
Terperangah. Itulah gambaran wajah Iqbal saat ini. Disaat keisengannya meminta sesuatu dikabulkan, Iqbal justru terperangah melihatnya. Apa lagi sesuatu yang dia inginkan kini herada tepat di atas wajahnya. Matanya hampir tak berkedip menatap keindahan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. Gundukan daging terbelah dengan warna putih mulus berpadu warna merah muda merona dengan bulu-bulu tipis yang hampir tak terlihat karena dipotong terlalu tipis. Sungguh pemandangan yang cantik secantik pemiliknya yang sekarang sedang berdiri setengah lutut di atas kepala Rizal.
"Ini serius boleh dimakan?" tanya Iqbal memastikan.
"Nggak mau? Ya udah," balas Karin sambil hendak berdiri, tapi pinggangnya keburu ditahan oleh dua tangan Iqbal.
"Eh iya, mau, mau, Non. Cuma tanya doang juga," cegah Iqbal sambil cengengesan dan terlihat menggemaskan.
"Lagian, orang udah disodorin, pake tanya," sungut Karin dan Iqbal masih cengengesan tanpa membalas ucapan Karin.
"Tapi ini baju Non Karin menganggu banget," ucap Iqbal tak tahu diri. Dikasih itu minta lebih membuat Karin mendengus kesal. Tak tanggung-tanggung, Karin langsung melepas bajunya hingga Iqbal menelan ludahnya beberapa kali melihat Karin nyaris tanpa baju. Yang menempel tinggal kain penjerat bukit kembar saja.
Tangan Iqbal mulai bergerak. Pertama dia mendaratkan telapak tangannya di paha Karin dan perlahan merayap hingga tangan itu menyentuh lembah Karin.
"Sudah basah, Non," ucap Iqbal begitu jarinya menyentuh celah yang ada di lembah nikmat milik Karin.
Karin mengangguk sejenak kemudian dia hanya terdiam menikmati sentuhan lembut seorang pria di lembah nikmatnya untuk pertama kali. Nafas Karin sudah mulai menderu saat Jari tangan Iqbal mulai menggosok-gosok dan memijat pelan lembah nikmatnya. Karin juga sesekali merintih menandakan dia sudah menikmati permainan tangan Iqbal.
Kini Iqbal mendorong pinggang Karin agar lebih ke bawah hingga lembah Karin tepat berada di dekat mulutnya. Karin merinding saat merasakan bibir dan hidung Iqbal nempel di bawah sana. Bahkan Karin merasakan desiran hebat dari kecupan bertubi-tubi yang Iqbal daratkan di lembah miliknya yang bersegel.
Seterusnya, bukan hanya bibir dan hidung yang bekerja. Lidah Iqbal juga mulai menyapu setiap rongga dan sisi lembah yang sudah sangat basah. Geli dan nikmat melebur jadi satu dengan gejolak yang kian melonjak tinggi dalam diri Karin.
Iqbal terus menyerang lembah Karin secara bertahap. Dari yang awalnya pelan hingga semakin lama semakin cepat pergerakannya sampai Iqbal merasa tubuh Karin bergetar hebat dengan keluarnya sesuatu yang hangat menjalar di lidah Iqbal.
Nafas Karin memburu. Dia sampai menggunakan tanganya yang menempel di tembok untuk menahan tubuhnya.
"Bal?" panggilnya lirih.
"Iya," jawab Iqbal menghentikan kegiatannnya dan menatap Karin diatasnya.
"Non Karin mau nggak? Kalau Non Karin mau, aku juga mau," balas Iqbal.
Karin tidak nenjawab. Dia beranjak dari atas tubuh Iqbal kemudian dia berbaring berlawanan arah dengan posisi Iqbal kemudian Karin membentangkan kakinya.
"Aku mau, Bal. Masukin saja sini," Iqbal sontak terjekut. Karin memasrahkan dirinya untuk pemuda itu. Iqbal seketika bangkit dan merangkak di atas tubuh Karin.
"Non Karin serius?" tanya Iqbal saat mata mereka beradu. Karin menjawabnya dengan senyuman dan anggukan. Iqbal sontak turut tersenyum juga kemudian bibir mereka beradu.
Mendapat kesempatan dari karin, dengan semangat Iqbal langsung mendaratkan bibirnya dan mengendus leher jenjang wanita di bawahnya. Tangan Iqbal pun tak segan menggengam dan memijat si kembar milik Karin bahkan melepas kain penjeratnya. Mulut Iqbal pun dengan rakus melahap bukit kembar Karin tanpa ampun.
Setelah permainan tambahan cukup, kini tiba saatnya ke permainan inti. Iqbal berlutut diantara kaki Karin. Miliknya yang sudah menegang kembali dengan sempurna, dia gesekan ke dapan lembah nikmat milik Karin yang sudah banjir dan basah.
"Sudah siap Non? Aku masukin sekarang ya?" Karin dengan yakin menganguk dan tersenyum.
"Pelan-pelan ya, Bal? Katanya kalau pertama sakit banget," pinta Karin.
"Siap, Non. Walaupun ini pertama juga bagi aku, tapi aku yakin, aku bisa melakukannya," balas Iqbal antusias.
"Lakukanlah sekarang, Bal."
"Oke."
Setelah puas menggeseknya, kini perlahan Iqbal mengarahkan rudalnya memasuki lembah yang masih sangat sempit. Pinggang Iqbal terus mendorongnya hingga pada titik tertentu, Iqbal seperti menemukan dinding penghalang. Tanpa ragu lagi Iqbal menggerakkan pinggulnya lumayan keras hingga timbul suara lengkingan dari mulut Karin yang begitu keras. bersama dengan itu Iqbal menarik rudalnya dan dia tersenyum bahagia saat melihat darah di ujung rudalnya.
"Akhirnya, aku bisa menembusnya."
...@@@@@...