TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 127 (Rizal)


"Kenapa bisa gagal?"


"Maaf, Tuan. Ya aku nggak tahu kalau Rizal masih polos gitu. Aku pikir dia pria gampang."


"Bodoh, kamu terlalu ceroboh, coba kalau semalam Miranda tahu perbuatan kamu, bisa bisa aku yang kena marah karena membiarkanmu kerja di sini."


"Ya maaf, Tuan. Lain kali aku akan hati hati deh."


"Ya sana keluar, lanjutkan pekerjaanmu."


Linda pun keluar dari ruangan Tomi. Pria itu sungguh nampak frustasi. Tidak biasanya dia akan susah menaklukan pria normal agar belok. Cukup dengan iming iming uang maka pria normal yang tak kuat iman akan tunduk dan berakhir di ranjang bareng Tomi.


Tidak untuk Rizal. Tomi sangat kesulitan menaklukannya. Padahal uang yang begitu besar sudah dia tawarkan. Sekarang dia bergantung kepada Linda. Sesuai saran teman kencan prianya beberapa waktu lalu, Tomi harus memilki sesuatu yang bisa buat ngancam Rizal. Tomi pun berpikir keras sampai dia menemukan ide menjebak Rizal dan Linda. Tapi awal percobaan menjalankan ide malah gagal.


Sementara di kediamannya, Miranda yang katanya mau ngajak Rizal berangkat pagi, malah tidak jadi. Setelah Tomi berangkat bersama Linda, Miranda malah ngajak Rizal ke kamarnya dengan alasan membereskan barang agar Mbak Sari tidak curiga. Sekarang mereka malah sedang bermesraan setelah melakukan permainan panas mereka. Kini Miranda berbaring di dada bidang Rizal sambil tangannya memainkan benda Rizal yang basah dan lengket oleh air kental yang bercampur antara milik Miranda dan Rizal.


"Non kalau kita main terus kaya gini, bulan depan bisa bisa, Non Miranda hamil ya?" tanya Rizal yang terdiam menikmati perlakuan tangan Miranda di bawah perutnya.


"Ya tergantung, kalau aku datang bulan ya berarti tidak jadi," balas Miranda.


"Emang, Non Miran datang bulannya kapan?"


"Sekitar satu minggu lagi."


"Yah, kalo Non Miran datang bulan kita nggak bisa main dong, Non?"


"Ya libur, Sayang. Cuma satu minggu ini."


"Lama banget, satu minggu. Bakalan kangen banget pasti nanti."


"Kan kita masih sering ketemu."


"Tapi kan nggak masuk lubang Non Miran."


"Astaga! Gemesin banget, masa nggak bisa sabar," Miranda mendongak dan bergeser mendekati pipi Rizal dan mencium pipinya lama banget karena terlalu gemas.


"Sekarang mandi gih, bentar lagi kita berangkat," ucap Miranda setelah memcium pipi.


Begitu selesai perang bibir, Rizal bangkit dan turun dari ranjang serta memungut pakaiannya yang berserekan di lantai dan memakainya. Sebelum keluar kamar, bibir Miranda kembali beradu dengan bibir Rizal.


Hingga beberapa waktu pun berlalu, kini Miranda telah berada di kantor butiknya dengan segala desain yang ada di atas meja di hadapannya. Sementara Rizal dia memilih berdiam diri di dapur butiq seperti biasa. Bermain ponsel dan tidur disana.


Sebenarnya Miranda sudah menyuruh Rizal istirahat di dalam kantornya tapi Rizal menolak karena takut karyawan Miranda pada curiga dan itu tidak baik buat hubungan mereka. Miranda pun mengerti dan memakluminya. Lagian jika Rizal berada di kantornya, nanti yang ada Miranda tidak konsentrasi dalam melanjutkan pekerjaannya yang sudah sangat menumpuk akibat berlibur ke Bali.


Dan tak terasa, lagi lagi waktu berjalan begitu cepat hingga waktu pulang pun tiba. Sebelum pulang, Miranda memilih jalan jalan dulu bersama Rizal. Mereka sungguh seperti orang yang kasmaran. Inginnya berdua terus.


Kini keduanya berada di dalam sebuah Mall sekedar muter muter keliling di dalamnya. Sepanjang langkah kaki, mereka selalu menempel dengan tangan yang saling bertautan.


"Zal, nanti malam kalau semua sudah pada tidur, kamu pindah ke kamarku aja yah?" pinta Miranda di tengah tengah menikmati waktu kencannya.


"Apa nggak bahaya, Non. Nanti ada yang curiga gimana?"


"Kalau semuanya sudah pada tidur ya aman lah, Zal."


"Kan takutnya nanti ada Linda yang memergoki, Non. Linda sepertinya bebas tuh ke lantai atas," ucapa Rizal memang benar. Linda memang meresahkan.


"Justru itu, Zal. Aku takut kamu kegoda sama Linda. Secara pakaiannya dia seksi banget."


"Hahaha ... ya nggak lah, Non. Lebih cantik dan seksi Non Miranda. Lagian lubang Linda mungkin sudah dimasukin orang. Mending punya Non Miran, cuma aku yang masuk," Miranda pun tersanjung mendengarnya dan dia makin bergelayut mesra di lengan Rizal.


"Zal, kita beli minum yuk, di sana," tunjuk Miranda.


"Ayo!" dan mereka pun menuju ke stand penjual minuman yang lumayan antri.


Saat mereka sedang berdiri di depan stand guna membeli minuman, tiba tiba ada yang menepuk pundak Rizal.


"Hayo loh! Lagi ngapain di sini?"


Rizal menoleh dan matanya seketika membelalak sempurna


...@@@@@...