
Amanda tak habis pikir dengan ide gila suaminya. Bisa bisanya sang suami dengan mudahnya mengusulkan hal yang diluar nalar pikiran manusia demi membuktikan keraguan yang mereka rasakan beberapa bulan ini kepada anak bungsunya Karin.
Meski begitu, apa yang diusulkan suaminya ada benarnya juga. Cara itu bisa menjadi bukti atas keraguan mereka.
Sungguh Amanda dan Martin lumayan sedih karena bersikap seperti itu kepada putri bungsunya. Tapi hasutan hasutan tak kasat mata dari kedua kakak Karin, seakan menutup mata hati mereka untuk percaya kembali kepada si bungsu.
Bukan hanya hasutan semata yang mereka dapat. Bukti bukti yang mereka temukan juga mengarah pada kenyataan kalau Karin sudah merusak kepercayaan mereka. Dari ditemukannya alat pengaman bekas di mobil dan kamar Karin, video Karin sedang joget bersama pria pria di sebuah klub, Karin mabuk, dan bungkusan benda haram yang juga mereka temukan di lemari Karin membuat mereka murka kepada dan hilang kepercayaan pada si bungsu.
Tanpa Amanda dan Martin sadari, sebenarnya itu adalah rekayasa dari dua putri lainnya. Karena tak terima dipaksa pulang dan akan dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya, Belinda dan Aleta melampiaskan kemarahannya kepada sang adik.
Belinda dan Aleta yang sudah terbiasa hidup di luar negeri dengan segala kebebasanya, tiba tiba dipaksa pulang dan dikekang pergaulan oleh orang tuanya membuat mereka murka. Di tambah lagi mereka sangat tidak terima dengan rencana perjodohan yang menurut mereka sudah bukan jamannya.
Belinda dan Aleta semakin muak saat mereka tahu, Karin hidup bebas bersama orang tuanya. Karin bebas pulang malam, bebas main, bebas melakukan apa saja tanpa pengekangan sedangkan mereka, keluar rumah harus ijin, harus pakai supir dan sebagainya yang membuat mereka semakin murka.
Dari rasa iri itulah mereka merencanakan untuk membuat Karin tidak dipercaya lagi oleh orang tuanya. Mereka pura pura baik pada Karin untuk melakukan rencananya hingga mereka berhasil merusak kepercayan orang tua hingga membuat Karin tertekan dan berubah menjadi sosok yang tak bersahabat pada keluarganya.
Waktu terus bergulir dan kini pagi pun telah menjelang. Pagi ini, Iqbal mendapat tugas dari Mbak Inah untuk merapikan rumput di sekitar kolam renang. Dengan senang hati Iqbal menerima tugas tersebut.
Dengan menenteng alat alat yang diperlukan, Iqbal melangkah ringan menuju kolam renang. Namun saat dia sampai, Matanya dikejutkan dengan pemandangan indah bagi mata laki laki seperti dia.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Belinda sedang melakukan peregangan dengan memakai pakaian renang layaknya pakaian pantai yang biasa di pakai bule saat berjemur. Kain penjerat bukit kembar yang hanya menutupi bagian puncak dan segitiga bermuda tipis yang hanya menutupi gundukan yang terbelah di tengahnya. Sungguh mata Iqbal terpana dibuatnya.
Ini pertama kalinya bagi Iqbal, menatap langsung pemandangan indah yang membuat pikiran laki laki terasa segar. Wanita memang pemandangan paling indah.
"Iya, Nona. Maaf jadi mengganggu." Ucap Iqbal sedikit tergagap. Segera dia melangkah menuju tempat seberang.
Namun saat langkah kakinya tepat berada dihadapan Belinda. Tangan wanita itu bergerak dan didorongnya tubuh Iqbal hingga Iqbal terjatuh ke dalam kolam.
Byur!!
Belinda langsung terbahak. Beruntung Iqbal bisa renang, jadi dia langsung bisa menguasai dirinya agar tidak tenggelam. Dengan perasaan kesal, Iqbal menepi kemudian dia naik ke daratan.
"Jadi basah semua kan, Non. Mana sudah mandi lagi." Gerutu Iqbal. Namun Belinda tak merasa bersalah. Dia malah semakin tertawa kencang.
Iqbal pun melepas kaosnya yang basah. Seketika tawa Belinda terhenti. Berubah jadi rasa terkejut dengan mata membulat saat melihat badan Iqbal yang terlepas dari kaosnya.
Sungguh, keindahan tubuh seorang Iqbal langsung menghipnotis mata wanita itu. Bahkan saat Iqbal berbalik badan dan menjauh karena akan berganti pakaian, Belinda seperti tak rela. Dia tidak menyangka kalau sang supir terlihat sangat tampan dengan tubuh atletisnya.
Sepeninggal Iqbal dari kolam renang, Belinda pun menyunggingkan senyum nakalnya.
"Badan si supir oke juga. Aku harus bisa mendapatkannya, harus!"
...@@@@@...