TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 100 (Rizal)


Bali memang pulau yang memiliki sejuta pesona. Dari model alam hingga budaya, Bali mempunyai magnet yang kuat, yang mampu menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia untuk mengunjungi pulau impian ini. Bukan hanya warga lokal, banyak warga luar negeri yang memimpikan bisa memiliki kesempatan ke pulau yang dikenal dengan sebutan dewata ini.


Seperti pemuda desa bernama Rizal, dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk mengungjungi pulau indah nan megah ini. Pulau yang dulu hanya bisa dia impikan, kini beberapa tempat dari pulau ini sudah dia sambangi.


Tentu saja semua itu terwujud berkat majikan cantiknya yang baik hati. Sungguh keberuntungan yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Belum genap satu bulan bekerja, dia sudah mendapat begitu banyak dari majikannya yang bernama Miranda. Dari pakaian hingga mahkota Miranda.


Sungguh dia tidak pernah menyangka akan merasakan nikmatnya mahkota wanita. Wanita tanpa mahkota juga nikmat, apalagi mendapat kesempatan wanita dengan mahkota yang masih utuh, sungguh kesempatan yang luar biasa bukan?


Setelah melanglang buana ke berbagai tempat, akhirnya Rizal dan Miranda pulang ke Villanya dalam keadaan sudah petang. Tentu saja, selain lelah, bahagia juga menyertai mereka. Sepanjang hari ini, mereka menikmati suasana seperti sepasang kekasih bukan seperti supir dan majikannya.


Begitu sampai Villa, Rizal langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berhadapan dengan televisi berlayar lebar. Sedangkan Miranda, dia lagi menaruh makanan yang dia beli ke dalam kulkas guna buat sarapan esok hari. Setelah selesai, Miranda langsung menyusul Rizal.


"Nggak mandi, Zal?" tanya Miranda begitu sampai dan dia duduk ditepi sofa tempat Rizal berbaring.


"Nanti lah, Non, masih capek," balas Rizal setelah membuka matanya dan menatap wajah Miranda.


"Berbaring di kamar aja langsung. Entar ketiduran di sini loh," saran Miranda sambil mengusap pipi Rizal.


"Temenin, Non Miran, ya?" dan Miranda mengangguk. Rizal tersenyum senang terus dia langsung bangkit. Keduanya beranjak menuju kamar dengan bergandengan tangan. Mereka masuk ke dalam kamar yang sama karena sesuai kesepakatan, malam ini mereka akan tidur bareng.


"Nggak ganti baju dulu?" tanya Miranda begitu sampai kamar dan melihat Rizal langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Enggaklah, nanti aja," balas Rizal malas. Miranda hanya menggelengkan kepala.


Miranda berencana akan mandi. Tanpa canggung dia melepas semua pakaiannya dihadapan Rizal. Pemuda itu memandang Miranda tanpa berkedip. Tubuh mulus nan putih Miranda sungguh sangat menggiurkan. Begitu Miranda terlihat tanpa menggunakan apa-apa, Rizal bangkit dan menarik tangan Miranda.


"Rizal! Kamu mau ngapain?" tanya Miranda kaget saat Rizal menarik tangannya.


"Temenin bobo," balas Rizal sembari membaringkan tubuh.


"Tapi aku mau mandi, Zal. Badanku bau, lengket ini," tolak Miranda.


"Astaga! Manja banget supirku ini, mentang mentang ganteng," balas Miranda akhirnya pasrah.


Miranda berbaring menghadap Rizal dan pemuda itu menurunkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan bukit kembar milik Miranda. Tanpa aba-aba sebelumnya, Rizal langsung saja menyedot pucuk bukit seperti bayi kehausan.


Selain menikmati bukit kembar, jari tangan Rizal juga menempel dan mangusap lubang nikmat Miranda hingga wanita itu beberapa kali melenguh.


"Katanya mau istirahat, Sayang?" tanya Miranda yang hassratnya perlahan mulai naik akibat sentuhan yang di lakukan Rizal.


"Ini kan lagi istirahat, Non," balas Rizal tanpa menatap Miranda. Dia terlalu fokus dengan kegiatannya.


"Terus kenapa tangannnya nakal banget sih? Nanti aku pengin gimana? Kan kamu lagi capek?" keluh Miranda.


"Kalau untuk masuk ke sini aku nggak akan pernah capek, Non," balas Rizal tanpa menghentikan permainan jarinya. "Kalau dimasukin lagi, sakit nggak, Non? Soalnya tadi pagi udah tiga kali, Kan?"


"Tadi sih pas abis mandi terasa nyeri, tapi sekarang enggak tuh, dimainin jari kamu juga enak aja," balas Miranda.


"Ya aku masukin lagi ya, Non? Abis itu kita mandi bareng?" ajak Rizal.


"Baiklah,"


Rizal pun langsung bangkit dan melepas pakaiannya.


"zal, aku pengin makan punya kamu," pinta Miranda begitu melihat tubuh Rizal yang sudah polos.


"Baiklah, tapi Non Miran diatasku ya? Aku juga pengin makan punya Non Miran soalnya," balas Rizal dan Miranda langsung setuju.


Rizal seketik berbaring dan Miranda merangangkak di atasnya. Dengan lahap Miranda menikmati milik Rizal yang masih kotor dan bau keringat. Begitu juga dengan Rizal. Dia sangat menikmati hidangan yang bertengger di atas wajahnya.


...@@@@@...