
Yang bikin tambah aku pusing, kedua kakaknya sama sama pengin main ranjang sama aku lagi," ungkap Iqbal dengan wajah lesu.
Jamal dan Rizal yang mendengarnya seketika tercengang kemudian saling pandang terus mereka terbahak. Iqbal mendengus sebal. Dia tahu pasti kedua sahabatnya tidak akan langsung percaya begitu saja. Karena dari dulu Iqbal memang sering membual diantara mereka bertiga.
"Jangan ngarang deh, Bal. Nggak mungkin kakak adik ngerebutin kamu?" ucap Rizal sembari terkekeh.
"Siapa yang ngarang, ini aja gara gara kedua kakaknya, anak majikanku yang bernama Karin memilih keluar dari rumah dan ngekost," mendengar jawaban Iqbal yang nampak serius membuat tawa dua pemuda yang lainnya berangsur menghilang.
"Kok ngekost? Gimana ceritanya?" tanya Jamal.
Sama seperti kedua sahabatnya, Iqbal pun menceritakan kisah pahit yang sedang anak majikannya yang dia lindungi. Kedua temannya pun mendengarnya dengan baik. Sesekali mereka melempar pertanyaan dan dengan santai Iqbal menjawab apa adanya.
"Terus kalau anak majikanmu ngekos? Kamu bolak balik dong, Bal? dari rumah ke kost anak majikanmu?" tanya Jamal.
"Nggak, aku juga di suruh ngekos, beda kamar tapi majikanku yang bayarin," terang Iqbal.
"Wuih! Senang benar," puji Rizal. "Kamu juga sudah tidur dengan si Karin?"
"Sering lah, tiap malam juga aku tidurnya di kamar dia. Cuma tiga hari ini, kita hanya tidur bareng doang, karena dia lagi datang bulan," terang Iqbal.
"Kamu juga awalnya yang ngajakin Karin juga? Ngajakin berhubungan badan?" tanya Jamal.
"Nggak juga. Malah aku yang minta mahkota dia," jawab Iqbal santai tapi cukup membuat kedua temannya tidak percaya.
"Yakin kamu, Bal?" tanya Rizal agak ragu.
"Aku tahu kalian pasti nggak percaya, baiklah awalnya gimana, akan aku ceritakan. Jadi gini ..." Iqbal pun mencerikan awal mula Karin sangat menyukai isi celanany hingga Karin menyerahkan dia seutuhnya kepada sang supir.
"Owalah, Entar kalau orang tua Karin tahu, dia semakin nggak dipercaya dong, Bal?" tanya Jamal.
"Ya gimana lagi, Karin juga udah frustasi, makanya dia mau aja nyerahin mahkotanya," terang Iqbal.
"Yahh, kita udah nggak pada perjaka lagi dong? Gila, gila! Kenapa kita mendapat nasib hampir sama sih?" keluh Jamal.
"Iya, di kampung, mana ada cewek mendekat, melirik pun malas, tapi disini, kita malah beruntung," sambung Iqbal.
"Ni aja aku pakaian di beliin sama anak majikanku, gila apa! Belum kerja satu bulan, aku sudah dapat segala macam. Kalau ditotal, lebih gede dari gajiku," kini Jamal yang bersuara.
"Ya sama, Mal. Aku juga heran. Mereka kayak nggak sayang gitu sama duit," sambung Iqbal.
"Mungkin karena mereka melihat ketulusan dari kita, jadi mereka royal. Soalnya aku juga sama kayak kalian," Rizal menimpali dan kedua sahabatnya mengangguk membenarkan.
"Terus, Bal. Kenapa kamu tolak ajakan kedua kakak Karin tidur bareng? Lumayan kan?" tanya Jamal.
"Ya terpaksa lah. Jaga perasaan Karin. Tapi dia ngijinin kok, aku tidur bareng kedua kakaknya jika aku terjebak. Meskipun kedua kakaknya sering gonta ganti pasangan, tapi aku yakinlah banyak cowok yang mau tidur bareng mereka karena mereka cantik cantik banget," terang Iqbal.
"Kenapa kamu nggak jebak mereka aja?" tanya Rizal.
"Jebak gimana?"
"Ya kamu ajak mereka tidur bareng, terus kamu pancing kenapa mereka melakukan hal gila kepada adiknya, kamu rekam. Aku sih yakin, mereka bakalan ngaku tanpa sadar," terang Rizal mengeluarkan unek uneknya. Iqbal pun mencerna kata kata sahabatnya dan idenya masuk akal juga.
"Iya Bal. Nggak salahnya juga ngasih kesempatan kakaknya Karin buat tidur bareng sama kamu, meskipun barang bekas, kalau masih enak ya nikmatin aja," sambung Jamal.
"Entar deh, aku bicarain sama Karin. Dia setuju nggak sama ide kalian," ucap Iqbal.
"Gimana yah perasaan orang tua kita, kalau kita disini bukannya kerja yang benar malah kebablasan," keluh Jamal.
"Jangan terlalu dipikirkan lah, berat kalau mikirin hal itu. Jalani aja, mungkin ini memang takdir kita," ucap Rizal dan kedua sahabatnya pun mengangguk tanda setuju dengan petuah yang Rizal lontarkan.
Sejenak mereka kembali terdiam dalam pikiran masing masing. Hingga mereka dikejutkan dengan sebuah suara.
"Rizal, kamu ngapain disini?"
Rizal dan kedua sahabatnya pun menoleh ke sumber suara.
"Tuan Tomi!"
...@@@@@...