
"Mana anak anak kurang ajar itu?" suara Martin menggelegar memenuhi ruangan, dengan penuh amarah. Sungguh dibalik amarah yang Martin tunjukkan, ada berjuta kekecewaan di dalam hatinya. Martin tidak menyangka anak anaknya akan mencuranginya dan berbuat sejauh itu.
Rasa bahagia Martin runtuh seketika saat mendapat kiriman pesan berupa video hasil rekaman Iqbal. Sungguh Martin tidak menyangka kepercayaan yang baru saja dia berikan kepada dua putrinya, malah disalah gunakan untuk hal yang sangat diluar batas.
Martin tidak menyangka, Belinda dan Aleta akan berbuat sejauh itu kepada adiknya sendiri. Sungguh, Martin merasa telah gagal menjadi seorang ayah. Padahal dia selalu berusaha menjadi Ayah yang baik, tapi entah kenapa, anak anaknya malah saling serang dan saling menghancurkan.
Kecewa dan hancur, juga dirasakan oleh sang istri, Amanda. Mereka juga tidak percaya, rengekan Belinda dan Aleta yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Karin, ternyata hanya tipu muslihat belaka. Mereka tega bersandiwara agar Amanda memberi ijin dan membiarkan mereka pergi bersama Karin. Nyatanya selain rencana jahat, Aleta dan Belinda juga membawa laki laki untuk membantu aksi jahatnya.
Begitu mendapat laporan dari Iqbal, Martin dan Amanda langsung meluncur ke tempat kejadian, dimana tempat itu adalah Villa pribadinya. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dengan kecepatan yang lumayan tinggi, kini mereka berdua telah sampai di Villa, diman anak anaknya berada.
Iqbal yang mendengar suara Tuan Martin datang, sontak masuk menuju ruang utama.
"Karin!" pekik Amanda saat melihat anak bungsunya tergolek diatas sofa. Direngkuhnya tubuh Karin ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah. "Maafkan Mami, Sayang. Maafkan Mami."
Sementara di dalam kamar. Kepanikan melanda ke empat orang yang ada disana. Begitu suara Martin menggelegar, wajah Belinda dan Aleta sontak panik. Begitu juga dengan dua pria bersama mereka.
"Ah, sial! Bagaimana bisa orang tua kalian datang kesini? Katanya mereka nggak mungkin bakalan datang?" sungut Rio merasa sangat kesal.
"Aku juga nggak tahu, aku pikir Iqbal hanya menggertak saja," balas Belinda tak kalah kesal.
"Apa mungkin supir itu sudah mengadu semuanya ke orang tua kamu? Ah, sial! Bisa sampai urusan sama polisi ini," sungut Candra.
"Tidak, tidak mungkin Papi tega melaporkan kami ke polisi? Biar bagaimana pun juga dia orang tua kami," balas Aleta.
"Bisa aja adik kalian yang lapor, dia pasti tidak terima dengan perbuatan kalian," ucap Rio. Sontak saja Belinda dan Aleta semakin panik.
Sementara diluar kamar, suasana juga sangat menegangkan. Iqbal yang baru datang dari belakang juga nampak khawatir saat melihat amarah Tuan Martin.
"Mana anak anak kurang ajar itu, Iqbal?" tanya Martin dingin.
"Di kamar itu, Tuan," tunjuk Iqbal.
"Mereka satu kamar?" tanya Martin dengan nada tinggi.
"Terpaksa, Tuan. Tadi mereka menyerang saya, untung saya bisa membela diri. Daripada mereka dipisah, mending saya kurung dalam satu kamar. Lagian saya khawatir dengan Non Karin. Bahkan dia belum sadar saat Tuan datang," jawab Iqbal tenang.
"Baik, Tuan," balas Iqbal. Dia segera saja menuju ke arah kamar dimana ke empat tersangka berada.
Begitu pintu terbuka, Iqbal memerintahkan Belinda dan yang lainnya keluar dari kamar menghadap Tuan Martin.
Ke empat orang itu keluar dengan wajah yang begitu panik. Mereka tidak berani mendongak dan membalas tatapan tajam Tuan Martin.
"Apa yang kalian lakukan pada Karin? Hah!" bentak Martin hingga membuat keempatnya gusar dan ketakutan.
"Kami nggak melaku ..."
"Jangan bohong!" bentak Martin hingga Belinda terjengat. Belinda hendak menyangkal, tapi ucapannya segera dipotong oleh sang Ayah.
"Kami tidak bohong, Pi. Kami nggak tahu kenapa Karin tiba tiba sadarkan diri," kilah Belinda dengan lancar dan lantang.
"Apa karena kamu sudah terbiasa berbohong? Hingga ucapan kamu selancar itu untuk menyangkalnya?" Belinda terkesiap mendengar sang ayah memojokkannya.
"Siapa yang berbohong, Pi? Memang begitu adanya," Bela Aleta.
Martin dan Amanda tercengang mendengar pembelaan kedua putrinya. Mereka tidak menyangka kalau kedua anaknya kompak berbohong dengan sangat baiknya.
"Baiklah, kalau kalian tidak mau mengakui, biar video rekaman yang perbuatan kalian berempat Papi serahkan ke polisi."
Kini gantian Belinda dan ketiga komplotannya yang terkesiap. Wajahnya makin panik dengan ancaman Martin. Mereka terbungkam, tidak ada penyangkalan lagi dari kedua anaknya.
"Apa mungkin dosis obat tidurnya sangat tinggi, Pi? Mami takut Karin kenapa kenapa," rintih Amanda dengan air mata yang masih deras mengalir.
"Kalau sudah begini, Mami nggak bisa apa apa kan? Coba kalau Mami jadi memecat Iqbal, apa mungkin, Karin malam ini akan selamat?" sungut Martin dengan tajam, hingga Iqbal terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Iqbal mau dipecat, Mi?" tiba tiba Karin bertanya.
...@@@@@@...