
"Kenapa kamu nggak manfaatin supirmu aja untuk dijadikan selingkuhanmu?" Usul Violin
"Apa? Jangan ngaco kamu, Vi!" Sungut Miranda.
"Loh? Daripada pusing pusing nyari cowok lain buat jebolin punya kamu yang masih rapat. Kenapa nggak manfaatin supir kamu aja?" Ucap Violin berapi api.
"Bener, Mir. Lagian dia tampan, anaknya juga sopan. Aku yakin nggak rugi jika kamu selingkuh sama dia? Lagian, kamu pasti juga sudah akrab kan?" timpal Natasha.
"Nah, cocok itu, Mir. Udah. Nggak perlu mikir baik buruknya. Sekali kali kamu mikirin kebahagianmu juga dong, Mir? Hubungan ranjang juga salah satu cara membuat kita bahagia loh?" sambung Violin.
"Kita tahu, Mir. Selingkuh itu tidak baik, sangat tidak baik. Tapi kalau laki lakinya mempunyai kelainan kayak Tomi, siapa yang tahan, Mir? Dia aja bebas mengumbar hasrat dan kamu mengetahuinya? lah kamu?" ucap Natasha lagi.
"Kalau pun kamu cerai, kamu tahu sendiri orang orang yang akan menentangnya siapa saja, apa kamu akan tahan?" ujar Violin tak mau kalah.
Sementara Miranda hanya terdiam. Dia mendengar dan mencerna ucapan kedua sahabatnya dengan baik.
Memang benar apa yang dikatakan kedua sahabatnya. Miranda juga butuh bahagia. Selama ini dia hanya membiarkan orang lain bahagia. Suami yang bebas melakukan penyimpangannya. Orang tua yang bisa hidup enak dengan terbantunya perusahaan oleh orang tua Tomi.
Namun apa yang Miranda dapat? Dia hanya diam dan mengalah. Miranda lebih memilih diam di rumah atau menghabiskan waktu di butiq. Dia lebih fokus membahagiakan orang lain dengan dalih dia bahagia jika bisa membuat orang lain bahagia. Tapi nyatanya, dia sama sekali kesepian. Ada sisi yang terasa kosong yang menyergap hatinya.
Tapi disisi lain, Miranda berpikir, apa dia tidak terlalu kejam jika memanfaatkan Rizal? Hanya demi kebahagiaan, dia harus memanfaatkan orang yang terlihat polos dan baik. Apakah itu tidak berlebihan? Sungguh hati Miranda saat ini berkecamuk di balik diamnya dia yang mendengarkan sahabatnya bersuara.
"Malah bengong! Miranda!" teriak Violin.
"Apaan sih, Vi? Ngagetin aja," sungut Miranda.
"Lah kamu, orang lagi dikasih usulan malah diam aja. Ini tuh kesempatan baik, Miranda, ini kesempatan baik!" ucap Violin gemas.
"Iya tahu, ini kesempatan bagus, tapi biarkan aku berpikir deh, Vi?" ucap Miranda tak kalah gemas dengan tingkah sahabatnya.
"Apa lagi yang kamu pikir kan? Orang tinggal sikat aja," Ucap Violin.
"Gini ya Violin, Natasha. Dia itu pemuda yang masih polos. Ciuman aja nggak pernah, apa lagi berhubungan badan."
"Apa!" pekik Violin dan Natasha bersamaan.
"Enak aja," tolak Miranda sengit dan Violin hanya terkekeh.
"Kalau emang dia sepolos itu, kamu berarti nggak rugi dong, Mir? Kamu yang pertama buat dia, dan dia yang pertama buat kamu, adil?" tukas Natasha.
"Kalian ini, enak banget kalau ngomong," lagi lagi Miranda bersungut sungut.
"Lah emang kita ngomongin hal yang enak, gimana sih kamu?" sungut Natasha.
"Lagian ya Mir. Supir kamu tuh tampan. Dan kamu bilang dia polos. Jika suami kamu tertarik sama supir kamu gimana? Apa itu nggak bahaya? Kamu tahu kan, Tomi gimana?" ucap Violin dan itu masuk akal.
Miranda juga memikirkan hal itu. Apalagi Tomi menawari Rizal pekerjaan, pasti dia ada maksud lain di balik penawaran kerja tersebut. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Rizal tidak boleh terjerumus ke dalam.pergaulan yang salah. Miranda harus bertindak secepatnya sebelum Tomi.
"Bener itu, Mir. Aku sih cuma khawatir ya, Mir, kasian supir kamu jika diperdaya Tomi. Kamu yang lebih tahu Tomi gimana, Mir," sambung Natasha.
"Tapi bagaimana caranya, agar dia mau menjebol punyaku? Masa iya, aku bersikap kayak cewek murahan, nawarin diri gitu? Yang ada dia nanti merasa gimana gitu," ucap Miranda.
Natasha dan Violin pun saling pandang sejenak, kemudian keduanya tersenyum penuh arti sembari menatap Miranda. "Baiklah, aku kasih tahu caranya."
Sementara di tempat yang berbeda, dua orang tampan terlihat sedang mengatur nafasnya yang menderu akibat permainan yang baru saja lakukan. Yang satu atasan perusahaan, dan yang satu karyawan biasa bagian keuangan. Yang satu butuh uang dan yang satu butuh kepuasan.
Setelah istirahat yang cukup, karyawan tersebut bangkit dan beranjak memunguti pakaian dan mengenakannya kembali.
"Terima kasih, Ar. Nanti uangnya aku transfer." ucap sang atasan yang masih berbaring tanpa menggunakan apapun.
"Sama sama, Tuan Tomi. Kalau begitu saya permisi." ucap Karyawan tersebut.
Tomi pun termenung di atas ranjang yang ada di ruang kantornya. Sepanjang permainan yang dia lakukan tadi. Dia malah membayangkan sosok lain yang sedang bermain dengannya. Sungguh sosok itu benar benar telah menyita pikiran Tomi. Dia selalu berpikir keras bagaimana cara menaklukan sosok itu.
"Rizal, aku menginginkanmu."
...@@@@@...