
"Ku bayangkan ... bila engkau datang ... ku peluk, bahagiakan aku ... ku serahkan ... seluruh hidupku ... menjadi penjaga hatimu."
"Kamu lagi nyanyi apa sedang mengungkapkan isi hati kamu sih, Zal? Perasaan dari tadi aku dengar, menjiwai banget ngikutin lagunya?"
"Hehehe ... dua duanya boleh?" jawab Rizal sambil cengengesan. "Anggap aja aku lagi ngungkapin perasaan untuk Non Miran yang cantik, seksi dan menggemaskan."
"Dih! Gombal banget," cibir Miranda, tapi tangannya meraih tangan Rizal dan mencium punggung tangan pemuda itu dalam dalam.
"Dih! Udah berasa jadi suami istri aja pake cium tangan segela."
"Yah, anggap aja latihan. Kali aja kita beneran jadi suami istri."
"Aamiin."
Mereka sontak tertawa bersama. Sepanjang perjalanan pulang, memang sedari tadi suasana terasa hening. Maka itu, Rizal memilih memutar musik dan ikut nyanyi. Biar perjalanan yang cukup jauh tidak akan terasa melelahkan.
Hari ini Miranda dan Rizal memutuskan untuk pulang. Tentu saja, mereka pulang untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Terutama masalah Miranda dan Tomi. Miranda sudah sangat bertekad ingin mengakhiri rumah tangga yang sangat penuh dengan dusta.
Miranda sudah sangat bertekad. Tak peduli apa kata orang tuanya nanti. Jika memungkinkan, Miranda juga ingin mengungkap semua perselingkuhannya dengan Rizal dan akan menikah dengan pria itu.
Tapi yang menjadi kendala, bagaimana tanggapan orang tua Rizal? Biar bagaimanapun cara pandang orang kampung dan orang kota pasti banyak perbedaan. Apakah orang tua Rizal mau menerima Miranda, jika dia janda? Terus, bagaimana jika orang tua Rizal juga tahu tentang dirinya yang terlebih dulu menggoda Rizal, hingga terjebak dalam hubungan terlarang. Miranda sangat frustasi jika memikirkannya.
Terlihat disana, mobil memasuki rest area. Seperti biasa, Miranda dan Rizal akan berhenti disana untuk sekedar makan dan istirahat. Tentu saja, mereka melakukan itu semua diiringi candaan dan juga curhatan seputar masalah yang sedang mereka hadapi sambil menikmati hidangan yang ada.
Hampir menghabiskan waktu selama satu jam mereka di tempat itu, akhirnya mereka beranjak untuk melanjutkan perjalanannnya.
Sementara di kantornya, Tomi masih dilanda kecemasan dan ketakutan. Konsentrasi bekerjanya hilang gara gara masalah yang dia ciptakan sendiri. Kecemasan Tomi semakin bertambah saat mendapat kabar kalau orang tua dan mertuanya sedang dalam penerbangan menuju ke sini. Sudah bisa di tebak, apa yang akan terjadi.
Waktu berjalan begitu sangat cepat, hingga tak terasa Miranda telah sampai di ibu kota. Rencana awal, dia ingin menghindari Tomi dan tidur di butik. Tapi rencana berubah, Miranda tetap pulang ke rumah karena orang tua dan mertuanya akan datang.
Karena jarak tempuh yang cukup jauh, dan hari juga sudah gelap, Miranda memilih istirahat di dalam kamarnya. Begitu juga dengan Rizal. Rasa lelah yang bergelayut pada tubuh mereka, membuat mereka memilih tidur di kamarnya masinng masing.
Di sisi lain, Tomi pulang dengan perasaan yang masih kacau. Tapi begitu dia sampai rumah dan melihat mobil Miranda, Tomi bergegas turun dan masuk lalu menuju lantai atas.
Tak ada sahutan dari dalam. Miranda sedang terlelap dengan telinga terpasang headphone. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan Jogja hingga ibu kota membuat tidurnya lebih nyenyak. Bahkan gedoran pintu yang Tomi lakukan, tidak mempengaruhi tidurnya.
Tomi pun pasrah, dengan gontai dia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia mengerti, mungkin Miranda sedang lelah karena habis melakukan perjalanan jauh. Tomi memilih menunggu, yang penting dia ada kesempatan berbicara empat mata sebelum orang tua mereka sampai.
Hingga tengah malam tiba, Miranda terbangun karena perutnya mendadak mules. Segera dia bangkit dan beranjak ke toilet.
Setelah semua urusan dengan toilet selesai, Miranda memutuskan keluar kamar untuk minum. Biasanya dia sedia air minum di kamar, tapi karena tadi terlalu lelah, jadi Miranda tidak kepikiran.
"Kamu sudah bangun?" suara Tomi menghentikan langkah Miranda yang hendak menuruni anak panah.
"Sudah," jawab Miranda datar dan dingin. Dia lalu hendak melanjutkan langkahnya, tapi lagi lagi pertanyaan Tomi mengentikan langkahnya.
"Aku ingin ngomong sama kamu."
Miranda mendengus kesal. "Nggak ada yang perlu di omongin," jawab Miranda dan dia langsung turun ke lantai bawah.
Tomi tidak menyerah begitu saja, dia mengikuti Miranda turun. "Ran, plis, urungkan niat kamu."
Miranda tak peduli. Dia tetap diam dan mengambil air minum.
"Mir."
"Apa sih?"
"Kita harus bicara."
"Nggak ada yang harus kita bicarakan lagi."
"Ada! aku nggak mau kita cerai, atau kamu mau aku berbuat nekat pada orang tua kamu!"
...@@@@@@...