TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 144


"Tadi kamu habis main sama cewek? Kok baju kamu bau parfum cewek?"


Seketika Iqbal terkesiap. Diapun menciumi kedua lengannya. Dan benar saja, lengannya bau parfum dan itu bukan bau parfum miliknya. Iqbal sontak bingung harus mengatakan apa. Tiba Tiba nyalinya menciut saat melihat tatapan tajam Karin.


"Itu nasi gorengnya di makan dulu," ucap Iqbal buat mengulur waktu agar dia bisa menjelaskan sesuai dengan apa yang terjadi. Iqbal berpikir dia yang paling aman diantara Rizal dan Jamal. Tapi nyatanya malah justru dia yang paling parah sepertinya.


"Jawab, nggak usah ngeles!" bentak Karin nampak emosi hingga Iqbal terkesiap.


"Iya, iya, aku jawab, jangan galak galak napa?" cicit Iqbal panik.


"Orang tinggal jawab, cepet!" hardik Karin. sembari menikmati nasi goreng, tatapan Karin tajam menatap Iqbal hingga hampir tak berkedip.


"Jadi pas aku sedang duduk istirahat setelah makan di tempat wisata, tiba tiba ada Belinda dan Aleta," ungkap Iqbal pelan karena merasa takut melihat Karin yang terlihat sangat galak.


"Apa?" tanya Karin berteriak hingga Iqbal terjengat saking kagetnya.


"Jangan teriak teriak dong, orang lagi dijelasin," gerutu Iqbal sambil mengusap usap dadanya.


"Udah, lanjut cerita," titah Karin.


"Belinda dan Aleta menyapaku, terus melihat Jamal dan Rizal, mereka jadi mendekat dan minta dikenalin," ungkap Iqbal pelan dan hati hati.


"Terus?"


"Belinda dan Aleta duduk disebelahku."


"Mereka nempel nempel?" Iqbal mengangguk. "Kamu nggak nolak?" Iqbal menggeleng. "Kenapa nggak nolak? Mau pamer gitu sama temen temen kamu?"


"Bukan gitu, aku mau nolak tapi ..." ucap Iqbal ragu. Jika berbicara, Karin pasti akan marah, tapi jika bohong, hasilnya akan sama saja, Karin marah.


"Tapi apa?" sungguh, Karin benar benar terlihat galak meski sambil makan nasi goreng.


"Tapi mereka menahanku, tanganku ditahan, mereka bergelayutan gitu. Gimana aku bisa nolak?"


"Apa!" Sontak Karin membentak hingga Iqbal sedikit terlonjak. "Kamu di gelayutin mereka tapi kamu diam saja? Hah!"


"Kan terpaksa," cicit Iqbal membela diri.


"Terpaksa tapi menikmati, iya, kan? Ngaku aja deh!" tuduh Karin. Iqbal mengangguk sambil cecengesan. "Tu kan! Sekalinya di ijinin libur malah main sama cewek lain."


"Ya ampun, Non, itu kan nggak sengaja ketemu," sanggah Iqbal.


"Meski nggak sengaja tapi kamu menikmati kan? Pasti kamu bahagia tuh saat dada mereka mempel, ngaku aja deh," tuduh Karin bertubi tubi. Dan Iqbal tetap cengengesan. Nyatanya apa yang Karin tuduhkan benar adanya. Iqbal sangat menikmati saat bukit kembar milik Belinda dan Aleta bergerak gerak di lengannya. Meski tertutup pakaian tapi tetap saja masih terasa sentuhannya.


"Nanti aja sih, sekalian mandi. Aku pengin istirahat bentar," tawar Iqbal.


"Entar bau parfum mereka nempel di kasur, lepasin dulu," ucap Karin memaksa.


"Iya, iya, Astaga!" Iqbal pun melepas kemejanya dan berdiri. Saat Iqbal hendak melangkah manaruh kemejanya ke dalam wadah pakaian kotor, tiba tiba.


"Pluk!


Karin tercengang dan segera mengambil benda yang terjatuh dari saku Iqbal.


"Pengaman?" ucap Karin terpengerah. "Ini pengaman siapa?"


"Punya aku lah," jawab Iqbal ketus. Dia langsung berbaring setelah menaruh kemejanya di dalam ember dekat kamar mandi. Kini Iqbal hanya memakai celana saja.


"Jadi kamu sempat main dengan Aleta dan Belinda pakai pengaman?" sontak saja Iqbal terkesiap dengan tuduhan yang baru saja Karin lontarkan.


"Astaga! Ya enggak lah," sanggah Iqbal.


"Lah terus gimana ceritanya kamu punya pengaman? Selama ini kita main nggak pernah pake pengaman?" cecar Karin.


"Maka itu aku sengaja beli pengaman. Mulai sekarang kita kalau main mending pakai pengaman, takutnya kita lagi apes terus kamu hamil, kamu nggak mau kan kuliahnya terganggu?"


"Pasti hanya alasan?"


"Astaga! Siapa yang Alasan, Nona Karin Sayang?" ucap Iqbal antara geram dan gemas. "Kalau nggak percaya ya tanya saja sama kedua temanku, mau aku hubungi mereka?"


Tapi Karin masih menatapnya dengan tatapan menyelidik. Meski dia merasa Iqbal memang jujur karena pemuda itu lancar dan berani menatap dirinya saat memberi penjelasan.


"Buka celanamu!" titah Karin.


"Buat apa?" tanya Iqbal sesaat setelah rasa terkejutnya hilang karena mendengar perintah Karin yang terdengar aneh.


"Tinggal buka, nggak usah protes!" hardik Karin.


"Iya, iya," Iqbal langsung melaksanakan perintah Karin. Tak butuh waktu lama celana panjang dan boxer Iqbal sudah terlepas.


Karin mendekat dan menggenggam batang Iqbal yang masih terkulai lemas kemudian Karin mengendus dan menghirup aroma bulu rimbun Iqbal yang ada di bawah perut. Kemudian tak lama kemudian mulut Karin telah memainkan batang Iqbal hingga menegang.


"Astaga! Pengin makan itu aja pake drama segala," gumam Iqbal sambil geleng geleng kepala.


@@@@@