TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 92 (Rizal)


Rizal dan Miranda kini benar benar terlihat seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara. Meski keduanya tidak memiliki rasa cinta, tapi keduanya terlihat begitu mesra. Apalagi Miranda sangat memanjakan Rizal hingga pemuda itu merasa senang. Apa yang dia mau, dengan senang hati Miranda menurutinya. Dan entah kenapa, sejak ronde pertama selesai, Rizal berubah berubah jadi manja. Sarapan pun Rizal minta disuapin. Disaat tangan Miranda sibuk menyuapi Rizal, tangan pemuda itu malah asyik mainan bukit kembar nan kenyal milik majikannya. Supir kurang ajar bukan? Tapi Miranda malah senang dibuatnya.


Setelah sarapan selesai beberapa menit yang lalu, kini keduanya sedang duduk di sofa. Awalnya mereka hanya ngobrol biasa dan saling bercanda layaknya sepasang kekasih. Namun lama kelamaan, mereka saling raba dan saling menempelan bibir.


Setelah puas bermain bibir, Rizal tetap duduk bersandar di sofa, sedangkan Miranda duduk berlutut di hadapan Rizal dengan lidah yang sibuk menjilati milik Rizal yang sudah sangat menegang. Sesuai permintaan, mereka akan melanjutkan ronde kedua setelah sarapan dan kini ronde kedua nampaknya akan segera dimulai.


Dengan semangat dan tanpa rasa jijik, Miranda melahap milik Rizal tanpa sisa. Bahkan kulit yang membungkus dua bola kecil milik Rizal juga dia lahap dengan penuh gejolak. Rizal hanya bisa mengerang, menikmati pelayanan sang majikan yang sangat memabukkan. Kadang Rizal memegangi rambut Miranda dan mendorong kepala Miranda agar mulutnya lebih dalam lagi melahap benda menegang miliknya.


Setelah puas menikmati milik Rizal dengan mulutnya, kini Miranda bangkit dan naik keatas sofa dengan kaki membentang diantara tubuh Rizal. Miranda langsung menyerang bibir Rizal dengan brutal dan Rizal pun membalasnya dengan senang hati.


Setelah itu, Miranda membuka pintu lembah dengan jarinya dan membimbing milik Rizal perlahan memasuki lembah nikmat mililnya.


"Enak banget, Non. Punya Non Miran menggigit banget," racau Rizal saat benda miliknya perlahan masuk ke dalam lembah nikmat. Sedangkan Miranda hanya tersenyum nakal dan bangga karena Rizal merasa keenakan dengan lubang miliknya. Meski rasa sakit masih terasa, tapi Miranda tidak menpedulikannya demi rasa nikmat yang akan dia raih bersama Rizal.


Benda menegang milik Rizal sudah masuk semua tanpa sisa. Miranda perlahan mulai menggerakkan pinggangnya sebelum naik turun hingga Rizal dibuat melayang karena nikmat yang tak terkira. Miranda kembali menyerang bibir Rizal yang terus meracau dan mengeluarkan suara kenikmatannya. Miranda benar benar bahagia melihat Rizal yang seperti ini.


Beberapa menit kemudian, kini keduanya ganti gaya. Miranda membungkukkan badannya dengan lutut bertumpu pada sofa dan Rizal berdiri di belakangnya. Mereka mencoba posisi naik kuda. Setelah semua benda milik Rizal amblas, Rizal langsung memacu dengan gerakan pelan tapi pasti hingga Miranda tak berhenti meracau merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Apalagi saat gerakan Rizal semajin cepat dan hentakanya semakin kuat, tubuh Miranda bergetar hebat meraih puncak.


Puas dengan gaya berkuda, kini mereka kembali berganti gaya yang dilakukan sama seperi pada umumnya. Miranda di bawah dan Rizal di atas. Keringat yang bercucuran dan rambut yang acak acakan membuat ketampanan Rizal semakin terpancar. Mulut Miranda tak henti hentinya memuji ketampanan Rizal yang jauh terlihat berbeda dari yang biasanya.


Hentakan dan hujaman yang kuat dan bertubi tubi membuat tubuh Miranda ingin mengeluarkan sesuatu kembali. Begitu juga milik Rizal yang nampak sudah tidak kuat menahan sesuatu lebih lama lagi. Dan pada akhirnya, mereka pun meraih puncak bersamaan dengan suara erangan yang kuat. Rizal pun ambruk diatas tubuh Miranda dengan rudal yang masih menancap di lembah milik Miranda. Wanita itu menyambut tubuh penuh keringat milik Rizal dengan pelukan hangat dan bahagia.


"Non?" panggil Rizal dengan nafas yang menderu.


"Hum," balas Miranda dengan keadaan nafas yang sama.


"Puas?" Miranda tersenyum kemudian mengangguk. Mereka pun menutup ronde kedua dengan perang bibir.


...@@@@@@...