TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 246 (Jamal)


"Loh! Mas Jamal ada di rumah?" tanya Akmal yang kelihatannya baru pulang sekolah.


"Aku memang ada dirumah, emang kenapa?" tanya Jamal yang merasa bingung dengan pertanyaan adiknya.


"Enggak, kirain Mas Jamal ikut ke rumah sakit jagain Emak."


"Apa? Emak masuk rumah sakit?" tanya Jamal dengan perasaan yang tidak karuan. Jamal merasa masuknya Emak ke rumah sakit pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi.


"Masa Mas Jamal nggak tahu? Orang tetangga aja pada tahu."


Jamal tertegun mendengar ucapan adiknya. Hatinya mencelos. Segitu kecewakah Emak sama Bapak? Sampai mereka enggan membangunkan anaknya dalam keadaan genting seperti itu? Jamal terduduk di kursi yang ada di dekat kamar Emak. Lututnya tiba tiba merasa sangat lemas.


Meski terlihat heran, Akmal langsung saja masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Setelah itu, Akmal keluar kamar dan menyiapkan apapun yang mungkin dibutuhkan.


"Mas Jamal mau ikut ke rumah sakit enggak?" pertanyaan Akmal sontak mengagetkan sang kakak.


"Ikut, Mal."


"Ya udah, ayo berangkat."


"Bentar, aku ganti pakaian dulu."


Jamal bergegas masuk ke kamarnya. Tak lama setelah ganti baju, dan mengambil dompet dan ponselnya, dia keluar dan kakak dan adik itu bergegas ke rumah sakit dengan menggunakan ojek.


Beruntung jarak rumah sakit umum daerahnya tidak terlalu jauh. Kurang dari sepuluh menit mereka telah sampai tujuan. Setelah mencari dan bertanya ke bagian IGD, kakak beradik itu langsung menuju ruangan dimana Emak dirawat.


"Gimana keadaan Emak, Pak," tanya Akmal. Sedangkan Jamal hanya menatap nelangsa pada wanita yang terbaring lemah dan tertancap selang infus ditangannya.


"Ya biasa, darah tinggi Emak kumat," jawab Bapak yang duduk di tepi brangkar.


"Kenapa aku tadi nggak dibangunin, Pak?" tanya Jamal getir.


Bapak menghembus nafas secara kasar. "Emak yang nggak ngijinin. Katanya mungkin kamu masih capek."


Ada rasa nyeri dalam hati Jamal mendengar jawaban dari bapak. Semarah marahnya Emak, dia masih memikirkan anaknya. Jamal pun tak bertanya lagi. Dia tidak mau kemarahannya memancing keributan.


"Bapak udah makan?" tanya Jamal lagi.


"Gimana mau makan, lihat Emakmu kayak gini," jawab Bapak. Meski dalam keadaan marah, Bapak masih bisa mengontrol emosinya untuk saat ini.


"Ayo, Pak. Aku juga udah lapar," ajak Akmal.


Bapak tak bisa menolak. Dia juga sudah merasa lapar. Bapak lantas bangkit. "Kamu mau dibungkusin makan nggak?"


"Nggak usah, Pak. Kalau uangnya lebih, buat beli buah dan air kemasan aja. Aku makannya nanti, setelah Bapak balik kesini."


Babak hanya mengangguk kemudian dia pergi bersama Akmal. Kini dalam ruangan yang dapat di isi tiga pasien, kini hanya ada Jamal dan Emak.


Mata Jamal menatap lekat wajah wanita yang kulitnya sudah mulai keriput. Rasa bersalah dan penyesalannya kembali menyeruak dari dalam benaknya. Diraihnya telapak tangan Emak yang tidak tertancap jarum infus. Diciumnya punggung tangan wanita dalam dalam. Tanpa terasa, air mata Jamal sedikit menetes.


"Kenapa darah tinggi Emak kambuh lagi, Pak?" tanya Akmal begitu mereka duduk dikantin.


"Namanya udah tua, Mal. Mungkin Emak terlalu capek juga," kilah Bapak. Dia tidak mau anak bungsunnya tahu, masalah yang terjadi dengan kakaknya.


"Lagian di rumah ada Mas Jamal, kenapa malah tetangga yang dititipin pesen," protes Akmal.


"Udah jangan kebanyakan protes, tinggal makan, jangan banyak tanya," hardik Bapak. Akmal hanya mencebikan bibirnya, lalu langsung menyantap makanannya.


Sementara itu di ruang rumah sakit.


"Eughh." terdengar suara lenguhan Emak. Nampaknya dia baru tersadar dari pengaruh obatnya. Jamal sontak mendongak dan menatap Emak dengan penuh rasa khawatir.


"Emak udah sadar? Gimana perasaan Emak sekarang? Apa udah mendingan? Masih terasa pusing nggak?" tanya Jamal bertubi tubi dengan raut wajah terlihat khawatir.


Emak menatap Jamal sekilas kemudian langsung berpaling menatap tembok. Lagi lagi hati Jamal mencelos melihat sikap Emak yang masih berpaling darinya. Hatinya kembali terasa nyeri. Baru kali ini Jamal menghadapi kemarahan Emak tapi dengan cara diam. Tidak ngomel seperti biasanya.


"Mak," panggil Jamal lirih. "Kalau Emak masih marah, maki aja Jamal, Mak. Jangan diamkan Jamal seperti ini. Jamal tahu Jamal salah, Mak. Tapi jangan diamkan Jamal."


Mendengar suara Jamal yang bergetar, air mata Emak sontak menetes kembali. Hatinya masih tak percaya, anak sepolos Jamal berubah menjadi anak yang bisa membuat malu orang tuanya.


"Mak, Jamal mohon, ampuni Jamal, Mak. Jamal minta maaf. Jamal tahu Jamal salah. Tapi tolong jangan diamkan Jamal."


"Terus Emak harus ngomong apa, Mal? Apa Emak harus bangga dengan perbuatan anaknya yang memalukan? Emak harus bagaimana, Mal?"


Deg!


...@@@@@...