TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 83 (Rizal)


"Non Miran!" pekik Rizal setelah tahu siapa yang memeluknya dari belakang.


"Kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Miranda sedikit mendongak menatap Risal yang memang lebih tinggi darinya.


"Ya kaget lah, Non. Tiba-tiba ada yang memeluk gini," ucap Rizal agak gugup. "bisa lepasin nggak, Non?"


"Kenapa minta di lepas?" tanya Miranda yang justru semakin kencang memeluknya.


"Non nggak jijik? Keringatnya banyak ini loh, mana bau lagi," Miranda bukanya melepas pelukannya namun dia malah mengendus punggung Rizal.


"Nggak bau kok, segar malah," balas Miran sambil mengendus kembali punggung Rizal. Pemuda itu pun hanya menggelengkan kepala.


"Ya udah, aku mau ambil air minum dulu, Non, Haus."


"Itu, udah aku siapin," ucap Miranda sambil menunjuk segelas gede air jeruk segar. Tentu saja air itu sudah dicampur obat perangsang yang Miranda bawa. Sengaja Miranda memberi obat perangsang sepagi ini, karena penasaran dan tidak sabar melihat hasilnya.


Miranda melepas pelukanya dan membiarkan Rizal mengambil air minum yang telah dia sediakan di atas meja tak jauh dari tempat mereka berada. Rizal duduk disana dan meminum airnya, Miranda duduk di kursi yang satunya.


Lagi-lagi mata Rizal disuguhi dengan tubuh seksi majikannya yang terbungkus lingeri. Rizal hanya bisa menikmatinya dengan cara mencuri pandang saat Miranda mengajak ngobrol. Sesuatu yang bersembunyi di dalam celana Rizal perlahan mengeras karena memandangi tubuh indah yang terbungkus lingeri merah itu dan juga pengaruh obat yang nampaknya sudah bekerja.


Miranda yang penasaran obatnya bekerja atau tidak, berinisiatif pindah tempat duduk ke pangkuan Rizal.


"Non!" pekik Rizal kaget. Dalam diri Rizal sudah ada sesuatu yang bergejolak, namun dimata Miranda, Rizal masih bersikap biasa saja.


"Aku hanya ingin cium kamu, Rizal?" ucap Miranda genit membuat Rizal melebarkan senyummya. Tanpa menunggu persetujuan, Miranda langsung menyerang bibir Rizal dan mereka pun berpagut. Bahkan ciuman itu pun terasa lebih panas karena lumayan lama.


"Zal?" panggil Miranda saat bibir mereka terlepas.


"Apa?" balas Rizal, suaranya agak berat.


"Kamu nggak pengin meraba tubuhku?" tanya Miranda.


Rizal sontak tersenyum dan berkata, "Emang boleh, Non?"


Miranda bukannya menjawab, dia tersenyum sumringah. Miranda meraih kedua tangan Rizal dan meletakkannya di bukit kembarnya.


"Non!"


"Kenapa?"


"Ini?"


"Pegang aja, Zal. Mainkan sesukamu."


Wajah terkejut Rizal beruabah menjadi wajah canggung namun senang. Dengan ragu Rizal memijat pelan benda kembar nan kenyal yang terbungkus lingeri itu. Tubuh Miranda seketika langsung meliuk liuk keenakan dengan pijatan tangan Rizal dikedua bukit kembarnya. Miranda yakin obatnya sudah bekerja.


"Suka nggak, Zal?"


"Suka, Non. Ini sangat bagus, kenyal sekali," balas Rizal, "Non, boleh di makan nggak?"


"Tapi ini masih dibungkus, Non."


Miranda langsung melepas tali bagian atas dan punggungnya hingga lingeri itu jatuh kepangkuan Rizal. Mata Rizal semakin terpana memandang dada Miranda. bibirnya langsung maju dan menyesap pucuk bukit seperti bayi. Satu persatu pucuk bukit Miranda, Rizal lahap. Miranda yakin sekarang efek obatnya bekerja dengan baik. Bahkan Rizal masih kelihatan sadar. Senyum Miranda sontak merekah saat mata Miranda melihat Rizal begitu rakus menikmati bukit kembarnya


"Zal, gantian yah?" pinta Miranda setelah beberapa menit Rizal dengan rakus menikmati bukit kembarnya.


"Gantian ngapain, Non?" tanya Rizal bingung.


Miranda tak langsung menjawab, tapi dia berdiri kemudian berjongkok dan tangannya mengusap celana Rizal.


"Non Miranda mau ngapain?"


"Mau lihat punya kamu, Zal."


Awalnya Rizal kaget dan menolak namun akhirnya dia pasrah saja karena sudah terbakar gejolak. Bahkan miliknya di dalam sana sudah dipastikan menegang sempurna.


Miranda membuka resleting celana pendek Rizal kemudian dia melepaskannya sekaligus dengan boxer yang Rizal pakai. Miranda terpana melihat ukuran milik Rizal lumayan besar.


"Itu kotor, Non, bau keringat," tapi Miranda tidak peduli. Di ingin segera praktek seperti di dalam vidoe yang sering dia tonton. Rizal hanya pasrah saat tangan dan mulut Miranda mulai bermain dengan benda miliknya yang telah menegang. Kedua manusia tersebut benar-benar merasakan kenikmatan yang baru mereka rasakan untuk pertama kali.


Permainan mulut Miranda yang begitu nikmat membuat benda milik Rizal ingin segera mengeluarkan isinya. Tanpa menunggu ab aba, menyemburlah air putih nan kental membasahi mulut Miranda.


"Enak, Zal?"


"Enak banget, Non."


Mereka pun saling tersenyum.


Miranda bangkit. Tangannya melepas tali lingerie yang masih terikat di pinggangnya hingga saat semuanya terlepas, mata Rizal membelalak. Miranda kembali duduk dipangkuan Rizal.


"Punya kamu pernah masuk ke dalam sini nggak, Zal?" tanya Miranda sambil mengusap usap miliknya.


"Belum pernah, Non," jawab Rizal jujur.


"Sekarang mau nggak masukin sini?"


"Emang boleh, Non?"


"Boleh, Sayang."


"Masukin disini apa di kamar, Non?"


"Sini aja, aman kok. Kamu ambal karpet depan tv itu yah? Bawa sini."


Rizal pun menganguk kemudian keduanya berdiri. Sembari menunggu Rizal mengambil karpet, Miranda terus mengusap dan memijat miliknya buat persiapan untuk pertama kali miliknya akan dimasuki punya seorang pria.


...@@@@@...