
"Hayo loh! Lagi ngapain di sini?"
Suara seseorang yang menempuk pundak membuat Rizal terkejut dan dia pun memutar kepalanya. Mata Rizal seketika membelalak saat tahu siapa yang menepuk pundak.
"Iqbal!" pekik Rizal agak terbata.
Sontak saja wajah Rizal sedikit pias. Bukannya tidak senang bertemu sahabatnya tapi posisinya sekarang ada Miranda yang sedang bergelayut di lengannya. Dan sudah pasti, Iqbal menatap Rizal dengan tatapan yang menyelidik dan seakan butuh penjelasan.
"Siapa, Zal?" tanya Miranda yang ikut membalikan badan juga dan melihat pria yang ada dihadapannya dengan dahi berkerut.
"Temen aku di kampung," jawab Rizal gugup.
"Oh teman satu kampung," balas Miranda sedikit tenang. "Kenalin, aku kekasihnya Rizal."
Sontak saja Rizal terperangah dengan pengakuan Miranda. Dan pastinya Iqbal semakin menatap Rizal dengan tajam meski Iqbal sedikit cengengesa.
"Oh iya, aku Iqbal, sahabatnya Rizal," jawab Iqbal sambil menjabat tangan Miranda. Dan saat tangan mereka saling genggam.
"Iqbal!" pekik Karin yang memang baru datang setelah dari toilet langsung menarik tangan Iqbal yang sedang bersalaman dengan Miranda dan bergelayut. Sekarang gantian Iqbal yang wajahnya pias mendapat tatapan tajam dari Rizal.
"Mereka siapa, Bal?" tanya Karin sambil bersikap manja.
"Ini sahabatku, Rizal namanya. Dan ini kekasihnya," Jawab Iqbal agak tergagap.
"Oh gitu. Kenalin yah, aku juga kekasihnya Iqbal," sontak saja mendengar ucapan Karin, mata Iqbal sedikit melotot. Dan sekarang gantian Rizal yang pandangannya seperti menuntut penjalasan sambil cengengesan.
Namun tak lama kemudian senyum Rizal memudar berubah menjadi kening berkerut saat melihat sosok yang dia kenal sedang tertawa mesra dengan seorang perempuan di belakang Iqbal.
"Jamal!" pekik Rizal.
Sontak saja, sosok yang sedari tadi sedang ketawa ketiwi hinggga tak sadar tempat langsung memandang ke sumber suara. Seketika suara tawa sosok tersebut ternganga bersaman Iqbal yang juga ikut menoleh ke belakang.
"Iqbal! Rizal!" pekik Jamal agak gugup. Sontak saja semua mata juga menatap Jamal yang sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita.
Di tatap tajam oleh kedua temannya, sontak saja Jamal semakin gugup. Apalagi posisinya bergandengan tangan dengan Selin, makin salah tingkahlah dia saat ini.
"Siapa, Mal?" tanya Selin dengan tatapan bingung.
"Teman teman aku di kampung," jawab Jamal gugup.
"Kamu pacarnya Jamal?" tanya Iqbal sambil sedikit cengengesan melirik Jamal yang wajahnya pias.
"Iya, kenalin, Selin," jawab Selin sambil mengajak Iqbal jabatan. Iqbal pun mengangkat tangannya, tapi segera di tepis oleh Karin sambil melotot tajam. Hingga Iqbal pun kembali menurunkan tangannya, tidak membalas jabatan tangan Selin.Tapi yang menjawab adalah Karin.
"Saya Karin, dan ini Iqbal kekasih saya," balas Karin seramah mungkin.
"Oh, oke selamat ya," ucap Selin. "Itu yang di belakang, Berpasangan juga ya?"
"Iya, sama seperti kalian," Miranda yang menjawab.
"Oh, ya udah, ayo, Sayang, kita nyari tempat yang lain aja, disini penuh," ajak Selin manja.
Iqbal dan Rizal pun hanya mengangguk. Mereka juga sebenarnya sama gugupnya.
"Permisi, Mbak, ini esnya," ucapan sang pelayan membuat Miranda dan Rizal menoleh.
"Oh iya, makasih," jawab Miranda sambil menerima sebungkus cup es coklat.
"Yuk, Zal balik," ajak Miranda.
"Eh iya, yuk," jawab Rizal agak gugup karena di belakangnya Iqbal terus menatapnya.
"Bal, aku duluan yah?" pamit Rizal.
"Oh iya, Zal, silakan," ucap Iqbal.
Rizal dan Miranda pun kembali melanjutkan kencannya ke tempat lain.
"Itu serius tadi teman teman kamu, Zal?" tanya Miranda ketika mereka berada di dalam mobil.
"Iya Non. Kenapa?" tanya Rizal.
"Ganteng ganteng banget," puji Miranda.
"Non suka?" tanya Rizal dengan ketus.
Miranda menoleh dan melihat wajah Rizal yang sudah cemberut. Miranda pun tergelak melihat tingkah menggemaskan supir kesayangannya.
"Kamu cemburu?" tuduh Miranda sambil senyum senyum.
"Cemburu? apaan itu cemburu?" kilah Rizal bersungut sungut. Miranda yang melihat Rizal semakin menggemaskan pun seketika bangkit dan melayangkan bibirnya di pipi Rizal.
"Non, Ih, bahaya! Orang lagi nyetir."
"Ya abis kamu menggemaskan banget. Gitu aja cemburu."
"Siapa yang cemburu? Lagian Non Miran, orang lagi bareng gini, pake muji muji pria lain. Mana yang di puji temen temenku lagi," sungut Rizal dan itu membuat Miranda semakin tergelak.
"Iya, iya, maaf," ucap Miranda mengalah. Dia sungguh senang ada yang menaruh cemburu kepadanya.
"Kita kemana ini, Non? Pulang?"
"Jam berapa sih?"
"Baru jam lima."
"Ke hotel aja yuk, Zal?"
Dengan senang hati, Rizal pun menjawab, "Oke!"
...@@@@@@...