
Seorang wanita duduk dan menunduk sembari cemberut. Kedua matanya lurus menatap jari lentik kakinya yang sengaja dikeluarkan dari sepatu. Di sebelahnya seorang pria yang selalu setia menenami wanita itu menatap ke arah lalu lalang mobil di ruas jalan.
"Kenapa susah sekali cari kerja yah?" keluh si wanita. Tangannya mengguncang guncang minuman dingin dalam cup berwarna mocca.
"Hari gini nyari kerja memang susah, Non. Makanya aku bersyukur di terima kerja di tempat Non Karin," ucap Iqbal terdengar ceria. Karin menoleh, menatap supir tampannya.
"Dan sekarang aku malah ketergantungan sama kamu, menyebalkan," umpat Karin, tapi disambut gelak tawa oleh Iqbal.
"Hahaha ... masih ingat pas pertama kali lihat Non Karin, jutek banget. Bawaannya kayak nantangin gitu. Eh sekarang, kalau tidur nempel terus. Mana aku nggak boleh pake celana lagi kalau kita tidur bareng," ungkap Iqbal antara senang dan tak percaya, mengenang apa yang telah mereka lewati bersama.
"Tapi kan kamu juga menyukainya, Bal," ujar Karin membela diri.
"Iya, aku menyukainya, sangat suka malah. Tapi kan nggak nyangka aja sama perubahan sikap Non Karin dari awal kenal sampai sekarang. Apa lagi kalau lagi main di ranjang, aku tuh sampai saat ini masih kayak mimpi gitu," ungkap Iqbal. Setelah itu dia menyesap es yang sama dengan yang Karin pegang.
"Bal, jika papi sama mami tahu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Karin sambil menggeser duduknya hingga menempel pada tubuh Iqbal.
"Kalau aku sih sudah siap resikonya, Non. Kan dari awal memang aku yang salah. Tapi aku tidak menyesal karena selama bersamaku, Non Karin terlihat bahagia. Kalau nanti ketahuan, kita bertindak terlalu jauh, Non Karin diam saja, biar aku yang ngomong sama Tuan Martin," ucap Iqbal mencoba tenang meski hatinya juga merasa takut. Tapi mau bagaimana lagi, ini resiko yang harus dihadapi suatu saat nanti.
"Pasti nanti kita dipisahkan, Bal. Mereka semakin nggak percaya sama aku dan entah hal buruk apa yang akan terjadi jika nggak ada kamu," cicit Karin terdengar sedih.
"Kalau Non Karin di usir dari rumah, aku akan minta Tuan Martin nikahin kita. Daripada Non Karin disia siain keluarga sendiri. Tapi, Non Karin mau hidup susah dengan saya nggak?"
"Ini aja aku sedang belajar hidup susah, Bal, dengan kabur dari rumah."
"Ah iya, Hahaha ..."
"Dih! Malah ketawa."
Sementara itu di tempat lain, dua manusia berbeda jenis nampak memasuki sebuah apartemen.
"Bisa aja kamu Rio, tapi gubugmu bagus juga. Terlihat sederhana tapi nyaman," ucap Belinda sambil matanya menelisik ke segala penjuru ruangan apartemen.
"Bentar yah, aku mau ambil minuman, kamu duduk aja dulu," ucap Rio terus beranjak menuju keruang sebelah dimana letak lemari pendingin berada. Di raihnya dua botol minuman segar tanpa alkohol dan dibawany ke tempat dimana Belinda berada.
"Berarti kamu susah dong, kalau mau keluar rumah?" tanya Rio begitu sampai dan menyerahkan satu botol minuman ke Belinda.
"Yah seperti yang aku ceritakan di Mobil tadi, maka itu aku kejam sama adik aku sendiri. Kalau orang tua nggak adil, wajar dong anaknya berontak," ucap Belinda sembari membuka penutup botol dan menenggak isinya.
"Terus apa hubungannya dengan supir kamu?" tanya Rio, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Belinda lakukan.
"Dari situ terlihat sekali ketidak adilannya. Aku dikasih supir yang tua umur empat puluhan, lah adikku dikasih supir yang muda dan tampan, eh giliran minta tukeran sehari saja, adikku malah kabur, apa nggak nyebelin," ucap Belinda bersungut sungut.
"Hahaha ... sehebat apa sih supirmu itu? Sepertinya kamu sangat tertarik banget?" selidik Rio sembari duduknya bergeser agak dekat dengan Belinda.
"Menurut aku sih, dimata aku sebagai cewek, supirku tuh terkesan nakal, dilihat dari penampilannya, dia sedikit urakan, tapi kadang kalem. Misterius lah pokoknya. Dan aku tertantang untuk menaklukannya," balas Belinda terlihat yakin dan berapi api. Rio sejenak manggut manggut.
"Kamu kan anak majikannya, harusnya kamu punya kuasa lebih dong buat mengendalikannya?"
"Harusnya, tapi kan kamu tadi dengar sendiri apa yang aku ceritakan."
"Iya sih, orang tua kamu aneh, harusnya adil gitu dengan anaknya. Bukan berat sebelah, wajar jika sang anak saling membenci."
"Nah, kan? Tapi orang tuaku nggak mikir kesana."
"Hahaha ... nasib kamu, Bel."
...@@@@@...