TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 57 (Rizal)


Setelah Tomi pergi, Rizal duduk terdiam tidak melanjutkan olahraganya. Pikirannya tertuju dengan penawaran yang diberikan Tomi.


Kerja di kantor dengan gaji yang menggiurkan tentu saja merupakan kesempatan yang langka. Apalagi Rizal hanya lulus SMP. Pasti orang tuanya akan bangga jika anaknya kerja kantoran. Dan dia juga akan dipandang mulia oleh tetangganya karena pemikiran warga kampung pasti sama dengan pemikiran dirinya bahwa kerja kantoran itu enak.


Seandainya Tomi pria yang lurus, mungkin Rizal tak perlu berpikir panjang untuk menerima tawaran kerja itu. Namun sayangnya, Tomi adalah lelaki beda, jadi wajar jika Rizal ragu. Takutnya itu hanya iming iming belaka.


Rizal masih duduk termenung sampai dia tidak menyadari ada sosok yang berdiri tak jauh darinya sembari memandangi Rizal dengan tatapan berbinar.


Mata orang itu berbinar karena ini kali pertamanya dia melihat Rizal tidak memakai baju, dan ternyata dibalik baju yang dipakai Rizal, tersembunyi kesempurnaan bentuk tubuh yang sangat pas dan menegaskan kalau Rizal tampannya keterlaluan. Orang itu pun memilih diam sejenak menikmati pemandangan yang tersaji di depannya.


Sayangnya orang itu tak bisa lama lama menikmati pemandangan tersebut, karena pemilik tubuh atletis itu menoleh dan menyadari keberadaannya.


"Non Miran?" pekik Rizal. Sontak saja mata Rizal membulat. Bukan karena adanya Miranda disana, tapi pakaian Miranda yang dia pakai, masih sama persis dengan yang Rizal lihat semalam.


"Kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Miranda pura pura tidak tahu. Padahal dia tahu Rizal pasti terpana melihat apa yang dia pakai dan Miranda sangat menikmatinya.


Sesuai niatnya semalam, Miranda memang akan memakai pakaian seperti ini jika bersama Rizal. Miranda tidak peduli mau dikatakan murahan atau apa, yang pasti dia sangat suka saat melihat wajah Rizal yang berbinar makin tampan saat memandangi badan indahnya.


Miranda melangkah mendekat dan duduk tepat di sisi Rizal membuat pria itu semakin salah tingkah, dia ingin mengambil kaosnya tapi sayang, kaosnya malah di duduki Miranda.


Sedangkan Miranda, dia malah mencoba bersikap tenang. Dia benar benar ingin menikmati saat seoranh pria memuji apa yang ada di dirinya. Meski pujian itu tak terucap, tapi Miranda tahu Rizal sangat mengagumi keindahan tubuhnya.


"Kamu kenapa, Zal? Kok gelisah gitu?" tanya Miranda yang melihat gerakan tak tenang pada tubuh Rizal.


"Nggak kenapa napa kok, Non. Cuma lagi meregangkan otot saja setelah olahraga barusan," kilah Rizal sambil membentangkan tangannya sedikit. Padahal hatinya berdetak kencang berada sedekat itu dengan Miranda yang memakai pakaian seksi. "Non Miran nggak ke butik?"


Miranda menarik tangannya kebelakang dan meletakan telapaknya pada sisi bangku hingga dadanya mencuat. Makin tak karuan lah Rizal melihatnya. Sikap Miranda benar benar menguji sesuatu yang bergejolak dalam diri Rizal.


"Oh, iya yah." balas Rizal salah tingkah. Bahkan saat ini ada sesuatu yang sudah menegang pada diri Rizal.


Sementara dari arah dapur, Mbak Sari hanya geleng geleng kepala melihat tingkah majikannya. Sebagai orang yang sudah lama kerja pada Miranda, apa yang dilakukan majikannya itu adalah rasa yang telah lama Miranda sembunyikan sebagai wanita. Miranda pasti sangat butuh belaian sedangkan Sari tahu keadaan rumah tangga majikannya bagaimana. Jika kehadiran Rizal mampu membuat Miranda merasakan kebahagiannya, Sari hanya bisa mendukungnya. Terlepas itu salah atau benar, karena Sari tahu wanita dewasa seperti mereka juga membutuhkan belaian seorang laki laki.


Rizal masih ngobrol dengan majikannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi gerak gerik Miranda semakin membuat Rizal resah luar biasa. Di tengah kegelisahannya Rizal kembali terpikirkan tawaran tuan Tomi. Seketika dia pun berniat membicarakannya dengan Miranda.


"Non?" panggil Rizal sambil melirik ke arah dada.


"Hum? Ada apa, Zal?" balas Miranda sembari merubah duduknya seperti semula.


"Tadi Tuan Tomi menawarkan pekerjaan lagi?" Mendengar hal itu, seketika Miranda menoleh dan menatap Rizal denngan lekat.


"Terus?"


"Aku bingung, Non," balas Rizal sambil menunduk.


Miranda tak percaya Tomi masih berusaha memikat Rizal dengan iming iming pekerjaan. Miranda tahu betul tujuan Tomi itu ingin menjerat Rizal. Tapi Miranda kali ini tidak akan tinggal diam. Dia harus bisa mencegahnya. Setelah Miranda bepikir, tiba tiba dia tersenyum kemudian tangannya bergerak menelusup dan melingkar di pinggang Rizal.


Rizal terperangah saat dia merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Seketika dia menoleh.


"Non? Ini?"


Miranda malah tersenyum "Jangan bingung, jangan terlalu di pikirkan. Ada aku. Aku akan melindungimu."


...@@@@@...