
"Pekerjaan yang membuat kamu melayang tinggi ke angkasa," ucap Sandra.
Jamal sontak saja terperangah. Bukan karena pekerjaan yang ditawarkan tapi saat telapak tangan Sandra mendarat di pahanya. Meski Jamal memakai celana panjang yang dibelikan Selin, tetap saja dia merasa kaget dengan sikap nyonya tersebut.
Gugup, sudah pasti. Bahkan degup jantung Jamal kini berdetak lebih kencang dari semula yang baik baik saja. Untuk pertama kalinya Jamal merasa jiwa lelakinya berdesir hanya karena tangan lembut yang memijat pelan pahanya.
Jamal semakin dibuat gelisah saat mata nyonya Sandra menatapnya dan seakan mata itu enggan berkedip ingin memangsanya. Bahkan Jamal sampai tidak berani membalas tatatapan wanita yang masih kelihatan cantik itu.
Sedangkan Sandra, wanita itu nampaknya semakin tertarik dengan supir yang sudah terlihat tampan. Sandra merasa supir baru milik anaknya berbeda dengan pria muda yang penah dia dapatkan. Seperti saat Sandra mendapatkan Rio Pria yang dulu pernah menjadi pacar anaknya malah selalu memberi kode kalau Rio tertarik dengan Sandra. Dan hal itu tidak Sandra temukan pada diri Jamal. Supir baru itu malah terkesan takut karena berusaha menghindari tatapannya. Sikap Jamal sungguh semakin membuat Sandra tertantang.
"Bagaimana? Mau?" tanya Sandra lagi, kini pijitan tangannya mulai merambat pada paha Jamal.
"Pekerjaan apa itu, Nyonya? Saya tidak tahu pekerjaan yang membuat melayang tinggi? Apa terjun payung?" tanya Jamal gugup. Tentu saja Jamal tidak tahu kalau itu adalah kode yang menjurus ke arah hubungan suami istri. Namanya juga anak tidak berpengalaman. Tapi bagi Sandra, Jamal adalah pria yang menggemaskan sampai pura pura tidak tahu apa maksud pekerjaan tersebut.
"Yakin, kamu tidak tahu pekerjaan apa itu?" tanya Sandra dengan tatapan nakal. Dan hal itu membuat Jamal semakin tak karuan.
"Yakin, Nyonya." Jawab Jamal pelan sambil berusaha melepas tangan Sandra yang semakin bergerak ke arah letak benda pribadinya yang mulai terasa sesak di dalam sana.
Sandra pun semakin tak terkendali. Tangan Jamal yang sedang menghalau tangannya justru dia raih dan dia arahkan hingga telapak tangan Jamal mendarat di paha putih nan mulus miliknya. Sungguh Jamal semakin merasa tak karuan. Dalam hatinya ada semacam jiwa yang bertarung dan bergejolak.
"Kamu sangat menggemaskan. Siapa nama kamu?" tanya Sandra sambil menahan tangan Jamal yang menempel diatas pahanya.
"Jamal, Nyonya." balas Jamal pelan. "Nyonya, tolong ini tangan saya."
"Oh Jamal, nama yang tampan. Kayak orangnya," ucap Sandra tanpa mempedulikan permintaan Jamal yang ingin melepas tangannya. "Kamu tahu nggak, Mal. Kamu itu tampan banget."
Jamal pun merasa tersanjung. Baru kali ini ada yang terang terangan memuji ketampanan dia.
"Enggak lah, Nyonya. Biasa aja kok." jawab Jamal merendah.
"Serius. Kamu itu tampan banget. Kamu tuh nggak cocok jadi supir. Kamu harusnya jadi model apa bintang film." puji Sandra. Tentu saja dia mengatakan hal itu karena ada maksud tertentu. Pada kenyataannya Jamal memang tampan, namun karena keadaanlah yang membuat ketampanan Jamal bersembunyi.
"Serius. Kamu mau nggak? Aku kenalin sama orang orang yang bisa membuat kamu menjadi artis terkenal?" rayu Sandra. Sungguh hanya demi hasrat, dia sampai melakukan apapun.
"Saya malu, Nyonya. Saya pasti nggak bisa." jawab Jamal gugup dan pelan.
"Nggak perlu malu, kamu pasti ingin dong mendapat uang banyak untuk kamu dan keluargamu? Coba kaalau kamu bisa menembus menjadi artis, selain terkenal, kamu juga bisa dapat banyak uang."
Sungguh rayuan Sandra benar benar membuat hati Jamal galau tak terkira. Siapa yang tidak mau mendapatkan uang banyak. Apa lagi jadi artis terkenal. Semua pasti mau, begitu juga dengan Jamal. Ditambah lagi keadaan keluarga sungguh membuat Jamal tergoda dengan tawaran Sandra tanpa Jamal sadari ada maksud lain dibalik tawaran tersebut.
"Apa aku boleh memikirkannya dulu, Nyonya?" tanya Jamal.
"Oh tentu. Kamu harus pikirkan matang matang penawaranku ini. Ingat Jamal, kesempatan nggak datang dua kali loh." Ucap Sandra antusias dengan terus mempengaruhi pikiran Jamal.
"Baik, Nyonya. Terimakaasih."
"Tapi, kamu jangan ngasih tahu hal ini ke Selin dan papahnya yah?" pinta Sandra yang tentu saja membuat Jamal heran.
"Kenapa Nyonya?"
"Jadikan ini rahasia kamu menuju sukses. Bisa aja kan mereka akan menghalangi niat kamu dan tetap menginginkan kamu menjadi supirnya. Ntar kamu nggak maju maju gimana?" ucap Sandra beralibi.
Jamal pun tercengang dan dia nampak berpikir sesaat kemudian dia berkata, "Baiklah Nyonya, saya akan merahasiakan hal ini."
"Bagus."
...@@@@@...
Ada yang bertanya, kenapa wanita disini kayak pada nggak takut dosa dan terkesan murahan? dicelup sana dicelup sini. Dan othor jawab disini ya?
Para majikan disini saya mengambil latar berasal dari luar negeri. Udah di jelaskan ya? Bahkan ada bab yang menjelaskan negeri yang membebaskan segalanya. Dalam sinopsis juga ada kata mencicipi manisnya dosa. Dan ini bukan cerita religi, ini adalah cerita tentang pengalaman dan perjalanan hidup tiga pemuda. Dan cerita ini hanya sebuah hiburan, Kalau ada yang bermanfaat, ambil dan contohlah. Kalau nggak ada, abaikan. Okeh? makasih atas dukungannya.