TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 77 (Iqbal)


"Apa mungkin ini memang sudah saatnya aku merasakan surga dunia itu? Kalau iya, baiklah. Toh dia yang nawarin, bukan aku yang minta," gumam Iqbal dalam hati sambil berdiri di depan pintu. Namun saat hati Iqbal sedang dalam dilema antara mau masuk ke dalam kamar atau tetap di luar, tiba tiba ada yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Iqbal sedikit terlonjak dan spontan menoleh.


"Non Aleta!" pekik Iqbal.


"Kamu ngapain di luar, Bal?" tanya Aleta dengan raut wajah heran.


Seketika rasa panik menjalar di tubuh Iqbal. "Waduh! Ada Aleta, bagaimana kalau dia salah paham ada Belinda di dalam?"


"Bal?" panggil Aleta lagi karena dari tadi Iqbal terdiam dan tak menjawab pertanyaannya.


"Habis minum, Non," jawab Iqbal gugup.


Namun saat Aleta hendak mengeluarkan suara, dia dikejutkan dengan seseorang yang dia kenal keluar dari kamar Iqbal. Begitu juga orang tersebut. Dia terkejut Aleta ada di sana.


"Belinda?"


"Aleta?"


Pekik mereka bersamaan.


"Kamu sama Iqbal abis pada ngapain?" tanya Aleta dengan tatapan menyelidik.


"Nggak ngapa ngapain, Non. Sumpah!" ucap Iqbal langsung.


"Kita cuma ngobrol, itu aja baru sebentar, eh kamu malah datang, gangguin aja," sungut Belinda merasa kesal karena rencananya gagal. "Kamu sendiri, ngapain malam-malam kesini?"


Kini gantian Aleta yang gelagapan. "Aku juga niatnya pengin ngobrol," kilahnya.


"Cih! Ngobrol," decih Belinda tak percaya.


"Nggak percaya juga nggak apa apa, nyatanya emang pengin ngobrol, bukannya kamu yang ada tujuan lain, yah?" sanggah Aleta sembari menuduh.


"Maaf ya Nona nona. Jujur aku ngantuk, aku harus tidur. Besok kerja. Kalau lagi nyetir terus terjadi apa apa karena ngantuk bagaimana?" ucap Iqbal guna menghentikan kakak adik itu agar berhenti berdedat dengan memberi alasan yang masuk akal biar kedua nona muda ini segera pergi juga.


Dan di saat itu pula, kamar sebelah Iqbal pun terbuka membuat ketiganya terperangah bersamaan.


"Ada apa sih ribut ribut?" tanya Mbak Inah dengan suara berat. Mbak Inah terbangun karena ada suara berisik di depan kamarnya. Dan tak jauh dari sana juga ada sepasang mata yang mengawasi mereka secara sembunyi sembunyi.


"Ini Mbak, Non Aleta dan Belinda pada ngajakin aku ngobrol," jawab Iqbal merasa tak enak karena membuat Mbak Inah terbangun.


"Ya udahlah mending aku balik ke kamar," ucap Belinda kesal. Dia segera beranjak. Bahkan dia sengaja menabrak bahu Aleta saat pergi. Setelah Belinda tak kelihatan, kini gantian Aleta yang pamit kembali ke kamarnnya.


"Lain kali hati hati, Bal. Agar kamu nggak dapat masalah," ucap Mbak Inah menasehati setelah semuanya pergi.


"Iya, Mbak. Makasih," tanpa menjawab, Mbak Inah langsung masuk ke kamar melanjutkan tidurnya.


Iqbal akhirnya merasa lega karena godaan telah pergi. Mungkin jika tidak ada Aleta, malam ini kebujangan Iqbal akan hilang. Walaupun mungkin sebenarnya sudah hilang tiap main sabun di toilet.


Iqbal hendak masuk ke dalam kamarnya, namun langkah kakinya terhenti dan dia berubah arah ke kamar mandi yang terletak di dekat kamarnya.


Tak butuh waktu lama, urusan di kamar mandi pun usai. Iqbal bergegas masuk ke kamarnya. Namun saat dia membuka pintu, tiba tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Lagi lagi Iqbal dibuat terkejut dan menoleh.


Non Karin!" pekik Iqbal pelan karena takut membangunkan Mbak Inah lagi. Iqbal segera membalikkan badan menghadap Karin.


Sebenarnya Karin berada disana dari tadi. Setelah beberapa jam menangis karena pertengkarannya dengan Sang Mamih membuat dia tak bisa tidur hingga dia memutuskan keluar kamar dan pergi menemui Iqbal.


"Non Karin kenapa?" tanya Iqbal lembut. Tapi Karin tak menjawab. Dia kembali memeluk Iqbal dan membenamkan kepalanya di dada bidang sang supir. "Kita masuk atau duduk di taman?"


"Masuk," balas Karin lirih.


"Baiklah," jawab Iqbal dan keduanya masuk.


Di dalam kamar, Karin masih betah memeluk Iqbal hingga iqbal dibuat resah. Sebagai laki laki, tentu Iqbal merasa senang diperlakukan seperti ini. Dipeluk erat oleh seorang perempuan yang selama ini hanya bisa Iqbal khayalkan.


Awalnya tangan Iqbal tak merespon dan tetap menggantung ke bawah. Namun naluri laki lakinya mendorong dia untuk memeluk balik wanita yang memeluknya. Akhirnya Iqbal pun menggerakkan tangannya dan membalas pelukan Karin.


"Non Karin, kenapa? Kok dari tadi diam aja?" tanya Iqbal lagi. Dia merasa wanita yang sedang memeluknya sedang tidak baik baik saja. Merasa tak ada jawaban, Iqbal pun tak lagi bertanya.


Setelah beberapa saat hening melanda, Iqbal dibuat terkejut saat Karin berkata, "Aku tidur bareng kamu di sini ya, Bal?"


Deg!


...@@@@@...


Yang pengin baca karyaku no sensor, yuk kelapak sebelah, gratis loh, di lapak ber logo F ya?