TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 97 (Jamal)


Mendengar keadaan putrinya baik baik saja, membuat hati Gustavo merasa tenang. Kali ini dia hanya bisa mengandalkan Jamal untuk menjaganya. Gustavo kembali menjalani harinya seperti biasa meski dia dalam masalah berat sekalipun.


Hari ini Gustavo sedang serius menatap layar laptopnya. Jari tangannya aktif menekan huruf acak yang tertempel pada laptopnya. Sang sekretaris masuk membawa beberapa dokumen dan meletakkannya di atas meja di hadapan Gustavo.


"Tuan Gustavo baik baik saja?" tanya sekretaris sedikit khawatir.


"Baik, nggak perlu risau," jawab Gustavo tanpa menoleh.


"Mungkin sebentar lagi saya akan mengundurkan diri, Tuan," ucapan sekretaris seketika mengehntikan jari Gustavo yang sedang merangkai kata di laptopnya. Dia menoleh dan menatap wanita pemuasnya kalau dia sedang ingin.


"Kenapa?"


"Saya nggak kuat dengan gunjingan karyawan lain, Tuan," ucap sekretaris dengan wajah menunduk dan suara bergetar. Gustavo pun terdiam bingung mau berkata apa. Dia sendiri bingung menghadapi putrinya yang sedang marah besar kepadanya. Dia juga khawatir kalau Selin menanyakan keberadaan anak Gustavo dengan wanita lainnya.


Sementara di dalam apartemennya, sepasang manusia sejak pagi kegiatannya hanya berbaring dalam satu ranjang tanpa memakai apa apa. Mereka nampak seperti pasangan, padahal kenyataannya, mereka hanya sepasang supir dan majikan.


"Non, aku lapar," rengek Jamal.


"Sabar, Jamal. Ih, gemesin ya? Orang lagi dipesenin makanan juga. Di suruh makan dada nggak mau," sungut Selin, tapi Jamal yang mendengarnya malah terkekeh.


"Makasih ya, Nona cantik. Duh beruntung ya aku, dapat kerjaan di rumah Non Selin," ucap Jamal antuias.


"Beruntung kenapa?" tanya Selin sambil tangannnya membelai lembut benda di bawah perut Jamal.


"Udah kerjanya enak, eh malah dapat yang enak enak kayak gini," ucap Jamal sambil cengengesan.


"Kalau enak, kenapa tadi nangis?" ledek Selin.


"Ya syok aja, Non. Aku tuh benar benar menjaga kebujanganku loh buat istriku kelak. Eh malah direnggut paksa terus sekarang malah jadi keenakan, punya Non legit banget sih, menjepit, jadi pengin nambah terus," cecoros Jamal.


Di saat mereka sedang asyik ngobrol, mereka mendengar bel berbunyi.


"Makanan datang itu, Mal. Sana ambil," perintah Selin.


"Siap, Non," ucap Jamal segera bangkit dan beranjak. Tak lupa dia memakai boxer sebelum keluar kamar.


"Ayo, Non sarapan," teriak Jamal beberapa saat kemudian. Dia membawa beberapa makanan di atas meja dekat dapur apartemen.


"Kenapa nggak pake baju sih, Non?" tanya Jamal yang kaget melihat Selin datang.


"Pengin aja, lagian kamu udah melihat semuanya, kan?" ucap Selin cuek terus dia duduk di dekat Jamal. Si supir pun hanya mampu menggelengkan kepala.


"Suapin aku lah, Mal, aku malas makan sendiri," rengek Selin.


Selin duduk menghadap Jamal. Satu tangannya merogoh boxer Jamal dan memainkan isinya. Meskipun heran, Jamal membiarkannya saja. Bahkan dia juga membiarkan Selin melepas boxernya agar bisa leluasa memainkan senjata yang menegang terus. Dengan telaten, Jamal menyuapi sesendok demi sesendok makanan ke mulut Selin.


Entah kenapa, dari semalam anak majikannya yang satu ini bersikap manja kepada si supir. Maunya nempel terus dengan Jamal kecuali kalau Jamal ke toilet, baru Selin tidak mau nempel.


"Nanti Non Selin ditinggal bentar nggak apa apa? Aku mau pulang dulu, ambil baju buat ganti," ucap Jamal sembari terus menyuapi.


"Nggak mau, nanti kamu nggak kesini lagi," balas Selin.


"Kesini lagi lah, kan aku di suruh jagain Non Selin," ucap Jamal.


Selin malah bangkit dan pindah duduk diatas pangkuan Jamal dan menempel persis anak kecil seakan akan tidak mau ditinggal pergi orang tuanya.


"Non,"


"Nggak mau," rengeknya. Jamal menghela nafasnya secara pelan kemudian senyum tipisnya terbesit.


"Baik lah, sekarang lanjut makannya," ucap Jamal dan dia kembali menyuapi Selin dengan posisi dia masih duduk dipangkuan si supir.


Sementar itu di sisi rumah yang lain, dua orang berbeda umur terlihat sedang bersitegang. Pria yang usianya nampak lebih muda kelihatan sedang menahan amarah kepada wanita yang usianya tarpaut jauh dengannya.


"Bisa bisanya, Tante nyebut nama pria lain saat sedang main bersamaku, apa Tante nggak menghargai perasaanku sedikitpun?" sungut si pria yang duduk di tepi ranjang.


"Maaf, Rio, Tante hanya kepikiran keadaan Selin gimana, Tante hanya teringat akan menghubungi Jamal," kilah Sandra yang memeluk Rio dari belakang.


"Aku tuh sayang sama Tante. Aku rela lepasin Selin demi tante, tapi tante malah tega membayangkan pria lain saat bersamaku," rajuknya.


"Iya, sayang. Maaf ya? Tante janji, Tante nggak akan mengulanginya."


"bener?"


"Iya, udah jangan ngambek, ayo lanjut mainnya, nanti uang jajannya aku tambahin."


"Oke,"


Dan pertempuran mereka kembali berlanjut.


"Gimana caranya agar aku bisa mendapatkan Jamal ya?" ucap Sandra dalam hati.


...@@@@@...