TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 37 (Rizal)


Jika mengingat peristiwa saat pagi, Miranda sebenarnya sangat malu sendiri. Bagaimana bisa tanpa sadar, dia memakai baju seperti itu di depan supirnya. Kalau di depan suaminya sih Miranda tidak peduli. Toh kenyataannya seseksi apapun Miranda, Tomi tidak berselera. Bahkan jika Miranda tanpa busana sekalipun, senjata Tomi sama sekali enggan bangun dan berdiri tegak. Maka itu Miranda merasa biasa saja berpakaian seperti tadi.


Yang membuat dirinya merasa malu adalah adanya Rizal. Miranda yakin Rizal pasti melihat sesuatu di baju tidur tipis dan tembus pandang yang dia pakai. Meski di dalamnya Miranda memakai pakaian khusus wanita, namun pakaian itu yang menjadi pusat malunya Miranda. Kain penjerat bukit kembarnya hanya yang menutupi dua pucuk bukit dan segitiga bermuda yang Miranda pakai juga hanya menutupi celah pribadinya. Miranda yakin, Rizal pasti melihatnya dengan jelas.


Kini Miranda sedang dalam perjalanan menuju butik. Karena saking malunya, Miranda lebih banyak diam. Hanya matanya yang sesekali melirik supir tampannya itu.


Sedangkan Rizal, tentu saja dia kepikiran dengan apa yang dia lihat. Sebagai laki laki normal, dia pasti terpana dengan indahnya tubuh majikannya. Apalagi itu untuk pertama kalinya dia melihat pemandangan seperti itu. Maklum, di kampung tidak mungkin ada wanita berani keluar kamar dengan memakai pakaian yang sama seperti punya Miranda tadi pagi.


Meski belum lama berkerja di rumah itu, Rizal sudah benyak sekali menemukan dan mengalami kejadian kejadian yang begitu mengejutkan. Yang membuat dia sangat terkejut adalah keadaan Tuan Tomi. Bisa bisanya punya istri secantik Miranda malah dianggurin dia memilih berbagi keringat dengan orang sejenisnya.Benar benar tak habis pikir.


"Non," panggil Rizal saat dia sedang fokus menyetir.


"Apa, Zal?" tanya Miranda sembari menoleh menatap Rizal.


"Dari tadi diam mulu? Apa Non sakit?" tanya Rizal.


Miranda tercengang. Dengan bertanya seperti itu berarti diam diam Rizal memperhatikannya dari tadi. Seketika Miranda langsung mengulas senyum. Padahal cuma bertanya hal biasa, tapi bagi Miranda itu sangat menyentuh hatinya.


"Enggak, Zal. Cuma lagi mikirin kerjaan aja," kilahnya. Sebenarnya dia lagi memikirkan Rizal dan kejadian tadi pagi.


Rizal pun hanya ber oh ria dan manggut manggut. Hingga tak terasa sampailah mereka di depan butik Miranda. Dan seperti biasanya pula, Miranda langsung ke ruangannya dan Rizal memilih beristirahat di dapur.


Namun kali ini nampaknya Miranda kedatangan tamu. Dua orang temannya yang sekarang tinggal di luar negeri.


"Violin, Natasha!" pekik Miranda yang nampak syok melihat kedua sahabat karibnya sudah berada di ruang kerjanya. Mereka pun langsung berpelukan.


"Dih, mentang mentang Bos, jam segini baru mulai kerja." cibr Violin setelah setelah melepas pelukannya. Miranda hanya terkekeh kemudian dia duduk di kursi kebesarannya.


"Emang kalian dari tadi datangnya?" tanya Miranda begitu pantatnya menyentuh kursi kebesarannya.


"Iya lah, sampai kehausan kita nungguin kamu." adu Natasha.


"Astaga! Kenapa kalian ngggak bikin sendiri aja?" tanya Miranda sambil cengengesan.


"Iya iya." jawab Miranda gemas. Dia langsung melakukan panggilan otomatis dari telfon khusus yang ada diatas mejanya. Setelah telfon itu terhubung ke meja kasir di lantai bawah, Miranda langsung memberi perintah kepada salah satu karyawannya membuatkan kopi untuk tiga orang. Dan setelahnya, mereka pun langsung heboh ngobrol dan bergosip.


Selang beberapa menit kemudian kopi pun datang. Kedua teman Miranda terperangah melihat dengan orang yang membawa kopi. Bukan karyawan butik, tapi sang supir.


"Siapa dia, Mir?" tanya Violin begitu Rizal keluar setelah mengantar kopi.


"Supir aku," jawab Miranda.


"Gila, ganteng banget. Tapi belok yah?" tanya Violin.


"Enggak lah, itu kan aku sendiri yang nyari. Jadi aman," balas Miranda. Selain pembantu di rumah, kedua sahabat Miranda juga tahu keadaan rumah tangga Miranda.


"Wah, keren! Nemu dimana supir secakep itu, Mir?" balas Violin dengan mata yang dipenuhi sorot kekaguman.


"Nggak tahu, pembantu aku yang pasang iklan. Eh malah dapat dia." jawab Miranda. Kedua temannya manggut manggut.


"Kamu nggak tertarik sama dia, Mir?" pertanyaan Violin membuat Miranda tertegun. Tentu saja dia tertarik. Mana ada sih? Wanita yang tidak tertarik dengan pria tampan?


"Tertarik bagaimana?" tanya Miranda pura pura.


"Ya tertarik untuk ngajak dia tidur bareng mungkin?" ucap Violin enteng tapi hanya dibales cebikan bibir oleh Miranda. "Ya kan siapa tahu."


"Ada ada aja kalau ngomong." sungut Miranda dan keduanya pun tertawa.


Namun tawa mereka seketika sirna saat Natasha bertanya, "Jangan jangan sampai detik ini, segel kamu masih rapet, Mir? Belum ada yang nerobos?"


Deg!


...@@@@@@...