
Jam yang berdetak baru menunjukan pukul lima pagi lebih beberapa menit. Di dalam kamar sebuah apartemen, dua manusia berjenis kelamin berbeda masih terdiam dan hanyut dalam pikiran masing masing. Keduanya masih dalam keadan tanpa busana. Yang satu menutupinya dengan selimut dan yang satu menutupi sebagian tubuhnya dengan bantal.
Si wanita terus menatap pria yang tangannya terikat. Dia mengingat semua kejadian yang menimpa mereka. Berawal dari kecewa dan rasa frustasi akibat kenyataan yang menyakitkan, hingga dia pergi ke club untuk melepas beban pikiran yang menyesakkan dan berakhir dengan dia menggoda sang supir dan menyerahkan seuatu yang paling berharga dalam dirinya.
Dia pun sangat menyesali dengan kejadian ini. Namun bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Dia juga teringat, betapa dia merasa tenang saat berada dalam pangkuan dan pelukan sang supir. Bahkan dia sengaja mengikat sang supir agar sang supir selalu berada disisinya sepanjang malam menemaninya. Dia beringsut mendekat ke arah supirnya yang sedang duduk menekuk kaki dan menunduk. Dan sang supir mendongak saat dia merasa anak majikannya mendekat.
"Ada apa?" tanya Jamal sedikit ketus. Dia masih sedikit kecewa dengan apa yang dilakukan anak majikannya semalam. Meski dalam permainannya, dia juga menikmatinya.
Selin tidak menjawab. Dia meluruskan kedua kaki Jamal kemudian dia memindahkan tubuhnya dan duduk dipangkuan Jamal dengan mendekat erat tubuh sang supir.
"Maaf," ucap Selin sembari meletakan dagunya dipundak kiri Jamal. "Aku cuma takut kamu ningalin aku, Mal."
"Ninggalin bagaimana? Buktinya semalam aku yang kelimpungan mencari Non Selin kemana aja," ucap Jamal. Meski kesal, dia berusaha tetap bersikap lembut pada anak majikannya.
"Makanya aku minta maaf, karena telah membuat kamu khawatir," rengek Selin manja.
"Ya udah, semua udah terjadi. Tapi nanti kita pulang ya?" ucap Jamal lembut. Mau tidak mau diapun melingkarkan tangannya memeluk wanita yang duduk di pangkuannya.
"Nggak mau, aku nggak ingin ketemu papah. Aku kecewa sama dia," balas Selin.
"Lah terus kalau nggak mau pulang, nanti aku yang dimarahin gimana?" tanya Jamal mencoba memaksa. Tapi sayangnya Selin tetap pada pendirianya. Untuk sementara, Jamal pun mengalah. Entah ada masalah apa antara Selin dan orang tuanya, Jamal berusaha tidak peduli karena itu urusan keluarga majikannya.
Selin teringat tangan Jamal yang terikat, kemudian dia melepas pelukannya dan maraih tangan Jamal serta melepas ikatannya.
"Ini sakit enggak, Mal?" tanya Selin saat melepas ikatan tali itu.
"Enggak sih, Non. Cuma nggak nyaman aja. Untung talinya panjang jadi aku masih bisa bergerak."
Setelah tali terlepas, Selin menatap wajah Jamal, "Maaf ya?"
Mereka terdiam dengan mata yang beradu pandang. Mereka teringat perang bibir yang mereka lakukan dengan posisi seperti itu di club semalam. Selin memajukan wajahnya dan dia menyerang bibir Jamal. Untuk saat ini, Jamal tidak kaget. Dia malah sudah bisa membalas serangan bibir Selin hanya dalam sesaat. Dua tubuh tanpa kain itu menikmati perang bibir yang cukup lama. Dan setelah selesai, Selin kembali menaruh dagunya di pundak Jamal.
"Kamu semalam sangat menikmati permainan kita ya, Mal?" tanya Selin setelah dagunya menempel dipundak Jamal.
"Ya bagaimana lagi, Non. Laki laki disodorin kayak gitu ya menikmati lah, Non. Apa lagi semalam Non Selin yang minta. Pakai ngancam lagi," Selin terkekeh mendengar penjelasan Jamal. Dia juga tidak menyangka akan bersikap seperti itu.
"Terus tadi kenapa kamu nangis kalau kamu menikmatinya?" gerutu Selin.
"Ya nggak nyangka aja, Non. Aku pikir, aku akan melakukan ini setelah menikah. Tapi malah melakukannya malam tadi. Apalagi aku telah merusak sesuatu yang berharga milik Non Selin," balas Jamal membela diri.
"Ya udah lah, Mal. Semuanya juga sudah terjadi, dan kita juga sama sama saling menikmatinya, Kan?" ungkap Selin. Meski ada rasa sesal tapi memang kenyataannya itu yang sudah terjadi. Tidak mungkin dapat memutar waktu.
"Iya Non, tapi aku ada rasa bangga juga," Aku Jamal jujur.
"Bangga kenapa?" tanya Selin sambil menatap wajah Jamal.
"Bangga aja bisa menikmati Non Selin yang cantik, apalagi aku yang pertama kali, jelas bangga dong," balas Jamal sambil cengengesan. Selugu lugunya lelaki tapi tetap, ada sikap brengsek juga.
"Bisa aja kamu, Mal," balas Selin sambil tersenyum lebar.
"Ya harus bisa dong," timpa Jamal dan mereka saling melempa renyum.
"Gimana kalau kita main lagi, Mal?"
Jamal pun tersenyum penuh arti. Tanpa menjawab, Jamal langsung menyerang bibir Selin sebagai awal permainan ronde kedua mereka.
...@@@@@...