datang belakanganan. Tapi setidaknya, Gustavo berhasil memiliki anak dari darah dagingnya sendiri.
"Sudah terlambat, Tuan. Usia sekolahnya sudah melebihi batas," jawab Jamal sambil cengengesan.
"Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, Jamal. Kalau kamu mau, saya akan panggilkan guru untuk membimbing kamu, jika kamu sanggup, nanti kamu bisa mencoba kerja di kantor saya, gimana?" semua sontak terkejut mendengar penawaran Gustavo.
"Papa serius?" tanya Selin dengan tatapan tak percaya, sekaligus pertanyaan tersebut mewakili Jamal dan yang lainnya.
"Ya serius, emang kamu lihat Papah lagi bercanda?"
"Wah! Mau aja, Mal. Kesempatan kamu itu," ucap Mbok Sum. Semua yang ada disana juga sama sama mendukung Jamal agar mau menerima tawaran Gustavo.
"Aduh, Tuan. Saya nggak enak jadinya," ucap Jamal.
"Nggak enak kenapa?" Selin yang bertanya. "Ini kesempatan buat kamu loh, buat merubah nasib kamu. Emang yang bisa merubah nasib kamu, mama doang? Papa juga bisa. Apa kamu sebenarnya berharap kerja dengan mama?"
Sontak Jamal terkesiap mendengar cercaan dari Selin. "Ya bukan begitu maksud aku, Non. Nanti jika aku kerja di kantor, yang mengantarkan Non Selin siapa?"
Lagi lagi Gustavo dibuat tertegun dengan ucapan Jamal. Dia bahkan sampai mengulas senyum melihat kepedulian Jamal kepada anaknya.
"Jangan khawatir, kamu masih bisa jadi supir Selin, Mal," balas Gustavo.
"Benarkah, Tuan?" Gustavo mengangguk. "Baiklah, saya terima tawaran Tuan."
"Bagus."
...@@@@@@...
Lama nggak menyapa reader, hai reader apa kabar? Makasih ya sudah setia sampai detik ini dengan novel pertamaku yang lumayan panjang. Tarima kasih sudah mau mendukung hingga detik ini. makasih banyak.