TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 175


Bahagia. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan suasana hati Tomi saat ini. Bagaimana tidak bahagia? Langkahnya untuk membuat pria tampan dengan tubuh bertebaran tato sedikit lagi akan masuk perangkapnya. Menggunakan alasan yang sama yaitu dengan memberi pekerjaan yang bagus, Tomi akan perlahan menjerat Candra agar bisa menikmatinya. disamping Tomi juga masih berharap agar bisa menjerat Rizal.


Bagi Tomi, Rizal adalah sasaran utama. Sikap Rizal yang sangat susah ditaklukkan membuat Tomi semakin penasaran dan merasa tertantang untuk menaklukannya. Mungkin kalau Rizal mudah ditaklukan, Tomi tidak akan sefrustasi ini. Dia bahkan sampai membayar orang lain untuk mengawasi Rizal dan Miranda.


Sebenarnya Tomi berharap Miranda dan Rizal beneran selingkuh agar dia mempunyai bukti yang cukup kuat untuk mengancam Rizal. Tomi yakin dengan mengancam Rizal, dia bisa membuat supir tampan itu bertekuk lutut dan mau melayaninya.


Sekarang Candra telah pergi untuk melanjutkan tugasnya dan Tomi juga melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Sementara di tempat lain, seperti biasa, Rizal lagi asyik main game saat Miranda datang menghampirinya.


"Game mulu yang dimainan," protes Miranda secara tiba tiba hingga Rizal merasa sedikit terkejut.


"Ya abis dari pada bengong, mending main game, Non. Mainin Non Miranda juga paling bisanya malam," ucap Rizal asal sambil cengengesan dengan mata masih menatap benda pipih di tangannya.


"Dih, bisa aja kalau ngomong," balas Miranda sambil menyeduh kopi bubuk dalam kemasan yang baru saja dia tuang ke dalam cangkir. "Sepertinya kita akan bulan madu lagi deh, Zal."


Mendengar kata bulan madu, sontak Rizal menghentikan main game nya dan beralih menatap ke arah Miranda.


"Bulan madu? Yang benar, Non?" Miranda mengangguk. "Yes! akhirnya."


Dahi Miranda berkerut meski ada sedikit senyum saat melihat ekspresi Rizal yang sangat girang mendengar rencana bulan madu.


"Dih, kayak seneng banget gitu," cibir Miranda.


"Seneng, dong. bisa terus terusan tidur dengan Non Miran tanpa ada gangguan," ungkap Rizal. Wajahnya benar benar penuh kegembiraaan.


"Berarti kamu sudah siap kalau kita ketahuan oleh Tomi?" tanya Miranda dan seketika binar kegembiraan itu meredup. Miranda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Emangnya Non Miran sudah siap jika Tuan Tomi tahu?" kini pertanyaan tersebut malah dilempar balik oleh Rizal. Lagi lagi Miranda tersenyum lalu mengambil cangkir kopinya dan duduk di sofa yang sama yang Rizal duduki.


"Aku sih pasti mau tanggung jawab Non, biar bagaimana pun aku juga salah. Tapi kalau ketahuan, kita pasti bakalan dipisahin, itu yang membuat aku nggak siap, Non. Belum lagi aku juga bakalan kehilangan pekerjaan."


Miranda menepuk punggung Rizal beberapa kali. ucapan Rizal membuat Miranda merasa bersalah juga. Biar bagaimana pun dialah yang menggoda pemuda kampung tersebut. Bukannya Miranda tidak menyesal, tapi semua sudah terjadi. Kalau ketahuan maka memang dia yang paling besar tanggung jawabnya. Rizal hanya korban dari keinginan dia yang sudah tak bisa dibendung lagi.


"Jangan terlalu bersedih, kalaupun nanti kita berpisah, aku tidak akan pernah melupakan kamu kok, Zal," ucap Miranda mencoba memberi ketenangan pada supir tampannya.


"Tapi nanti Non Miran tidak bahagia jika terus hidup bareng Tuan Tomi. Aku juga nggak rela jika Non Miran nanti cari pelampiasan dengan pria lain," sontak Miranda terkekeh melihat ekspresi Rizal yang menggemaskan. Dia juga terharu melihat kepedulian Rizal tentang kebahagiaannya.


"Terus, mau kamu bagaimana? Kita menikah, gitu?"


"Inginnya sih gitu, Non. Kita Nikah terus punya anak yang lucu. Tapi aku miskin loh, Non. Uang aja aku dapat dari Non Miran."


"Tidak semua kebahagiaan diukur dengan uang, Rizal. Ya walaupun pada kenyataannya uang juga sangat mendukung kebahagiaan. Tapi kamu bisa belajar dari aku dan Tomi. Kami sama sama memiliki uang, tapi kami tidak bahagia."


Miranda dan Rizal saling tatap, tangan mereka juga saling bertautan. Keduanya mencoba sama sama memberi kekuatan.


"Non, seandainya kita menikah, apa nanti orang tua Non Miran merestui? Meski Non Miran tidak memandang aku kaya atau miskin, tapi tetap ada pihak yang memiliki peluang besar untuk memisahkan kita."


"Yah, berharap aja aku hamil, Zal. Kali aja orang tuaku merestui. Apalagi aku kan anak satu satunya."


"Wah! Beneran, Non? Kalau Non Miran hamil, kita akan berpeluang besar dapat restu?" Miranda mengangguk. "Baiklah, aku akan usaha lebih keras lagi agar cepat menghasilkan anak dalam perut Non Miran."


"Astaga!"


...@@@@@@...