
Tok! Tok! Tok!
"Permisi ..."
"Ya sebentar!"
Seorang wanita paru baya berjalan cepat dari arah belakang rumah menuju pintu depan karena merasa ada tamu yang datang. Segera pintu itu dibuka.
Begitu pintu dibuka, wanita paru baya itu sedikit tercengang saat melihat siapa yang datang. Dia merasa tidak mengenal tamu yang tersenyum kepadanya saat ini.
"Maaf, cari siapa ya, Mbak?" tanya wanita itu sedikit menyelidik. Tamunya terlihat cantik meski pakaiannya sangat sederhana.
"Maaf, apa benar ini rumah Rizal?" tanya wanita itu ramah.
"Benar, Mbak, siapa ya?"
Wanita itu kembali tersenyum. "Saya Miranda. Saya ingin bertemu dengan orang tuanya Rizal. Apakah Ibu, Ibunya Rizal?"
Deg!
Wanita paru baya itu tertegun. Dia tahu siapa tamu yang datang saat ini. Seorang wanita yang menjadi alasan Rizal tersandung dalam perbuatan zina. Ibu Rizal sedikit gugup. Ingin marah tapi sepertinya percuma. Semua sudah terjadi. Entah apa tujuan wanita itu datang kemari. Ibunya Rizal tidak mau berpikir buruk dulu. Dia juga butuh penjelasan dari wanita itu
"Oh gitu. Iya, saya ibunya Rizal. Kalau begitu silakan masuk."
Miranda terus memamerkan senyum ramahnya. Padahal saat ini hatinya sangat grogi dan canggung. Tapi mau tidak mau Miranda memang harus melakulan hal ini.
Pertama kali mendengar kabar kalau orang tuanya Rizal marah besar, rasa bersalah langsung menyeruak dalam hati Miranda. Setiap Rizal menceritakan kemarahan orang tua dan kakaknya, rasa bersalah Miranda semakin menggerogoti hatinya. Hingga Rizal memberi kabar baik tentang orang tua yang katanya sudah merestui hubungan mereka, rasa bersalah Miranda masih saja terus bersemayam di dalam hati dan pikirannya.
Karena rasa bersalah itulah, akhirnya Miranda berinisiatif pergi ke kampung Rizal tanpa pemberitahuan. Dia datang karena ingin minta maaf secara langsung kepada orang tua Rizal, karena telah menjerumuskan anaknya dalam masalah keluarganya.
"Maaf, rumahnya berantakan," ucap Ibu sambil membawa nampan berisi teh hangat dan dua toples cemilan.
"Nggak apa apa, cuma teh saja," balas ibu, kemudian dia duduk di kursi seberang. "Sayang sekali Rizalnya sedang pergi, tadi sih bilangnya mau melihat latihan bela diri."
"Tidak apa apa, Bu. Saya kesini ingin bertemu dengan Ibu dan Bapak Rizal. Saya mau minta maaf, atas segala masalah yang saya lakukan hingga melibatkan Rizal," ucap Miranda. Akhirnya dia mendapat kesempatan mengungkapkan tujuannya datang ke rumah Rizal.
Ibu sedikit tertegun, rasa kecewa kembali menyeruak. "Jujur, saya sendiri sebagai Ibunya juga kecewa. Kenapa anak saya terlibat urusan rumah tangga majikannya. Bahkan sampai terjadi hubungan yang sangat dilarang. Rizal seperti melempar kotoran pada wajah saya."
"Maafkan saya, Bu. Maafkan saya. Saya yang menyebabkan semuanya. Rizal tidak salah dalam hal ini. Tapi saya yang telah bertindak terlalu jauh hingga melewati batasan tanpa berpikir akibatnya. Maafkan saya," ucap Miranda penuh sesal. Dia bahkan beberapa kali meneteskan air matanya sebagai tanda kalau Miranda memang sangat menyesalinya.
Ibunya Rizal menghela nafas dalam dalam dan perlahan menghembuskannya. "Apa benar anda sedang menggugat cerai suami anda?"
Miranda mengangguk. "Mungkin langkah ini harusnya sudah saya lakukan sebelum mengenal Rizal. Saya tidak mau Rizal dipandang buruk karena kesalahan saya."
"Hmm ... biar bagaimanapun semua sudah terjadi bukan? Saya sebagai orang tua, berharap semua ini tidak terjadi lagi. Kalaupun kalian berjodoh dengan cara seperti ini, ya bagaimana lagi. Kita menantanganya juga percuma bukan? Kalau Tuhan sudah berkehendak. Saya cuma berharap jika hubungannya berlanjut, hendaklah kalian menahan diri."
"Terima kasih, Ibu. Terima kasih atas segala kesempatan dan maaf atas apa yang saya lakukan."
"Loh, Ada tamu?" Suara menggelegar seorang pria mengejutkan Miranda dan Ibunya Rizal.
"Bapak sama Andin kok bareng?" Bukannya menjawab, Ibu malah melempar pertanyaan karena melihat anak gadisnya pulang bersama sang suami. Sedangkan Miranda hanya mampu mengulas senyum ramah kepada keluarga Rizal yang lain.
"Tadi ketemu Andini di perempatan," balas Bapak begitu duduk dikursi dekat istrinya. Sementara Andini memiilih masuk ke kamar sejenak kemudian kembali bergabung bersmaa orang tuanya.
"Ini Miranda, majikannya Rizal. Mungkin sebentar lagi akan jadi mantu kita," terang Ibu mengenalkan tamunya. Bapak sama Andini sontak terkejut bersama.
Sesaat mereka saling mengenalkan diri hingga bergulir tanya jawab seputar masalah yang terjadi diantara Miranda dan Rizal. Awalnya terdengar canggung, tapi lama kelamaan suasana berubah menjadi hangat. Tidak ada emosi dan saling menyalahkan. Yang ada justru kehangatan dan hati yang lapang memberi dan menerima maaf serta kesempatan. Saat mereka sedang larut dalam obrolana, pemuda yang menjadi topik pembicaraan pun datang dan nampak terkejut.
"Non Miran!"
...@@@@@@...