
Setelah selesai melakukan pertemuan dengan pelanggan, Miranda segera kembali lagi menuju butiknya. Tentu saja, sang supir masih setia menenami sang majikan sekaligus teman ranjangnya. Karena begitu banyak pekerjaan yang harus di urus, terpaksa Miranda mengganjal perutnya dengan membeli pizza dari caffe yang tadi dia singgahi waktu bertemu dengan pelanggan.
Miranda menikmati pizzanya di dalam mobil karena perut yang memang sudah lapar. Miranda juga telaten menyuapi sang supir yang sama sama merasa lapar juga. Karena Rizal harus fokus mengendalikan mobilnya jadi dengan suka rela Miranda menyuapinya. Bahkan mereka sudah tak canggung lagi berbagi gigitan dan minum dalam satu botol yang sama.
"Kalau makan pizza begini, aku tuh jadi keingat sama adik aku. Tiap ada iklan Pizza selalu melototin tanpa berkedip," ucap Rizal disela sela mengunyah pizza yang baru saja dia gigit.
"Emang kenapa?" tanya Miranda juga sembari menguyah.
"Dia pengin makan pizza, tapi bagi kami orang kampung, pizza itu termasuk makanan mahal. Apalagi adanya cuma di kota, jadi adikku cuma bisa ngiler doang," ucap Rizal terdengar miris. Miranda pun menatap supirnya dengan pandangan yang susah diartikan. Di usapnya pipi sang supir dengan lembut.
"Adikmu masih sekolah?" tanya Miranda. Melihat Rizal yang mendadak terlihat sedih, Miranda juga ikutan terbawa suasana.
"Bentar lagi SMA, semoga dia nggak seperti kedua kakaknya, yang hanya sekolah sampe jenjang smp doang," jawab Rizal. Meski suaranya terdengar tenang tapi dadanya terasa sesak saat mengenang betapa Rizal juga ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, tapi apa daya, biaya tak mendukung keinginannya. Terpaksa dia mengikuti jejak kedua sahabatnya hanya bersekolah sampai bangku SMP.
Miranda mengulas senyum. Dia mengambil ponselnya dan entah apa yang dia lakukan karena tak lama kemudian dia kembali menyimpan ponselnya.
Ting
Ponsel Rizal berbunyi. Tanda ada pesan masuk dalam ponselnya. Rizal pun mengambil ponsel yang dia taruh di depan setir mobil. Mata Rizal seketika membelalak saat membaca isi pesan dan langsung menoleh.
"Non, ini ..."
"Buat beli pizza untuk adik kamu," ucap Miranda sembari mengumbar senyum.
"Tapi ini kebanyakan, Non," protes Rizal merasa tak enak.
"Ya sisanya buat biaya sekolah adik kamu nanti pas pendaftaran," balas Miranda santai.
"Non Miran jangan terlalu baik sama aku dong."
"Loh, kenapa? Masa dibaikin nggak mau?"
"Hahaha ... lucu kamu, Sayang. jangan mikir nggak enak atau apa."
"Ya kan aku takut, Non. Nanti banyak yang mikir kalau aku morotin harta Non Miran aja."
"Hahaha ... nggak bakalan ada yang tahu aku ngasih uang, Zal. Udah syukurin aja sih, rejeki adik kamu itu. Jangan lupa ibu dan bapak juga di bagi."
"Tapi aku nnggak bisa langsung kirim banyak, Non. Takutnya mereka curiga, masa kerja baru mau dua bulan tapi kirim uangnya banyak banget."
"Hahaha ... iya, terserah kamu aja."
"Makasih ya, Non."
"Iya, sayang. Dah nih, makan lagi pizza ya."
Dua sejoli itu sontak saling melempar senyum dan Rizal langsung menggigit Pizza yang disodorkan Miranda.
Sementara itu di sebuah apartemen. Seorang wanita dengan rakusnya menelan air putih nan kental yang baru saja disemburkan ke dalam mulutnya dari benda menegang seorang pria yang berdiri di sampingnya. Karena terlalu menikmati, lidah wanitu itu juga menjilat pucuk benda menegang hingga habis tak tersisa. Si wanita memandang nakal pria pemilik benda menegang yang sedang dia nikmati. Sedangkan si pria hanya geleng geleng kepala serta tersenyum senang karena merasa puas bermain dengan wanita cantik itu.
Setelah air putih itu habis tak tersisa, Rio meluruhkan tubuhnya kembali diatas sofa. Sedangkan Belinda, meringsek dan merebahkan kepalanya di paha Rio dan kembali memainkan benda menegang milik Rio dengan mulutnya.
"Doyan banget kamu, Bel? Punya aku enak yah?" tanya Rio sembari salah satu tangannya terulur dan meraih salah satu bukit kembar Belinda buat mainan.
"enak bangetlah, kalau nggak enak, mana doyan aku. Udah lama juga aku nggak mainin kayak gini," jawab Belinda jujur. Rio terkekeh sejenak. Dia tidak heran karena dia paham Belinda wanita seperti.
"Sekarang aku tahu alasan kamu mengejar supir adik kamu itu. Kenapa kamu tidak jebak aja supir adik kamu, Bel?"
"Jebak?"
...@@@@@...