TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 38 (Rizal)


"Jangan bilang kalau sampai detik ini, segel kamu masih rapet, Mir?" pertanyaan dari Natasha seketika membuat Miranda terdiam. Dia hanya menunjukkan senyum sekilas.


"Astaga, Miranda! Sampai sekarang kamu belum?" sekarang gantian Violin yang heboh.


Tentu saja mereka tahu penyebabnya apa. Penyebabnya adalah suami yang tidak berselera dengan tubuh istrinya. Wajar jika mereka heboh. Tiga Tahun menikah dan Miranda masih rapat. Sungguh kejadian luar biasa yang mereka temui. Jika ada, mungkin Miranda sudah masuk rekor dengan predikat wanita yang masih rapat padahal sudah menikah.


Mungkin kedua temannya juga akan heboh jika mereka tahu Miranda pakai alat bantu. Meski Miranda memakainya hanya ditepian, tidak sampai masuk ke dalam, karena takut sakit. Tapi tetap saja hal itu memalukan jika ada orang yang tahu.


Sungguh waktu Miranda dulu mau menikah, kedua sahabatnya lah yang paling heboh. Bagaimana tidak heboh, mereka melihat kesempurnaan pada diri Tomi. Wajah tampan, tubuh bagus, kaya raya. Sungguh sangat sempurna bukan. Bahkan mereka merasa iri dengan Miranda saat itu.


Tapi rasa iri dan kagum mereka berubah menjadi rasa heran sekaligus jijik. Dari curhatan Miranda yang kelihatan sangat menyedihkan, mereka mendengar kenyataan bahwa Tomi punya kelainan. Dan alasan Miranda dijodohkan dengan Tomi, selain agar perusahaan orang tua Miranda aman, orang tua Tomi yang mengetahui sisi lain dari putranya sengaja menikahkan Tomi dengan Miranda, berharap si anak sembuh.


Namun sayang, usaha mereka tidak berhasil. Tanpa orang tua Tomi ketahui, Tomi malah semakin parah. Apa lagi Tomi hidup di beda negara. Makin liar lah jiwa Tomi. Disitulah Miranda dilema, ingin cerai tapi bagaimana nasib perusahaan orang tuanya. Bertahan tapi dia sama sekali tidak bahagia. Apa lagi jika orang tua sudah bertanya tentang cucu. Sungguh membuat Miranda hanya bisa tersenyum getir. Bagaimana bisa ada cucu kalau Tomi sendiri tidak berminat dengan tubuhnya.


"Mir?" panggil Violin.


"Hum" balas Miranda gundah.


"Sampai kapan kamu akan mempertahankannya, Mir? Sampai kamu tua?" tanya Violin lagi. Dia merasa gemas dengan tingkah sahabatnya ini.


"Nggak tahu lah, Vi. Pusing aku!" keluh Miranda.


"Astaga, ni bocah! Ngapain dibawa pusing? Aku udah sering bilang loh, kalau nggak bisa cerai, kenapa kamu nggak nyari selingkuhan?" ucap Violin.


"Vi, kamu tau kan, aku ... "


"Iya iya aku tahu, tapi apa susahnya sih, Mir? Apa lagi sekarang jaman canggih, banyak aplikasi kencan, banyak aplikasi media. Kenapa nggak kamu manfaatin?" ucap Violin.


"Ya ampun, Vi. Mana bisa Miranda kenalan sama cowok di aplikasi. Bukankah teman kita ini paling susah dekat dengan cowok? Lihat saja mantan pacarnya, nggak sampai sepuluh biji." tukas Natasha dan keduanya terbahak.


"Benar juga kamu, Nat? Kok bisa kita berteman dengan perempuan modelan kayak gini?" cibir Violin.


"Astaga, Vi? Kalau Miranda tidak berteman dengan kita, sudah pasti, dia akan menjadi wanita paling kesepian di dunia dong?" timpal Natasha dan lagi lagi keduanya tertawa seakan akan mengejek Miranda yang menatap sebal kedua sahabatnya.


"Seneng banget yah, bikin aku mati kutu kalian ini," sungut Miranda, Namun kedua sahabatnya malah terpingkal. Tak lama kemudian Miranda pun ikut tertawa.


Setelah tawa mereka mulai surut, keadaan pun sejenak menjadi hening. Setelah menyesap kopi yang disuguhkan, kedua teman Miranda membuka ponsel dan mengecek apa saja yang biasa di cek. Sedangkan Miranda sibuk melihat lihat desain baju yang akan diproduksi.


"Eh tapi meskipun tampan, sepertinya supir kamu pemalu apa yah, Mir?" tanya Natasha membuka percakapan lagi.


"Namanya anak kampung, Nat. Wajarlah pemalu. Adat kesopanannya masih terjaga." balas Miranda menatap sekilas sahabatnya kemudian kembali melempar pandangannya ke lembaran lembaran kertas dihadapannya.


"Belum tentu, Mir. Dulu pembantu kakak aku juga orang kampung. Tapi nggak sopan banget. Gayanya amit amit. Apa lagi malesnya. Langsung aja tuh dipecat saat satu minggu kerja," timpal Violin.


"Tapi dia enggak kok. Malah dia sering bantuin kerjaan Mbak Sari. Terus kata Mbak Sari, dia anaknya cekatan." bela Miranda.


"Hm, berarti tergantung pergaulan dan didikan orang tua kali yah? Tapi baguslah, udah tampan, rajin, cekatan lagi. Paket lengkap dah." ucap Natasha dan Miranda pun hanya mengulas senyum.


"Mir." panggil Violin pelan seperti mengajaknya untuk berbisik.


"Apa?" ucap Miranda agak keras.


"Kenapa kamu nggak manfaatin supirmu aja untuk dijadikan selingkuhanmu?"


"Apa!"


...@@@@@...