TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 203


Iqbal merasa lega. Meski Karin belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius, setidaknya wanita itu aman dari rencana fitnah kedua kakaknya. Iqbal masih tidak menyangka, ada saudara bisa berbuat sejauh itu demi sebuah obsesi. Dan yang menjadi obsesi kedua kakak Karin adalah Iqbal.


Hanya karena ingin merasakan isi celana seorang Iqbal, dua wanita dengan teganya bekerja sama ingin merusak hidup adiknya sendiri. Adik yang tidak pernah berbuat salah pada kedua kakaknya, tapi malah mendapat perlakuan seakan akan dia mempunyai dosa besar kepada dua kakaknya.


Dengan tatapan sendu, Iqbal memandang wajah damai yang sedang terpejam karena pengaruh obat. Dibelainya pipi Karin dan dikecupnya punggung tangan wanita itu berkali kali. Sangat mendamaikan hati Iqbal.


Sementara di dalam sebuah kamar, teriakan demi teriakan tak henti hentinya kelaur dari mulut dua wanita yang ada di dalamnya. Sedangkan dua pria yang ada disana memilih diam dan berbaring sambil menahan sisa rasa perih akibat perkelahian mereka dengan Iqbal. Kedua pria itu tidak menyangka, orang yang mereka remehkan justru dengan mudah mengalahkan mereka tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak.


"Iqbal! Buka! Iqbal!" teriak Belinda semakin geram. Suaranya hampir hilang karen dia teriak terus sedari tadi minta di keluarkan.


"Aduh, Bel, ini gimana? Benar nggak sih, Papi lagi menuju kesini?" ucap Aleta frusfasi dan merasa sangat ketakutan.


"Nggak mungkin, paling cuma gertakan Iqbal doang," sangkal Belinda. Sejujurnya dia juga takut dengan ancaman Iqbal. Tapi dia mencoba menyangkalnya karena jarak rumah dan puncak itu sangat jauh, jadi mana mungkin Papi mereka datang ke puncak malam malam begini.


"Tenang sih, Bel. Percuma kamu teriak teriak, supir kampung itu tidak akan peduli," ucap Rio santai.


"Sial!" umpat Belinda kesal, dia duduk di samping ranjang. Rio bergeser dan melingkarkan tangan di pingggang Belinda.


"Main aja yuk, daripada marah marah," goda Rio sambil cengengesan.


"Yang benar aja, lagi genting begini malah main," gerutu Belinda.


Rio hanya menyeringai. "Lagian itu supir tahu dari mana sih, kita berada di sini?"


"Nggak tahu, aku aja kaget, tahu tahu dia sudah ada disini dan menggagalkan rencana kita," sungut Belinda semakin merasa kesal.


"Apa sejak berangkat, dia mengikuti kalian?"


"Aku nggak tahu, Rio! Lagian, dia mengikuti kita pake apaan coba?"


"Ya pake mobil yang biasa dia pakai lah, apa lagi."


Sedangkan Candra memilih bangkit dan menghampiri Aleta yang memilih duduk di sofa. Aleta terkejut saat Candra menjatuhkan kepala diatas pangkuannya.


"Kamu kenapa? Kok melamun?" tanya Candra sembari menatap wajah Aleta yang gelagapan.


"Eh, enggak kok," jawab Aleta gugup. "Aku hanya memikirkan bagaimana nasib kita jika Papi tahu."


Candra tersenyum dengan manisnya. Membuat Aleta salah tingkah. "Kalau orang tua kamu nyuruh aku menikahi kamu, gimana?"


Mata Aleta melotot mendengar pertanyaan Candra. Dalam hati, Aleta tidak bakalan menolak menikah dengan pria tampan dan bertato tersebut. Namun berbeda dengan isi hati Candra. Dia mau menikahi Aleta jika disuruh karena sudah pasti, dia akan ikut menikmati harta orang tua Aleta.


"Belum tentu Papi setuju, Papi aku tuh orangnya susah diajak kompromi," balas Aleta sembari menyandarkan punggungnya.


Candra mengulum senyum. Perut Aleta yang terbuka Candra kecup hingga wanita itu kembali terkejut.


"Kamu sangat cantik, kenapa dalam situasi seperti ini kita dipertemukan yah?" gombal Candra.


"Gombal banget, pasti cowok setampan kamu, ceweknya antri banget," cibir Aleta meski hatinya sangat senang saat dia mendengar mulut candra kemuji kecantikannya.


"Hahaha ... bisa aja kamu, emangnya aku laki laki apaan sampe ceweknya pada ngantri," sangkal Candra. Tentu saja Candra tidak mau mengakui kalau nyatanya memang banyak tante girang atau tante kesepian yang mengantri untuk mendapat kepuasan dari pria bertato itu.


Di saat dua pria di dalam kamar sedang asyik melancarkan rayuan mautnya, diluar kamar, Iqbal malah sedang asyik menyantap makanan hasil berbeque yang masih tersisa banyak dan siap santap.


Demi mengikuti Karin karena takut terjadi apa apa, Iqbal sampai mengabaikan rasa laparnya. Sekarang saat Karin sudah aman, baru rasa lapar meronta dari dalam perutnya. Berunrung, di halaman belakang rumah masih ada banyak sisa makanan. Sambil menunggu Karin sadar, dia segera saja menyantap makanan yang ada.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengarlah sebuah teriakan yang cukup keras dari arah pintu utama.


"Mana anak anak kurang ajar itu!"


...@@@@@...