
"Kalian yakin mau berkerja di kantor Tuan Tomi?"
"Yakinlah, biar masa depan lebih cerah dan pastinya akan terlihat semakin keren kalau kerja kantoran."
"Sayangnya itu hanya akal bulus Tuan Tomi saja agar kalian bisa jadi teman ranjangnya."
"Apa?" tanya Jamal dan Iqbal hampir bersamaan.
"Kamu jangan ngada ngada deh, Zal?" protes Iqbal.
"Iya, kamu ingin menghalangi kita menjadi orang kantoran dan sukses?" tuduh Jamal.
Rizal hanya menyeringai mendengar tuduhan kedua sahabatnya. Bagaimana bisa mereka seenak itu menuduhnya? Tapi Rizal tidak akan marah karena kedua temannya memang tidak tahu saja modus yang Tomi lakukan.
"Kalian lupa dia siapa? Dan kenapa aku bisa berkata seperti itu? Ya karena aku tahu banyak. Kalian lupa dengan apa yang aku ceritakan tadi?" tanya Rizal bertubi tubi. Iqbal dan Jamal seketika terkesiap. Mereka melupakan fakta kalau Tomi adalah majikan Rizal. Bagaimana mereka bisa secepat itu melupakannya?
"Aku pernah di posisi kalian, aku pernah diiming-imingi gaji dua puluh juta perbulan, tapi ketika aku mendengar faktanya dari Miranda, aku ngeri lah. Kalau kalian mau jadi laki laki pemuasnya, ya silakan diterima, yang penting aku sudah peringatin," ucap Rizal panjang lebar dan dia merasa kesal saat ini.
"Masa iya dia begitu?" tanya Iqbal ragu.
"Kalau bukan karena Miranda, aku udah undur diri jadi supirnya. Dulu tuh di rumah majikanku supirnya ganti ganti hampir sebulan sekali, ya karena itu supir lama tergiur uang gede dan ujung ujungnya Tuan Tomi ngasih syarat," terang Rizal sedikit ketus.
"Masa sih, Zal?" tanya Jamal terperangah dan Rizal mengangguk. "Gila, gila! hih!"
"Entar dulu, berarti laki laki tadi teman kencannya dong?" ungkap Iqbal.
"Bisa jadi," jawab Rizal.
"Padahal dia laki laki normal loh," ucap Jamal.
"Sok tahu! Belum tentu," sanggah Rizal.
"Iya, belum tentu, Mal. Tuh, lihat saja Tomi, kelihatannnya normal kan? Ganteng dan badannya kekar gitu? Eh tahunya pisang makan pisang," cibir Iqbal. Jamal hanya tersenyum tipis mendengar tuduhan kedua sahabatnya.
"Hah!" pekik Rizal dan Iqbal hampir bersamaan.
"Yang bener kamu, Mal?" tanya Rizal tak percaya.
"Ya benerlah, dia itu di skorsing gara gara berkelahi denganku dan dia sudah mutar balikkan fakta waktu Tomi cerita tadi. Dia yang selingkuh sama mamahnya Selin eh malah nuduh Selin yang selingkuh, karena perkelahian itu juga, semua kampus tahu, kalau dia tuh kucing, alias simpenan orang orang demi mendapat uang banyak dan hidup enak."
Sontak Iqbal dan Rizal seketika terperangah mendengarnya. Agak tidak percaya tapi mereka yakin Jamal tidak bohong. Jamal bukan tipe orang yang suka ngarang cerita.
"Gila! gila! Kok kelakuannya pada aneh aneh ya?" ucap Iqbal sembari geleng geleng.
"Ya begitulah," balas Jamal. Sejenak mereka terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka masing masing.
"Keasyikan ngobrol sampe nggak ngerasa lapar begini, cari makan yuk?" ucap Iqbal.
"Yuk ah," dan ketiganya tannpa berdebat langsung mencari makanan. Mereka tidak sampai keluar area wisata karena di dalam sana banyak pedagang makanan menyebar. Walaupun harganya mungkin lebih mahal, tapi mereka tidak peduli karena masih ada beberapa wahana yang ingin mereka coba. Toh mereka dikasih libur sampai jam sembilan malam, jadi masih banyak waktu.
Tapi dasar yang namanya anak kampung. Ditempat wisata seperti itu, mereka tetap menjatuhkan pilihan makan nasi campur di sebuah warteg. Bukan burger, pizza, atau makanan kekinian lainnya. Bagi mereka mending makan yang mengenyangkan sekalian. Toh, makanan kekinian sudah sering mereka makan jika bareng majikan majikan mereka. Dan juga makan di warteg itu tidak perlu menunggu lama. Cukup tunjuk lauk apa udah sedia dan siap santap.
Mereka terlihat sangat menikmati hidangan yang mereka pesan. Mungkin karena rasa lapar yang berlebih jadi makanan sungguh terasa lebih nikmat.
Puas menyantap makanan hingga habis tak tersisa. Mereka memilih melanjutkan bermain di wahana lainnya. Tentunya yang lebih menantang dan memacu adrenalin mereka. Hingga tak terasa waktu sudah menuju senja. Kembali mereka mencari tempat duduk buat istirahat.
"Gila! Hampir saja tadi aku muntah," ungkap Iqbal.
"Sama, aku juga, pusing banget diputar putar kayak gitu," timpal Rizal.
"Hahaha ... dapat ide darimana ya itu yang bikin permainan?" tanya Jamal. Dan pastinya tak ada yang bisa jawab.
Saat mereka sedang asyik terbahak, tiba tiba suara tawa mereka mendadak terhenti saat ada suara memanggil salah satu dari mereka. Dan mereka pun menoleh.
@@@@@