
"Iqbal mau dipecat, Mi?".
Deg!
Semua yang ada di ruangan itu terkesiap. Semua mata menatap ke sumber suara yang bertanya. Di sana, di atas Sofa, Karin melempar pertanyaan yang penuh rasa kaget dan kecewa. Karin yang baru sadar sejak beberapa menit yang lalu, memilih berpura pura tetap tak sadarkan diri demi mendengar pengakuan kedua kakaknya. Namun Karin sungguh terkejut dan tidak menyangka, kalau orang tuanya juga akan memisahkan dirinya dengan Iqbal tanpa alasan yang jelas.
"Karin, kamu sudah sadar, Sayang?" ucap Amanda merasa bahagia. Dia memilih mengabaikan pertanyaan sang anak.
"Mami akan memecat Iqbal?" pertanyaan yang sama dilontarkan kembali oleh Karin, membuat Amanda nampak kebingungan menjawab.
"Eh, enggak. Siapa yang bilang?" kilah Amanda. Karin tersenyum kecut.
"Mami tidak suka anak anaknya berbohong, tapi mami bisa berbohong seperti itu?" tanya Karin pelan tapi menusuk.
"Bukan begitu, Karin, Mami hanya ..."
"Mami hanya nggak mau kamu terlalu dekat dan bergantung sama Iqbal, Rin. Masa gitu aja kamu nggak maksud," cibir Belinda dengan entengnya. "Maka itu Mami ingin mecat Iqbal."
Deg!
Karin tertegun mendengarnya. Dia mengedarkan pandangannya ke arah Belinda.
"Diam kamu, Belinda! Nggak usah memperkeruh suasana!" bentak Martin.
"Kenapa, Pi? Yang aku ucapin benar, kan? Kalian hanya memikirkan perasaan Karin, tanpa memikirkan perasaan dua anak kalian yang lain."
"BELINDA!"
"APA! Pi, APA! Mau ngancam aku masuk ke penjara? Silakan? Bukankah kalian itu senang jika aku dan Aleta terkekang? Silakan, penjarakan kita!"
Martin syok mendengarkan ucapan anaknya yang lantang. Matanya nyalang menatap anak pertamanya yang juga menyiratkan rasa kecewa.
"Bagi kalian, anak kalian itu cuma Karin. Papi sama Mami membiarkan aku dan Aleta ikut sama Oma. Kami yang masih kecil dipaksa harus ngerti keadaan kalian. Dimana kalian saat kami membutuhkan orang tua dalam acara sekolah kami? Hah! Dimana kalian saat kami demam dan merindukan ditemani kalian? Dimana kalian, saat kami membutuhkan kehadiran orang tua hanya sekedar untuk mengambil raport! Tapi disaat kami sedang menikmati hidup, kalian datang sebagai orang tua, seenaknya merampas kebahagiaan kami dan mengekang hidup kami, kami punya salah apa sama kalian? Hah!" airmata Belinda luruh, begitu juga Aleta. Beban berat yang selama ini mereka pendam, berhasil mereka luapkan malam ini.
"Kami iri sama Karin, yang setiap menerima raport selalu kalian yang datang. Kami iri sama Karin, ketika dia sakit, kalian ada bersamanya. Kami dapat apa dari kalian? Hanya dapat kiriman uang, apa kami juga tidak membutuhkan kasih sayang dan perhatian kalian? Sampai bertahun tahun kami dititipkan sama Oma dan Opa," lanjut Belinda sambil sesenggukan.
Martin dan Amanda terbungkam dengan apa yang Belinda katakan. Mereka tidak menyangka keputusannya dulu untuk mengirim dua putrinya ke luar negeri, membawa luka tersendiri buat mereka.
Iqbal, Rio, dan Candra hanya terdiam menyaksikan drama keluarga dihadapan mereka. Sedangkan Karin terlihat syok mendengar pengakuan Belinda. Sekarang dia sangat paham kenapa kedua kakaknya sangat membencinya.
"Maafkan aku Bel, Let," ucap Karin tiba tiba, membuat semua yang ada disana terperangah. "Aku tidak tahu kalau kekecewaan kalian sedalam itu. Maaf, jika karena aku, kalian harus kehilangan hak kalian untuk mendapatkan kasih sayang yang sama dari Papi dan Mami. Maafkan aku."
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Amanda.
"Jangan ikuti aku!" ucap Karin dingin. Dia berjalan perlahan ke arah belakang. Iqbal yang hendak mengikuti juga terpaksa berhenti saat Karin melarangnya dan memberi tatapan tajam.
Semua terdiam dengan pikiran masing masing, hingga mereka dikejutkan dengan Karin yang datang dengan membawa pisau dan tali.
"Non Karin! Non Karin mau ngapain?" tanya Iqbal panik. Begitu juga yang lainnya.
"Masuk ke kamar dan ikat tanganmu dengan ini ke tepi ranjang!" titah Karin kepada Iqbal sambil melempar tali.
"Tapi untuk apa?"
"Turuti aku atau kamu akan melihat mayatku!" hardik Karin dingin.
Semua syok melihat Karin yang menempelkan pisau ke arah pergelangan tangannya.
"Non Karin?"
"Kamu mau lihat aku mati? Oke!" Karin langsung menggerakan pisau.
"Iya, oke, oke aku turutin."
"Sadar, Sayang. Kamu nggak ..."
"DIAM!" bentak Karin. "Aku nggak mau dengar apapun lagi dari mulut kalian."
Suasana diruang itu saat ini sungguh sangat menegangkan. Dengan perasaan bingung, Iqbal masuk ke dalam kamar yang ditunjuk Karin dan mengikat tangannya dengan kencang. Iqbal tidak bisa berkutik karena di depan pintu kamar, Karin mengawasinya dengan pisau yang masih terpasang di pergelangan tangan.
"Ini, udah di ikat tanganku," ucap Iqbal sambil menunjukan tangan kirinya yang dia ikat sendiri.
Karin menyeringai, kemudian dia menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Aku akan menyerahkan tubuhku untuk Iqbal, jika ada yang mengganggunya, maka dipastikan, aku akan mati!"
Brak!
...@@@@@...