
Selain Iqbal dan Rizal yang sedang merasakan kebahagiaan, Jamal juga merasakan kebahagian yang lebih besar. Selain sudah mengantongi restu dari orang tua sendiri dan Tuan Gustovo, Kebahagian Jamal semakin lengkap karena dua sahabatnya juga kini telah menyelesaikan masalahnya dengan baik. Bahkan mereka juga sama sama mengantongi restu dari orang tua untuk melanjutkan hubungan mereka.
Berhubung tidak ada kegiatan yang berarti, siang ini Jamal mengajak keluarganya pergi ke kota. Selain piknik di tempat terdekat, Jamal juga harus menyiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran nanti. Dengan menyewa mobil di tempat Jamal belajar menyetir, pemuda itu membawa keluarganya menuju ke salah satu tempat wisata alam.
Ini adalah momen yang sama sekali tidak pernah dilakukan keluarga Jamal. Piknik bersama tanpa harus memikirkan beban hidup. Dengan sisa uang yang ada, Jamal ingin membahagiakan orang tuanya juga. Salah satunya adalah mengajak piknik bersama. Meski awalnya orang tuanya menolak, tapi dengan sedikit paksaan dan rengekan dari adiknya, Bapak dan Emak akhirnya mau juga.
"Mal, nanti setelah kamu nikah, kamu kerja apa, Mal? Apa tetap menjadi supir?" tanya Bapak. Saat ini mereka sudah berada di tempat wisata dan duduk santai menikmati apa yang ada disekitarnya.
"Ya kemungkinan aku kerja di kantornya Tuan Gustavo, Pak," jawab Jamal setelah menyeruput es jeruk yang dia beli di pedagang sekitar.
"Emang kamu bisa?"
"Ya belajar, Pak. Aku kan memang sudah lama disuruh belajar tentang perusahaanya Tuan Gustavo. Cuma belum terlaksana, karena ada masalah."
"Calon mertuamu, baik banget, Mal," kini Emak yang bersuara.
"Ya Tuan Gustavo emang baik, mungkin emang rejeki aku ya, Mak."
"Iya, tapi kamu harus ingat, kamu jangan lupa asal usulmu. Jangan jadi orang sombong saat kamu nanti jadi orang kaya dan sukses."
"Iya, Mak. Pasti itu."
"Awas aja kalau sampe itu terjadi. Soalnya banyak yang kayak gitu, Mal. Disaat pada bergelimang harta, mereka banyak yang lupa diri. Emak nggak mau, anak anak Emak kayak gitu juga."
"Iya, Mak, iya. Emak sama Bapak juga jangan capek selalu ngingetin Jamal."
Emak dan Bapak sontak mengangguk bersama. Biar bagaimanapun sudah kewajiban mereka juga untuk menasehati anak anaknya.
"Mas, abis ini kita main di Mall ya?" kini Akmal yang bersuara.
"Iya, iya."
Sementara di ibu kota, hari ini Selin dan Gustavo berencana mengunjungi Sandra. Sebenarnya Gustavo tidak ingin wanita yang pernah menjadi teman hidupnya itu berakhir di penjara. Tapi demi memberi pelajaran kepada Sandra, Gustavo ingin wanita itu sadar atas segala kesalahannya.
Tak butuh waktu lama, Gustavo dan anaknya kini telah sampai di tempat yang dituju. Mereka berada di ruang yang digunakan untuk bertemu para tahanan. Setelah menunggu beberapa saat, orang yang mereka tunggu akhirnya datang.
Penampilan Sandra sungguh berbeda. Keadaannya sangat lusuh dan terlihat lebih kurus. Wajahnya sedikit pucat dan terlihat lebih tua. Sedangkan Rio, entah kemana kabarnya dia saat ini.
"Gimana kabar kamu, San?" tanya Gustavo canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah kasus yang menjerat Sandra mencuat.
"Ya, seperti yang kamu lihat. Apa aku harus bilang kalau aku baik baik saja," jawwab Sandra terdengar begitu dingin dan menusuk. Sementara, Selin hanya terdiam. Dia tidak tahu harus biang apa pada wanita yang pernah dipanggilnya Mamah itu.
"Maaf jika aku harus melakukan hal ini. Semoga kamu sadar, atas segala perbuatan kamu."
Sandra berdecih. "Apakah yang seharusnya sadar hanya aku saja? Kenapa kamu juga dari dulu tak pernah sadar?"
"Aku kesini bukan untuk berdebat, San."
"Terus? untuk menertawakanku?"
Gustavo mengembus kasar nafasnya. "Terserah kamu saja lah, San. Aku juga mau bilang, sebentar lagi sidang cerai kita akan berlangsung. Minggu depan juga Selin akan lamaran. Kalau kamu sudi, restui Selin agar bisa bahagia dengan Jamal. Ikhlaskan Jamal untuk Selin. Biar bagaimanapun kamu pernah ada rasa dengan dengan anak itu."
Sandra hanya bisa diam. Rasa malu tiba tiba menyeruak di dalam hatinya. Karena hasrat gilanya, kini dia harus berakhir di penjara. Meski dia dikurung dalam waktu yang tidak lama, tapi hukum moral lebih mengerikan daripada kurungan penjara.
Karena perbuatanya, Sandra sekarang di jauhi teman sosialitanya. Rekan bisnisnya memilih memutus hubungan kerja. Belum lagi hujatan dari keluarganya. Hidup Sandra sungguh berubah dalam waktu yang sangat singkat.
"Ya sudah, berhubung tidak ada lagi yang ingin kita katakan, kita permisi, San. Sekali lagi aku sama anakku mohon maaf jika selama kita hidup bersama, kamu sering tersakiti. Maaf," ucap Gustavo tulus, kemudian dia dan Selin beranjak pergi.
Sandra terus menunduk. Setelah Gustavo dan Selin hilang dari pandangan, Sandra bergumam. "Maaf ... hiks ... maaf."
...@@@@@...