TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 147


Masih di waktu yang sama tapi di tempat yang berbeda, Karin juga nampak masih asyik dengan benda kotor bau asam dari keringat di bawah perut Iqbal. Entah kenapa, daripada berhubungan badan, Karin lebih suka memainkan batang milik Iqbal dengan mulutnya. Untungnya Iqbal selalu pengertian dan dia terima saja apapun yang menjadi keinginan wanita yang satu itu.


Mungkin apa yang dilakukan Karin sama dengan apa yang dilakukan Miranda pada Rizal. Karin hanya ingin memastikan kalau batang milik Iqbal tidak habis di pakai buat orang lain.


Iqbal yang terbaring hanya bisa pasrah saja dengan apa yang Karin lakukan. Dia merasa lelah setelah seharian main bersama dua sahabatnya yang lebih satu bulan, baru bertemu dan main bareng. Bahkan sekalinya ketemu malah membawa kisah sendiri sendiri.


Iqbal juga tidak tahu kisahnya dengan Karin akan seperti apa nantinya. Jika menikah, Iqbal merasa itu tidak akan mungkin terjadi. Karin anak orang kaya dan Iqbal tentu saja pemuda yang jauh dari kata kaya. Daripada berpikir yang terlalu berat, Iqbal memilih pasrah saja dengan jalan hidup yang sedang dia jalani. Setidaknya Iqbal bahagia, ada wanita yang selalu membutuhkan kehadirannya.


Iqbal menoleh. Matanya menatap nasi goreng yang lumayan masih banyak kemudian mata itu di arahkannya menuju wanita dibawah perutnya.


"Itu nasi goreng dihabisin dulu, Non? Makan batangku lanjut nanti aja kalau mau bobo," ucap Iqbal memberi saran. Karin menoleh menatap Iqbal terus tersenyum. "Kenapa tersenyum? Terbukti kan? Aku nggak habis berbagi keringat dengan Belinda ataupun Aleta?"


Karin mengangguk kemudian dia mengambil gelas berisi air minum yang dia taruh di dekat sterofom nasi goreng. Setelah itu Karin mengambil nasi goreng dan kembali memakannya.


Iqbal pun bangkit dan duduk dibelakang Karin terus mencium rambut wanita itu dengan penuh perasaan. Kadang Iqbal merasa sedih dan prihatin melihat Karin. Lihat saja sekarang, dia makan malam hanya dengan nasi goreng dan krupuk. Sedangkan di rumah, pasti berbagai hidangan enak tersaji tiap malam. Karin beli nasi goreng juga mungkin karena Iqbal tidak ada tadi. Biasanya kalau mau makan, mereka akan pergi bersama. Meskipun mereka kost, mobil tetap turut serta di bawa.


"Non, menurutmu, ide teman temanku bagus apa enggak?" tanya Iqbal sambil membelai dan memainkan rambut bergelombang wanita di hadapannya.


"Ide apa?" tanya Karin tanpa menoleh.


"Aku kan cerita ke mereka tentang masalah Non Karin dengan Belinda dan Aleta, mereka usul, katanya aku harus pancing mereka ngomong yang sebenarnya tentang tujuan mereka menfitnah Non Karin."


"Terus?"


"Ya mereka kasih saran, karena Belinda dan Aleta sepertinya kegatelan sama aku, jadi mereka bilang kalau aku coba aja menjebak kedua kakak kamu dengan main bareng gitu."


"Main bareng?"


"Iya, main bareng, aku nyodok punya aleta dan Belinda gitu. Aku harus bisa mancing dan merekam ucapan mereka, kenapa bisa tega nyakitin kamu terus kasih rekaman itu ke orang tua kamu."


Karin nampak manggut manggut. Dia mencerna semua ucapan pria di belakangnya.


"Apa itu nggak terlalu beresiko buat kamu, Bal?" tanya Karin. Bahkan dia sampai menjeda makan nasi gorengnya kembali dan menatap wajah sang supir.


"beresiko gimana maksudnya?" tanya Iqbal dengan dahi mengernyit.


"Jika di rekam, otomatis ada suara kamu, dan Mami sama Papi pasti nanti curiga dengan apa yang kalian lakukan dengan rekaman itu. Yang ada nanti kamu dipecat, kamu mau?"


Iqbal tidak langsung jawab. Dia mencerna ucapan Karin dengan serius. Resiko terbesar ya memang paling di pecat.


"Terus kalau kamu di pecat, apa kamu menjamin masalahku akan selesai dengan tuntas? Bisa jadi kan, kedua kakakku makin benci sama aku? Kalau mereka dendam bagaimana? Aku minta tolong siapa coba?"


Dan Iqbal kembali terbungkam dengan pernyataan Karin. Otomatis kalau Iqbal di pecat, tidak ada lagi yang melindungi Karin.


"Jadi aku harus gimana dong?"


"Sabar dulu saja, nanti juga ada waktunya mereka ketahuan," ucap Karin sembari kembali membelakangi Iqbal dan menghabiskan nasi gorengnya.


Iqbal pun melingkarkan tangannya di pinggang Karin dan meletakkan dagunya pada pundak wanita itu.


"Baiklah, aku nurut Non Karin aja."


"Tapi pasti kamu berharap agar bisa tidur bareng sama mereka, iya kan?"


"Namanya juga cowok, apa lagi cowok normal, wajar dong."


"Dih! Menyebalkan."


Iqbal hanya cengengesan sambil mengeratkan pelukannya.


...@@@@@@...