
Ibarat pengantin baru yang sedang bulan madu, itulah gambaran yang bisa dibayangkan dari hubungan yang terjadi antara Rizal dan Miranda. Sejak kedatangannya ke Bali, hanya bahagia yang mereka rasakan. Seperti tidak ada masalah yang menyergap hidup mereka.
Terlihat dengan jelas raut bahagia tercetak di wajah keduanya saat ini. Meski tubuh mereka kotor dan penuh sisa keringat, tapi dua orang yang saling berpelukan itu senyumnya tak pernah surut sejak permainan ronde keduanya usai beberapa saat tadi.
Berbaring di atas sofa tempat bertukar keringat di ronde kedua, mereka melepas lelah dengan sang pria memeluk erat pinggang ramping wanita di depannya. Meski rasa lelah menyergapnya, tangan si pria tidak henti hentinya memainkan benda kembar milik wanita yang menjadi majikannya. Sang Wanita pun memilih diam, bahkan membiarkan dan menikmati perlakuan si pria yang menjabat sebagai supirnya.
"Non," panggil Rizal.
"Hum," sahut Miranda.
"Aku kan dua kali ngeluarin di dalam, kalau jadi benih di perut Non Miranda, gimana?" tanya Rizal sambil terus memainkan benda kembar Miranda.
"Ya nggak apa apa. Kenapa? Kamu takut?" balas Miranda tanpa menoleh.
"Rasa takut pasti ada lah, Non. Apalagi Non Miran sudah punya suami, bukannya aku nggak mau tanggung jawab. Aku nggak mau Non Miranda punya masalah besar," terang Rizal mengungkapkan kekhawatirannya.
Miranda mengulas senyum dan dia berbalik badan. Miranda telentang dan Rizal berbaring miring dengan tangan menopang kepalanya. Mereka saling tatap, Tangan Miranda bergerak dan menyentuh pipi Rizal dan mengusapnya lembut.
"Aku tahu ini beresiko tapi kalau gara gara ini aku menemukan bahagia, ya aku harus menghadapinya, Zal," balas Miranda tenang.
"Non Miran nggak bahagia?" tanya Rizal agak terkejut setelah mendengar apa yang Miranda katakan.
"Wanita mana yang bahagia jika selama menikah tidak pernah disentuh suaminya, Zal? Yang disentuh saja kadang mencari sentuhan pria lain, apa lagi kayak aku, Zal?" balas Miranda terdengar pilu. "Maka itu, aku bersyukur ketemu kamu, Zal."
Miranda bergerak membenamkan kepalanya di dada bidang si supir. Rizal pun tersentuh mendengarnya. Dia juga membalas pelukan Miranda dengan erat.
"Kita disini berapa hari, Non?" tanya Rizal setelah mencium pucuk kepala Miranda.
"Tiga hari, kenapa? Kurang?" balas Miranda.
"Kurang," balas Rizal sambil cengengesan. "Nanti kita nggak bisa kayak gini lagi kalau udah pulang."
Lagi lagi Miranda mengulas senyum. "Siapa bilang tidak bisa? Kita bisa melakukannya dimana pun, Zal."
"Yang benar, Non?" tanya Rizal memastikan.
"Ya benar lah, kita bisa main di kamarku, di hotel, di mobil, di kamar butiq. Dimanapun yang kamu mau," jawab Miranda dan seketika senyum Rizal terkembang lebih besar.
"Wah! Pasti seru tuh, di sini kita juga bisa main puas, kan?" Miranda mengiyakan dan Rizal semakin kegirangan. "Nanti kita coba main di dapur, di meja makan, di kamar mandi, di halaman halaman depan, di kamar tidur, pokoknya dimanapun ya, Non?"
"Kenapa kamu sangat menggemaskan sekali sih? Sini pipinya mendekat?" Rizal pun menyodorkan pipinya dan Miranda langsung menciumnya dalam dalam.
"Oh iya satu lagi," ucap Rizal mengingat sesuatu.
"Apa?" tanya Miranda setelah melepas pipi Rizal.
"Non Miran jangan main sama alat itu lagi, alat yang aku temukan di mobil kemarin itu, kan sekarang sudah ada aku," ucap Rizal. Miranda tergelak, bisa bisanya Rizal masih ingat hal itu.
"Oke, nanti kalau kita pulang, aku langsung buang alatnya," balas Miranda lembut.
"Dan satu lagi,"
"Apa?"
"Selama ada aku, punya Non Miran dilarang dimasukin punya pria lain loh, aku nggak rela. Selama aku ada di rumah Non Miran berarti lubang Non Miran itu hanya milik aku, nggak boleh dikasih ke orang lain," ujar Rizal terdengar begitu posesif. Miranda pun tergelak mendengarnya.
"Astaga! Ternyata kamu posesif juga, Zal, iya ini lubang khusus buat kamu," ucap Miranda disela sela tawanya.
"Beneran? Aku nggak mau berbagi lubang dengan pria lain," tanya Rizal memastikan.
"Iya, sayang. Lagian aku juga jijik dimasukin banyak orang. Emangnya aku wc umum?" balas Miranda. Rizal tentu saja sangat senang mendengarnya.
"Asyik, pokoknya lubang Non Miran, hanya milikku," tegas Rizal.
"Ya udah, mending kita sekarang mandi, terus keluar cari barang, yuk?" ajak Miranda.
"Mandinya sambil main ya, Non?" pinta Rizal.
"Iya, ayok."
"Siap!"
Dan mereka pun beranjak bergandengan menuju kamar mandi untuk melanjutkan ke permainan ronde ke tiga.
...@@@@@@...